The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Lima Bersaudara - Part 3


__ADS_3

Di waktu yang sama. 


Brak! ... Rain membanting pintu kamarnya dengan sangat keras. Sejak bertemu William Rain memutuskan kembali ke kamarnya.


"K-kenapa? … kenapa aku perasaan ini muncul? Mengapa?" terlihat di wajahnya, Rain tampak sangat kesakitan. 


Tidak ada luka apapun di tubuhnya. Bahkan aliran darah pun tidak ada, tapi sesuatu di dalam dirinya terasa sangat sakit. Ini bahkan terasa lebih sakit sejak da melihat wajah William yang menatapnya dengan tatapan kekhawatiran itu.


Rain meremas area atas dekat ulu hatinya. Tepat di mana dia merasakan detak jantungnya berdetak, tempat yang sama dia merasakan perasaan perih yang dia sendiri bahkan tidak tahu dari mana sumber rasa sakit itu muncul.


Perlahan air matanya mengalir, dengan ekspresi sangat kesakitan. Dia teringat dengan perkataan yang baru saja dia dengan bahwa William adalah anak haram. Yang mengatakan bahwa dia bukanlah kakak dari William yang sebenarnya.


Rain terjatuh berlutut dengan suara isak tangisnya. 'A-pa y-yang harus a-aku lakukan sekarang?' dengan tangisannya dia bertanya pada dirinya sendiri.


Rain hanya bingung apa yang harus ia perbuat sekarang. Bagaimana dia harus memperlakukan William mulai sekarang. Rain selalu menganggap William adalah adik laki-lakinya yang sangat penting, sama halnya dengan saudaranya yang lain. Namun, sesuatu di hatinya seolah ingin menolak itu dengan sangat keras, dan sebagiannya lagi ingin menerima itu.


Kegundahan itu muncul, bersamaan ingatan mengenai suara adiknya yang selalu memanggilnya kakak. 


"A-pa yang harus aku lakukan? Apa?" gumam Rain, sambil mengingat perkataannya barusan kepada William yang mempertanyakan siapa sebenarnya William. 


Jika dia bukanlah adiknya, lali dia itu sebenarnya siapa? pikir Rain.


★★★

__ADS_1


Kembali ketempat William.


Dari tempatnya, William bersama kedua adiknya melihat Eria yang terbang dan naik ke atas atap istana, sambil memegang galah yang dipinjam darinya.


Terlihat dari kejauhan wajah Eria yang sangat bahagia, bercampur tidak sabar ingin mencoba keasikan yang baru saja dia dengar.


"Kak, apa ini akan baik-baik saja?" tanya Richard kepada William. Richard hanya khawatir jika ini akan berimbas buruk pada Eria.


"Jika itu kak Eria, seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, ini sangat memprihatinkan," balas William.


"Kamu benar," balas Richard dengan gumaman.


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Eria yang akan melompat dari atas istana. Eria yang bisa terbang, tidak akan terluka bahkan jika dia melompat dari ketinggian itu. Hanya yang membuat William prihatin adalah Eria yang seorang putri pertama sebuah kerajaan besar. Sekarang dengan gaun yang dia kenakan akan melompat dari sana seolah tidak peduli dengan orang-orang yang akan melihat kelakuannya itu.


William dan Richard langsung tersentak mendengar itu dan menoleh, memandang ke arah Lisbet dengan wajah tidak percaya. 


"Tidak boleh!" seru keduanya bersamaan.


William dan Richard, tidak akan membiarkan itu terjadi. Sudah cukup satu Eria, keduanya jelas akan kewalahan jika ada dua Eria di istana ini.


"Eeeh kenapa?" Lisbet merengek memprotes penolakan serentak kedua kakaknya.


"Kalau tidak, ya tidak!" balas keduanya.

__ADS_1


"Kakak pelit! Hmph!" ucapnya sambil membuang wajah kesal.


Ini wajib dilakukan, jangan sampai Lisbet berubah menjadi Eria junior yang akan menyusahkan mereka dimasa depan nanti. Ini juga demi kebaikan Lisbet, serta meringankan beban ibu dan ayah mereka jika Lisbet tidak berubah menjadi Eria kedua.


"Uuuoooooo!"


Dari kejauhan terlihat Eria melompat sambil berteriak sangat keras. Membuat William dan Richard hanya bisa menangis didalam hati mereka.


Di sisi lain Lisbet yang melihatnya, terlihat bahwa itu sangat mengasyikkan. Lalu berlari ke tempat Eria begitu saja. "Aku juga mau cobaaaa!"


"Tidaaaak!" William dan Richard pun dengan sigap langsung mengejar dan menangkap adik kecil mereka itu.


Tentu saja Lisbet dengan mudah ditangkap oleh keduanya. "Lepaaas! Aku mau coba!" 


Lisbet meronta berusaha melepaskan diri dari, William yang menggendongnya. Namun, William sama sekali tidak menghiraukannya.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....


...🙏🙏🙏...


......★★★......

__ADS_1


__ADS_2