The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Keputusan Seorang Ibu - Part 3


__ADS_3

Setelah Rustar meninggalkan ruangan Desir, tidak sanggup lagi menyembunyikan apa yang dia tahan.


Desir langsung bangkit dari duduknya sambil memukul meja. "Elsa apa maksudmu mengikuti permintaan mereka!? apa kamu tahu apa akibatnya!?" kata Desir. 


Desir benar-benar tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Secara pribadi dia tidak ingin mengikuti permintaan para bangsawan itu. Namun, tiba-tiba istrinya datang dan menyuruhnya untuk menuruti perkataan para bangsawan licik itu.


Wajah Elsa juga tampak sangat lesu.  


"Ya, aku tahu. Tapi ini akan lebih baik, daripada menyembunyikannya terlalu lama," kata Elsa. Dirinya juga bisa mengerti kenapa suaminya semarah itu padanya. Namun Elsa sadar tidak ada gunanya menyembunyikan ini pada para bangsawan. 


Jika pun menolak, pasti para bangsawan tidak akan tinggal diam dan mencari cara untuk mencari informasi. Jika informasi itu bocor. Maka ini akan terkesan pihak istana menyembunyikan ini dari mereka, dan itu pasti akan menimbulkan masalah lain yang pasti juga sangat berdampak buruk pada William.


Lagi pula Elsa sangat menyayangi anaknya, perlakuan dan perhatiannya terhadap William juga berbeda dengan anaknya yang lain. Mungkin dirinya terlihat pilih kasih, namun itu karena Elsa mengetahui nasib masa depan putranya kelak yang benar-benar tidak bisa diabaikannya.


Namun, Desir yang pikirannya penuh dengan masalah tidak berpikir sejauh itu. "Apa kamu tidak memikirkan William? Itu akan berpengaruh pada psikologisnya!" Desir benar-benar membentak Elsa sekarang. 


Tentu Desir sangat mengkhawatirkan William. Dia masih terlalu kecil untuk berurusan hal politik seperti ini.


Desir hanya tidak bisa memahami apa yang dipikirkan istrinya. Elsa juga mengatakan semua yang dia lakukan selama ini demi anaknya yaitu William. Maka dari itu, Desir berpikir seharusnya Elsa juga sudah tahu apa yang akan terjadi pada William jika dirinya mengikuti permintaan bangsawan. Isu tidak sedap pasti akan muncul. Seperti menyebut William sebagai anak haram, dan yang paling parah adalah petisi mengusir William, hingga pengucilan.


William juga masih kecil, psikologisnya jelas akan terguncang karena itu. Apa istrinya memikirkan sampai sana? Bagaimana dia bisa malah menyetujui ini begitu saja? Apa dia benar-benar memikirkan anaknya? pikir Desir mempertanyakan itu semua dengan wajah yang masih tidak bisa mempercayai keputusan istrinya.


Mendengar Desir yang menyebut psikologis yang mana adalah kejiwaan dan mental anaknya akan menjadi korban. Elsa hanya menunduk sambil memasang wajah sedih, membayangkan apa yang diterima anaknya. Matanya seolah menatap angan-angan yang akan terjadi.


Tetapi tekad Elsa sudah bulat.


"Aku tahu, tapi aku merasa ini tetap yang terbaik," gumam Elsa sedih.


Elsa tahu semua itu, Elsa sangat paham. Dia tidak mungkin lalai tentang masalah ini. Namun dia memiliki pemikiran lain, yang merasa ini juga demi kebaikan anaknya. 


"Lalu apa yang akan kita lakukan jika William terbukti tidak memiliki kekuatan Roh!? … tidak! Bahkan memang dia tidak memiliki kekuatan roh!" Desir bertanya sambil berteriak.

__ADS_1


"Tidak apa, kamu hanya perlu berakting membenci William, bahkan di depan William," balas Elsa.


"Apa!?" Desir membelalakkan matanya. "Elsa, apa yang kamu katakan!"


Desir sama sekali tidak menyangka kalau akan mendengar itu keluar dari tutur istrinya.


"Ini juga demi William." Elsa mengatakannya, dan menatap lurus ke arah wajah suaminya. "Dengan begitu William akan terlindungi."


