
Edward dan Ars sekarang duduk, ikut mendengarkan Eriaz, di sebelah William.
Eriaz menceritakan bagaimana mereka di serang kepada William, itu bermula saat mereka memasuki wilayah hutan di dekat Trige, sebelumnya tidak ada yang mencurigakan. Tetapi saat mereka memasuki pertengahan hutan mereka mulai menyadari bahwa ada yang memantau mereka dari kejauhan.
Walau mereka menyadari itu, mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka sambil terus waspada, karena bisa kapanpun mereka diserang. Dan mereka tidak menyadari bahwa yang memantau pergerakan mereka adalah para Demon.
"Saat itu juga, kami menyadari bahwa nona Ema menghilang. Aku tidak tahu dimana dia, ada kemungkinan juga tanpa kami sadari dia diculik dan dibunuh oleh para Demon." Jelas Eriaz.
William mengerutkan keningnya saat mendengarnya. Dia merasa ada yang aneh. Tidak mungkin seseorang yang menjabat sekretaris guild menghilang begitu saja, tanpa disadari orang disekitarnya. Bukannya itu tidak mungkin, tetapi kemungkinan itu terjadi sangatlah kecil.
Eriaz melanjutkan ceritanya. Saat mereka berada di tengah hutan mereka diserang oleh pasukan Demon, dan beberapa di antara pasukan demon ada juga monster kelas tinggi.
Banyak di antara para petualang yang tewas, saat kejadian itu. Dan dengan terpaksa Eriaz harus meninggalkan jasad mereka karena di pihaknya ada juga yang terluka.
Saat itulah mereka mencoba mencari tempat persembunyian di hutan, dan mereka secara tidak sengaja menemukan sebuah gua di tempat itu. Mereka pun akhirnya bersembunyi di sana.
Dan saat malam ke 3-nya persembunyian mereka ditemukan oleh mereka dan saat itulah mereka diserang kembali oleh pasukan demon. Di saat yang sama juga Sin datang menyelamat kan mereka.
William menatap kearah Sin.
"Sin, terima kasih." Ucap William.
Bagi William, apapun status Sin, William tetap bersyukur. Karena dia lah banyak orang yang bisa selamat.
Sin yang melihat dan mendengar William berterima kasih dengannya. Langsung panik dan berlutut ke arah William.
"Tuan, tolong jangan lakukan itu lagi. Ini sudah kewajibanku melakukan yang terbaik untuk mu, Tuan." Ucap Sin.
William berdiri dan menghampiri Sin, lalu meletakkan tangan kanannya di pundak kiri Sin, dan berkata.
"Kewajiban apapun yang kamu katakan, tetap kamu sudah menolong orang lain dan aku bangga denganmu Sin, aku berterimakasih padamu karena kamu memang layak menerima itu." Jelas William
Mendengar itu, Sin sambil menunduk lebih dalam, "Sama-sama Tuanku."
Edward dan Ars yang melihat bagaimana William sangat menghargai bawahannya, merasa bahwa hubungan William dengan bawahannya bukanlah sekedar status atasan dan bawahan, melainkan sebuah ikatan yang memang terjalin sangat kuat diantara William dengan mereka.
★★★
Sin pun melaporkan apa yang dialaminya saat menemukan keberadaan Eriaz dan melawan para Demon.
"Oh ya, Tuan. Saat aku melawan mereka, ternyata mereka dipimpin oleh seorang Demon Jendral." Lapor Sin.
Ekspresi William menjadi lebih serius, saat mendengar laporan yang Sin katakan.
Karena penasaran, William bertanya siapa Demon Jendral itu.
"Siapa dia, Sin?" Tanya William.
"... Aku tidak ingat siapa namanya, Tuan. Tapi yang jelas dia mengatakan dia adalah Jendral Demon Ke-10." Jawab Sin.
William menatap Sin dengan tatapan lelah. Hanya Sin yang bertarung tetapi tidak tahu Siapa nama musuhnya.
Tetapi berbicara mengenai Demon Jendral kesepuluh maka William juga belum pernah menjumpainya.
William bertanya lagi kepada Sin.
"Lalu bagaimana hasilnya? Apa dia berhasil melarikan diri?" Tanya William.
"Aku sudah menghabisinya beserta semua pasukannya, Tuan." Jawab Sin.
William tentu mengetahui seberapa kuat Sin. Dan jika itu yang dikatakannya, maka memang itulah yang sebenarnya terjadi.
"Kerja Bagus, Sin." Bala William.
Disisi lain,-
"Apa!!!"
Edward kaget mendengar itu.
'Mengalahkan Demon Jendral beserta pasukannya... dan seorang diri!?' batin Edward.
