The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Mendadak - Part 4


__ADS_3

Rain sekarang berada di tempat latihan. Tempat ini adalah lapangan besar. Terlihat ada banyak anak seusianya berkumpul di sana untuk mendapatkan latihan dari para prajurit.


Namun, karena ini sesi latihan bebas. Rain memilih mengayunkan dan menusuk-nusukan tombaknya, seorang diri di sudut lapangan. Dia sedang berlatih melakukan pergerakan serangan cepat menggunakan tombaknya. 


Rain teringat bagaimana saat itu adiknya yaitu William bisa memanfaatkan situasi seperti apapun dengan pedangnya. Ditambah dengan insting tipuannya yang kental, membuat Rain sulit memprediksi serangan selanjutnya yang akan datang.


Walau dia masih bertanya mengenai siapa William. Fakta bahwa William memiliki bakat dalam pedang khususnya pedang pendek, membuatnya tidak bisa mengabaikan itu begitu saja.


'Apa aku terlalu memikirkannya saja?' batin Rain. Mengingat kejadian saat dia menguping pembicaraan ayah dan ibunya. 


'Mungkin saat itu hanya salah dengar,' batin Rain. Sejak kejadian itu, dia berusaha terus berpikiran positif. Mengingat wajah William saat dia berpapasan dengannya. Dan malah menanyakan hal yang ambigu pada adiknya itu, membuatnya merasa bersalah.


Rain sadar dia terlalu terbawa sampai-sampai tidak memikirkan perasaan adiknya sendiri. 'Sebaiknya aku minta maaf pada William, setelah ini,' batin Rain.


Dia tidak ingin, kecanggungan ini terus berlanjut. Sebagai seorang kakak, dia harus bisa menjaga, tidak hanya secara fisik tapi juga keharmonisan dengan saudaranya yang lain. Itulah yang Eria ajarkan padanya.


Saat itu tanpa sepengetahuan Rain, dari belakang ada sekelompok anak berjalan mendekat ke arahnya. 


"Pangeran, boleh kami ikut berlatih bersamamu?" tanya salah satu dari mereka.


Mendengar itu Rain langsung menghentikan latihannya dan berbalik, ke arah orang yang mengajaknya bicara.


Rain melihat ada empat anak di sana mereka semua laki-laki. "Siapa kalian?" tanya Rain dengan kerut di wajahnya. Dia sama sekali tidak mengenal keempatnya. 


"Ah, maafkan ketidaksopananku Pangeran, izinkan saya memperkenalkan diri." Pemuda berambut pirang itu membungkuk sangat sopan ke arah Rain, dan di ikuti ketiga orang di belakangnya. 


"Nama saya Jarias Van Margaria, Pangeran. Saya adalah putra tertua dari Matias Van Margaria." 


"Sedangkan namaku Gerald Van Margaria, Pangeran. Saya adalah putra kedua dari Martias Van Margaria."


"Saya Lark pangeran, saya putra ketiga dari Eilgard. Ayah saya bernama Turk Van Eilgard."


"Kalau saya Bill Pangeran, saya putra kedua dari keluarga Garmion, ayah saya adalah Barl Van Garmion."


Rain semakin mengerutkan keningnya. 'Apa yang para anak bangsawan besar ini lakukan di sini?' batin Rain.

__ADS_1


Seharusnya yang berada disini adalah anak-anak dari para bangsawan area istana. Aneh rasanya melihat keempatnya yang berada di wilayah jauh repot-repot datang kemari hanya untuk latihan. Itulah yang Rain pikirkan.


Jarias berkata dengan senyum di wajahnya. "Maaf pangeran apa kamu mengganggu lat,-" 


Tetapi Rain langsung memotong perkataannya tanpa pamrih. "Hentikan basa-basinya, apa yang kalian inginkan. Melihat senyum kalian benar-benar membuatku jijik," ujar Rain dengan tatapan muak.


Jelas ini ada sesuatu dengan mereka berempat yang tiba-tiba ada di sini dan menyapanya.


"Oh, sungguh tajamnya suaramu Pangeran," Jarias tertawa getir mendengar perkataan tajam Rain. "Kami hanya ingin hanya ingin menyapamu saja Pangeran, jadi tolong jangan memasang wajah seperti itu ke arah kami."