"Ha!?" Desir masih tidak bisa memahami apa yang sebenarnya istrinya rencanakan. "Tunggu, dilindungi? apa maksudmu dilindungi!?"


Elsa tidak langsung menjawab pertanyaan suaminya dan berkata. "Dengan begitu, kamu juga akan menyembunyikan keberadaan William," katanya.


"Elsa sebenarnya apa yang kamu katakan?" Desir merasa seperti dia akan dibawa ke sebuah rencana gila istrinya. Di sisi lain dia sama sekali tidak tahu apa rencana itu.


"Sayang, mungkin bagi orang lain William akan dianggap sampah atau anak haram,— Tapi itu tidak masalah," kata Elsa tanpa beban sedikitpun, dan itu benar-benar mengguncang Desir. 


Elsa lalu menjetikkan jarinya, membentuk sebuah ruang energi. Dia tidak ingin pembicaraan ini ada yang mendengarnya. Dia benar-benar lupa tidak melakukannya dari awal.


Desir seperti mendengar sebuah bom yang meledak di dalam jantungnya, saat mendengar ada pembunuh yang mengincar William.


"Elsa, apa maksudmu!? Membunuh William? Apa yang kamu katakan!?"


Desir merasakan kepalanya seperti akan pecah kapanpun. Tidak hanya memikirkan rencana istrinya yang akan menggunakan teknik terlarang. Lalu masalah bangsawan, dan ditambah informasi bahwa ada pembunuh yang akan mengincar nyawa anaknya. 


"Kamu tentu masih ingat dengan proyeksi yang aku tunjukkan padaku kemarin bukan, apa kamu tahu siapa yang membuka gerbang itu?" tanya Elsa.


Desir mengerutkan keningnya. Itu benar Desir sama sekali tidak mengetahui mengenai hal itu. "Siapa?" tanya Desir.


"Demon ... yang membukanya adalah Ras Demon," jawab Elsa.


Desir terbelalak, tubuhnya kaku sesaat saat mendengar kata Demon. Demon adalah Ras yang sangat dimusuhi di dunia ini, karena pernah memulai perang yang mengakibatkan perpecahan antar ras. Dan itu sudah berlangsung ribuan tahun yang lalu.

__ADS_1


Walau di sejarah dikatakan tidak semua Demon itu jahat, namun imej mereka sudahlah sangatlah buruk, dan membuat mereka sangat dibenci.


Tidak hanya itu, Ras demon juga salah satu ras tertua yang memiliki kemampuan dua sihir dan roh, yang jauh lebih kuat dari manusia.


Elsa melanjutkan. "Saat seorang Conqueror lahir ... segel portal akan melemah. Dan itu sudah cukup bagi para demon untuk bergerak dan mencari Conqueror selanjutnya lalu membunuhnya sebelum dewasa. Demi mencapai tujuan mereka."


Desir tidak mampu berkata-kata, dalam beberapa menit sampai dia akhirnya bertanya. "Apa maksudmu William sudah menjadi incaran para demon sejak dia lahir?" 


Elsa mengangguk. "Ya, kamu benar."


"Hanya saja mereka tidak tahu, bahwa para Conqueror terlahir dari keturunan asli kerajaan ini," ungkap Elsa.


"Keturunan Murni?"


"Ya, raja pertama adalah Conqueror pertama. Anak lalu cucu dan cicitnya hingga kini William adalah keturunan yang mewarisi kekuatan dari Conqueror pertama," jelas Elsa.


Desir teringat saat Elsa menyebut bahwa Amilia adalah nenek buyutnya. 


"Elsa bisakah kamu meninggalkanku, aku ingin sendiri," kata Desir. Lalu terduduk lemas sambil menatap kosong ke arah meja.


Desir benar-benar dihantam sebuah permasalahan bertubi-tubi yang sangat membebankan pikirannya.


Elsa yang melihat wajah pucat suaminya merasa sedih. Namun, tidak ada gunanya menenangkannya sekarang. Karena itulah Elsa tanpa mengatakan apapun, pergi meninggalkan ruangan.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....


...🙏🙏🙏...


......★★★......

__ADS_1


__ADS_2