Edward tidak menyangka dengan yang didengarnya barusan, salah satu bawahan William mengalahkan Demon Jendral seorang diri dan juga menghabisi pasukannya. Itu bukanlah hal yang bisa dianggap enteng.
Edward jujur tidak bisa langsung mempercayai apa yang didengarnya, tetapi melihat William yang sangat percaya dengan yang dikatakan bawahannya, mau tidak mau dia pun mempercayainya.
Sama halnya Edward, Ars yang juga mendengar itu kaget.
"Mustahil!" Ucap Ars.
'Tidak peduli apa itu, melawan musuh sekaliber Demon Jendral bukanlah hal yang mudah. Ditambah melawan pasukannya, dan itu dikalahkannya sendiri,...' batin Ars.
Ars juga berpikiran sama Dengan Edward. Dan juga dia sama sekali tidak mengetahui mengenai hal ini. Apa yang dilaporkannya kepada Raja hanyalah Pasukan Demon yang menyergap para petualang, tidak lebih. Mendengar hal ini benar-benar membuatnya sangat kaget.
'Sebenarnya siapa dia?' batin Ars, sambil menatap William.
Dan itu, membuat Ars bertambah sangat penasaran dengan William.
Di saat pikirannya masih disibukkan dengan apa yang baru saja didengarnya dari Sin. Edward teringat dengan tugas misi yang diperintahkan Derrick padanya.
Edward pun menyela pembicaraan mereka dan bertanya,-
"Maafkan aku jika mengganggu pembicaraan mu William. Tetapi ada yang harus kita konfirmasikan terlebih dahulu dengan ketua Guild, William." Kata Edward.
Mendengar itu William menoleh ke arah Edward dan berkata.
"Itu benar, tetapi sepertinya kita tidak bisa melakukan itu sekarang," balas William.
"Hm?! Apa maksudmu?" Tanya Edward.
Edward bingung mengapa William mengatakan hal itu padanya.
Ars yang juga mendengarnya, pun menambahkan, dan menjelaskan kepada Edward.
"Maafkan aku, Pangeran. Tapi yang dikatakan tuan William memang benar, bahwa kita tidak bisa melakukan itu sekarang. Karena Ketua Guild dari inggrasia sekarang masih tidak sadarkan diri." Kata Ars, sambil melirik ke arah Daru yang masih tidak sadarkan diri.
Sambil mengikuti arah mata Ars, "Jadi dia ketua Guild, dari Inggrasia?" Tanya Edward.
Edward baru kali ini bertemu dengan ketua Guild Inggrasia, jadi dia tidak mengetahui bahwa Daru adalah seorang ketua Guild.
__ADS_1
Dan saat itu, yang menjawabnya adalah Eriaz.
"Ya, kamu benar, Pangeran. Dia adalah Daru, ketua Guild petualang di Inggrasia, sekaligus kepala dari semua ketua Guild. Dia juga adalah bawahan Tuanku, Tuan William." Jelas Eriaz.
Tanpa seijin William Eriaz membeberkan itu di depan Edward dan Ars.
" "Apa!!!" "
Keduanya, Edward dan Ars kaget saat mendengar itu.
"William, apa kamu memang pimpinan besar mereka?" Tanya Edward.
William bingung harus menjawab apa, baginya, dia bisa menjadi pimpinan besar guild juga secara dadakan dan dia awalnya tidak tahu apa-apa.
"Tid,-..."
Saat William ingin menjawab, dan mengelak dari pertanyaan itu. Saat itu Eriaz lebih dulu menjawab pertanyaan Edward.
Dengan ekspresi bangga Eriaz berkata,-
"Ya, itu benar, Tuanku adalah pimpinan sekaligus pemilik dari seluruh Guild petualang yang tersebar di berbagai kerajaan." Jawab Eriaz.
"...."
William hanya diam dengan ekspresi konyolnya, sambil menatap Eriaz yang mengatakan itu dengan sangat bangga.
Dan dihati William sekarang memprotesnya, 'Apa yang dikatakannya!!!' batin William
Edward yang mendengar itu dari Eriaz, langsung menoleh ke arah William dan bertanya padanya, "William? Mengapa kamu tidak memberitahuku masalah ini?"
Edward benar-benar tidak tahu kalau William ternyata adalah pimpinan besar guild petualang. Dan mendengarnya ini dari Eriaz, membuatnya mengetahui informasi penting dari temannya ini.
William pun berusaha menjawabnya dengan mengelak.
"Ya, it,-"
Tetapi sekali lagi, itu dipotong dan dijawab oleh orang lain. Kali ini yang menjawabnya adalah Sin.