"Bukankah sudah aku katakan hentikan ocehan kalian, katakan saja apa maksud kalian kemari. Aku bukan orang bodoh yang tidak paham dengan situasi semacam ini," ujar Rain.


Perkataan keras itu sontak memancing perhatian orang-orang di sekitarnya.


Jarias dan ketiga rekannya sangat senang melihat situasi ini. Karena memang inilah yang dia tuju sebenarnya.


"Kami, hanya ingin menanyakan bagaimana kondisi Pangeran William, kami dengar Pangeran William terluka karena bertarung dengan seseorang," ungkapnya.


Rain, langsung menyipitkan matanya, dengan kerutan di keningnya. "Apa maumu," ujarnya.


"Kami hanya khawatir dengan Pangeran William saja, Pangeran." balas Gerald.


"Apa isu mengenai kalau ada seseorang, yang melukai Pangeran William itu benar?" Kali ini yang bertanya adalah Lark.


Bill mengangguk. "Aku dengar, bahwa Pangeran William terluka sangat parah karena insiden itu," Bill juga menyahuti itu.


Terlihat mereka memasang wajah khawatir. Seolah mereka benar-benar khawatir pada William. Melihat itu membuat Rain semakin muak.


Semua orang disekitar mereka mulai membisingkan masalah ini.


"Alu dengar orang yang melakukan itu, adalah kamu Pangeran?" tanya Jarias, dengan senyum licik.


Mata Rain membesar. "Apa!?


Dari mana orang ini bisa tahu masalah itu, pikir Rain.

__ADS_1


'Apa yang sebenarnya mereka rencanakan!' Rain mencengkram tombaknya dengan sangat kuat. Menunjukkan tingkat emosi yang ia tahan sekarang.


"Ini hanya isu pangeran, tolong jangan marah Pangeran, maka dari itu kami hanya ingin mengkonfirmasinya," ujar Jarias.


Terdengar nadanya bicara seolah menenangkan. Namun bagi Rain itu adalah cara Jarias mencemooh dirinya.


Semua anak yang ada di sekitar mulai semakin riuh sambil memandang ke arah Rain, saat mendengar itu.


"Tapi jika itu benar, bukannya kamu terlalu jahat pangeran. Dengan teganya melukai adikmu sendiri, sampai seperti itu."


Semua orang di sekitar mulai berbisik, satu sama lain. Seperti mempertanyakan, apa itu benar? Apa memang setega itukah pangeran Rain pada adiknya sendiri? Kejamnya. 


Semua itu bercampur di lingkup riuh mereka. Seolah prihatin dan menyalahkan Rain.


'Tidak, aku tidak! Kalian semua salah paham! Aku tidak pernah melakukan itu, dengan sengaja!' batin Rain. Dia berusaha menyangkal itu semua. Namun mulutnya seolah terkunci rapat, dan membuat itu semua hanya keluar di sanubarinya.


'Beraninya mereka berempat! Jadi ini tujuan kalian!' Rain semakin emosi. 'Jika kak Eria di sini, apa yang akan dia lakukan?' 


Rain memikirkannya. Jika itu Eria, tidak perlu ditanya, dengan apa yang akan dia lakukan sekarang. "Haha, bukankah itu sudah jelas?" gumam Rain. Lalu mengalirkan semua energi rohnya melalui kakinya ke dalam tanah.


Melihat tawa kecil Rain, keempatnya juga semakin tersenyum licik.


"Jadi Pangeran apa it,-" Jarias langsung di paksa berhenti bicara oleh Rain.


Ratusan tombak tiba-tiba dengan bentuk sama yang terbuat dari tanah yang super padat, muncul dari dalam tanah dan langsung melayang di udara.


"Hentikan ocehanmu atau semua tombak ini akan bersarang di tubuh kalian!" ujar Rain. Bersamaan semua mata tombak mengarah ke arah Jarias, Gerald, Lark, dan Bill.


Senyum licik keempatnya langsung hilang saat itu juga. Terror luar biasa memenuhi lapangan latihan. 


Anak-anak, lain yang ada disana langsung berteriak dan melarikan diri karena ulah Rain.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


......★★★......


__ADS_2