
Eria dibuat tidak bisa berkata-kata setelah mendengar itu, untuk beberapa saat.
"K-kenapa kalian berdua mengatakan itu padaku?" kata Eria dengan wajah bermasalah. "Aku kakak kalian lo."
'Dia bahkan menggunakan statusnya sebagai seorang kakak,' batin Richard. "Itu fakta kak. Diam dan terimalah dengan patuh," celetuk Richard tanpa belas kasihan sedikitpun.
"Ugh!" Eria sekali lagi terjerembab diam mendengar perkataan itu.
Eria menoleh ke arah William, mencari bantuan untuk membelanya. Namun William yang berada di sebelah Richard terlihat malah mengangguk-angguk dengan wajah penuh persetujuan dengan apa yang dikatakan Richard.
Mengakibatkan dampak psikologis yang lebih besar pada hati Eria yang sudah retak.
Eria benar-benar tidak memiliki sekutu saat ini.
Hanya Lisbet yang terlihat menolah-noleh memandangi interaksi ketiga kakaknya dengan wajah bingungnya yang polos.
'aku harus memikirkan sesuatu!' batin Eria. Dia tidak boleh dipojokkan seperti ini terus oleh kedua adiknya, dia harus mencari cara untuk keluar dari kondisi ini.
"I-itu hanya—, a-akting! Iya itu hanya akting!" Eria berseru memproklamirkan itu. Dia tidak bisa membiarkan dirinya dipukul oleh perkataan adik-adiknya.
"A-aku hanya ingin menghibur kalian, dan aku pikir tadi itu adalah cara yang baik," katanya sambil memasang senyum anggun. Namun terlihat wajah canggungnya, seolah mengatakan yang sebaliknya.
'Bisa-bisanya kakak masih berusaha mengelak,' batin Richard, sambil memandang Eria dengan tatapan kasihan.
Di sisi lain, William pun memasang ekspresi yang sama. 'Bahkan gerakannya masih kaku,' batin William, yang melihat kakaknya berusaha bergerak seanggun mungkin, tapi pada akhirnya itu malah terlihat seperti, boneka kayu yang digerakkan dengan tali.
__ADS_1
"Baiklah karena aku sudah meluruskan masalah kesalah pahaman ini, jadi mari kita bicara hal lain saja," kata Eria, lalu duduk, sambil menyibakkan rambut dengan jari, ke belakang telinganya.
'Dia langsung mengalihkan pembicaraan!?' batin William dan Richard selaras.
Tapi dari semua tingkah Eria yang jelas di buat-buat. Tampak lebih mencolok adalah usahanya untuk berusaha tersenyum seanggun mungkin, namun sayangnya tidak ada kesan anggun sama sekali, dan malah mengerikan.
'Aku malah kasihan melihat kakak, seperti ini,' batin Richard dan William selaras mengatakan itu. Saat melihat senyum penuh paksaan di wajah kakaknya.
Dengan itu, Eria berusaha mengembalikan martabatnya yang kini sudah hancur di mata, adik-adiknya. Bagi Eria, dia adalah seorang kakak, jadi dirinya merasa harus terlihat paling bermartabat dan keren di mata adik-adiknya. Namun, sayangnya itu tidak mengenai sasaran sama sekali. Hanya Lisbet yang masih terlalu polos lah, yang terkena dengan tipu daya itu.
★★★
Setelah beberapa saat, suasana pun kembali normal seperti sebelumnya. Bahkan Eria secara tidak sadar, sudah menghilangkan akting anggunnya yang da bangun dengan susah payah, dan kembali ke mode tomboinya.
Hanya Richard yang terlihat memasang wajah kecut melihat tingkah kakak perempuannya.
"Wil, bagaimana kondisimu?" tanya Eria sambil duduk ngangkang. William bersyukur kakaknya mengenakan rok panjang sekarang, jadi efek dari ngangkang itu, tidak ada.
"Aku dengar kamu belum benar-benar pulih, kenapa kamu sekarang ada di luar?" tanya Eria.
William mendapatkan pertanyaan yang sama sekali tidak ia duga.
"Ahh i-itu—," gumam William sambil membuang wajahnya. 'Bagaimana aku harus menjawabnya?' batinnya.
Yang jelas dia harus mencari alasan.
__ADS_1
"Hm?" Eria memiringkan kepalanya, sambil memasang wajah bingung saat melihat tingkah William.
Richard dan Lisbet yang melihatnya pun penasaran, sangat jarang mereka melihat William memasang wajah seperti ini, seolah berusaha menyembunyikan sesuatu.
Melihat Itu, sebuah pemikiran terlintas di kepala Eria. "Apa jangan-jangan kamu kabur dari kamarnya?"
William tertegun, sambil memandang wajah kakaknya dengan ekspresi tidak percaya. 'B-bagaimana kakak bisa tahu!?' batin William.
"Jadi benar, ya," kata Eria. Tidak perlu baginya menunggu jawaban. Hanya dari melihat ekspresi wajah William saja, dia sudah tahu bahwa tebakannya benar.
Eria sangat mengenal baik sikap dari semua adik-adiknya. Terutama William yang benar-benar buruk dalam menyembunyikan ekspresi masalah di wajahnya.
Melihat ekspresi William yang tampak takut, untuk menjawab. Eria tersenyum dan menepuk-nepuk pundak adiknya. "Tak apa … tak apa … sesekali seperti itu juga nggak masalah, sebenarnya tadi aku malah mau menjengukmu di kamar dan mengajak keluar," kata Eria. "Tapi, sepertinya kamu sudah berpikiran sama sepertiku, haha."
"Jadi, ada apa … dari wajahmu sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu, bukan?" tanya Eria. "Ceritalah, siapa tahu kakak bisa membantumu, lagi pula tidak baik menyimpan masalah seorang diri."
William tersenyum mendengar itu. 'Memang tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari kakak,' batin William.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
...🙏🙏🙏...
......★★★......
__ADS_1