Dengan senyum bangga di wajahnya sambil Sin menjawab pertanyaan Edward.
"Tuanku memang tidak terlalu suka menyebutkannya secara langsung. Dia adalah orang yang sangat sederhana." Jawab Sin.
"...."
Sekali lagi William hanya bisa diam sambil menonton Sin dengan ekspresi konyolnya, saat melihat Sin mengatakan itu.
'Aku yang ditanya, mengapa kalian yang menjawab!' dihatinya William merasa jengkel dengan tingkah laku Sin dan Eriaz.
Saat William melihat Ars yang ada di sebelah Edward. Dia melihat mata Ars yang seperti melihat sosoknya sebagai yang luar biasa di mata Ars.
'Tolong jangan tatap aku dengan mata itu…' batin William memohon Ars agar tidak melihatnya dengan tatapan yang membuatnya merinding seperti itu.
Saat mereka sedang membicarakan hal itu, tiba-tiba terdengar suara lemah memanggil William.
"...T-tuan…"
William bergegas mendekati Daru.
★★★
"Ugh!" Daru mengerang kesakitan saat dia mencoba untuk bangun.
William yang menghampirinya, langsung menghalangi Daru yang mencoba untuk bangun. Dan menyuruhnya tetap berbaring.
"Daru,.. Jangan paksakan dirimu tetap berbaring lah." Ucap William.
Daru pun mengikuti perintah William.
"...Maafkan Aku, Tuan. Karena malah merepotkan mu."
Dia meminta maaf kepada William karena gagal dalam memberi dukungan dan malah menjadi masalah untuk William.
Tetapi William yang paham dengan hal itu, tidak terlalu memikirkannya, dan malah senang Daru sudah sadarkan diri.
"Tidak apa, aku sudah mendengar semuanya dari Eriaz, jadi itu bukan salahmu." Balas William..."Dan Jangan terlalu memaksakan dirimu, kamu baru saja sadar, dan beristirahat lah." Tambah William.
"Terimakasih Tuan." Balas Daru.
"Ya," sahut William.
Daru pun menjadi lebih rileks saat mendengar itu, dari William.
"Sebenarnya dimana ini?" Tanya daru sambil melihat langit-langit Ruangan.
"Kamu sekarang berada di Rumah sakit Kota Trige," jawab William.
"Trige? Jadi ini di Dorsania, ya." Gumam Daru.
"Ya, kamu sekarang berada di Trige." Balas William yang mendengar gumaman Daru.
Daru tidak mengingat apa yang terjadi setelah dia terluka, dan tidak sadarkan diri. Apa yang diingatnya adalah dia tiba-tiba terkena serangan di kepalanya lalu pandangannya berubah menjadi gelap.
"Tuan, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Tanya Daru
Daru hanya penasaran dengan apa yang terjadi setelah dia tidak sadarkan diri, dan bagaimana dia bisa sampai di Trige.
★★#
Saat itu yang menjelaskan kepada Daru, mengenai apa yang terjadi adalah Eriaz.
"...jadi begitu…" ucap Daru lemas.
Dia tidak menyangka seseorang yang menjadi target utama adalah dirinya. Daru yang mendengar bagaimana dia bisa tidak sadarkan diri dari Eriaz benar-benar bersyukur.
Saat itu ada bola energi yang sangat cepat ditembakkan ke arahnya dari jauh. Waktu itu Eriaz yang melihat bola energi itu langsung berusaha dengan cepat menarik Daru untuk menghindarkannya dari bola energi itu. Tetapi bola energi masih menyerempet kepala Daru, dan membuatnya langsung tidak sadarkan diri.
"Lalu bagaimana yang lain?" Tanya Daru.
"Banyak yang tewas dalam penyergapan waktu itu, dan separuh dari yang selamat juga mengalami cedera yang parah." Jawab Eriaz.
__ADS_1
"..."
Daru hanya diam sambil memejamkan matanya setelah mendengar itu.
"Eriaz, apa Ema sudah ditemukan?" Tanya Daru.
Sambil menggelengkan kepalanya, "Tidak, dia belum ditemukan sampai sekarang." Jawab Eriaz.
"Lalu bagaimana dengan para korban yang sudah tewas? Apa kamu juga membawa jasad mereka?" Tanya Daru.
Sekali lagi sambil menggelengkan kepalanya, Eriaz menjawab.
"Tidak, aku terpaksa harus meninggalkan mereka, bagaimanapun yang menjadi prioritas utama ku waktu itu adalah menyelamatkan yang terluka." Jawab Eriaz.
"Begitu, ya." Gumam Daru.
Daru juga sadar bahwa mengamankan yang terluka adalah hal yang harus dijadikan prioritas saat itu. Tetapi tetap saja Daru merasa kasihan dengan keluarga yang ditinggalkan, jika mereka mengetahui bahwa keluarga mereka sudah tewas dan tidak bisa melihat jasadnya.
William saat ini melihat ekspresi Daru, dia melihat wajah Daru yang terlihat sedih, seperti memikirkan sesuatu.
"Daru, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Tanya William.
"Tidak Tuan, aku sama sekali tidak memikirkan apapun." Jawab Daru.
William yang melihat Daru saat berkata itu, sadar. Ekspresi dengan ucapannya adalah sesuatu yang saling bertolak belakangan.
"Katakan Daru, ini perintah!" Ujar William.
Merasa tidak ada gunanya bertanya, William terpaksa harus memaksanya berbicara.
"T-tapi, Tuan…"
"Katakan!"
William terus memaksa, Daru untuk berbicara.
"...ini mengenai, jasad para petualang yang di tinggalkan, Tuan." Kata Daru.
"Lalu, ada apa dengan jasad mereka?" Tanya William.
William bertanya, karena dia merasa Daru tidak berani mengatakannya secara langsung kepadanya.
"Aku hanya kasihan kepada keluarga yang mereka tinggalkan,.. aku tidak tahu harus berkata apa jika keluarga mereka menanyakan di mana jasad mereka, da,-"
Sebelum Daru menyelesaikan perkataannya, William memotongnya.
"Baik, Aku mengerti." Kata William.
William langsung menoleh ke arah Sin dan memberinya perintah.
"Sin, kembalilah ke ibu kota." Ucap William.
"Ba,- eh apa, Tuan?"
Sin ingin menjawab "Baik", karena dia mengira William akan memerintahkannya untuk memindahkan jasad-jasad para petualang. Tetapi dugaannya salah, dan William malah menyuruhnya kembali kekota.
"Tuan, mengapa kekota?" Tanya Sin bingung.
"Pergilah ketempat Richard, dan yang lainnya, dan jaga mereka. Lalu beri tau Ran untuk segera kemari." Ucap William.
Sin sama sekali tidak bisa memahami dengan perintah yang William katakan.
"Eh!? Mengapa tuan? Bukankah jika untuk memindahkan jasad-jasad para petualang aku sudah cukup?" Tanya Sin bingung.
"Tidak, mengenai memindahkan jasad para petualang itu akan menjadi urusanku. Aku menyuruh Ran kemari untuk membantu perawatan para petualang yang terluka." Ucap William.
Sin kaget mendengar William mengatakan itu.
"Tidak Tuan, ijinkan aku saja memindahkan mereka. Lalu setelahnya aku akan langsung kembali kekota." Ucap Sin dengan panik.
Sin tidak bisa membiarkan William melakukan itu. Bagaimanapun itu seharusnya adalah tugasnya.
Tapi bagi William itu hanya akan membuang-buang waktu. William hanya ingin menggunakan Waktu se efisien mungkin. Lagi pula apa salahnya dirinya yang melakukan itu? Pikir William.
"Apa yang dikatakan Sin benar, Tuan. Ijinkan saya saja yang melakukan itu." Eriaz.
"Tidak, kamu tetap disini, lagi pula energi mu belum pulih." Balas William.
Eriaz tidak bisa menyembunyikan itu dari William. Dia dengan jelas bisa merasakan Eriaz yang masih belum benar-benar fit. Dan William tidak bisa membiarkannya melakukan itu.
Disisi lain,-
"T-tuan biarkan para petualang yang lain saja yang melakukannya." Ucap Daru.
"Tidak, mereka juga butuh istirahat."
William langsung menolak usulan Daru.
William benar-benar, tidak paham dengan pola pikir ketiganya, memang apa dengan dia pergi, maka dia akan tersesat di hutan, sehingga dia tidak bisa kembali pulang? Pikir William saat ini.
Merasa tidak ingin berdebat lagi, William berkata dengan tegas kepada ketiganya.
"Ini perintah, dan lakukan apa yang aku perintahkan!"
Ketiganya tidak bisa membantah kalimat itu, dan hanya bisa membalas dengan patuh.
" " "B-baik, Tuan" " " ketiganya secara bersamaan.
William tersenyum puas saat mendengar jawaban ketiganya. Sedangkan Edward dan Ars yang melihat itu hanya diam, sambil tersenyum kecut.
...★★★...
...Mohon beri dukungannya untuk karya ini, walau hanya dengan sekedar memberi Like dan Komen. 🙏🙏🙏...
...Dan saya ucapkan terima kasih atas dukungannya dari teman-teman, dalam bentuk apapun. 🙏🙏🙏...
...\=\=\=\=...
__ADS_1