
Di waktu yang hampir bersamaan. Setelah keluar dari ruangan Desir. Rustar berencana menuju perpustakaan. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran, dan tentu saja ini masalah William. Dia sampai sekarang masih tidak percaya bahwa William sama sekali tidak memiliki kekuatan roh di dalam tubuhnya.
Melihat wajah William sangat mirip dengan wajah ibunya jelas membuat semua ini semakin janggal, itu menunjukkan bahwa darah kerajaan mengalir kental di tubuh William, bahkan warna matanya yang ungu tua melebihi ibunya, sudah menjadi bukti baginya. Mustahil rasanya jika William yang lebih mirip dengan para raja terdahulu dari warna matanya, tidak memiliki kekuatan roh di dalam tubuhnya.
"Tuan Rustar."
Rustar tersentak saat dia mendengar suara seorang anak laki-laki memanggilnya dari samping. Saat dia menoleh dirinya melihat ada Rain di sana.
"Pangeran Rain?" panggil Rustar.
Karena terlalu larut dengan pemikirannya, Rustar sampai tidak sadar dengan kehadiran Rain di dekatnya.
"Sangat jarang aku melihatmu berada di sini sepagi ini, Pangeran. Apa ada sesuatu?" tanya Rustar.
Bukan hanya jarang, tapi Rustar malah tidak pernah melihat Rain berada di sini sepagi ini, sampai hari ini.
"Haha, masalah itu—," Rain tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya. "Oh iya. Tuan Rustar, apa ayah ada ruangannya?" tanya Rain.
"Iya, Yang Mulia ada di ruangannya," balas Rustar. "Apa kamu mau menemui Yang Mulia, Pangeran?"
"Ya." Rain mengangguk.
"Kebetulan di sana juga ada Yang Mulia Ratu, tapi sepertinya keduanya sedang membicarakan sesuatu," kata Rustar. "Tapi jika itu Pangeran seharusnya tak masalah, kalau kamu masuk menemui keduanya."
Rustar memberi tahu itu, karena dia tahu bahwa Raja dan Ratu, adalah orang tua yang sangat lembut kepada anak-anaknya.
"Jadi begitu," gumam Rain sambil menunduk, lalu kembali menatap Rustar. "Aku tidak ingin mengganggu mereka, sebaiknya aku tunggu saja di luar sebentar," kata Rain.
Dia hanya tidak ingin mengganggu pembicaraan ayah dan ibunya. Bisa saja yang mereka bicarakan adalah sesuatu yang penting, pikir Rain.
"Omong-omong, Tuan Rustar. Kamu mau ke mana?" tanya Rain.
"Aku mau ke perpustakaan istana, Pangeran.Tapi jika pangeran ingin aku menemani bertemu Yang Mulia, aku bisa mengantarmu dulu ke sana," balas Rustar.
__ADS_1
Rain menggelengkan kepalanya. "Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku bisa kesana sendiri," kata Rain. Lalu berpamitan. "Baiklah Tuan Rustar, kalau begitu saya pamit dulu."
"Ya, silahkan," sahut Rustar.
Rain pun berjalan pergi.
Terlihat Rustar memandangi punggung kecil Rain. "Aku masih tidak percaya bahkan kakaknya saja memiliki bakat seperti itu, tapi kenapa pangeran William tidak," gumamnya.
Rustar bisa merasakan pancaran energi roh dari Kein. Dan itu semakin membuatnya tidak mengerti dengan kondisi adiknya Rain, yaitu William.
Rustar lalu berbalik dan berjalan menuju tujuannya sebelumnya.
★★★
Rain sudah sampai sejak beberapa saat lalu di depan ruangan ayahnya. Rain terlihat bersandar di dinding dekat pintu ruangan ayahnya.
"Lama sekali, sebenarnya apa sih yang ayah dan ibu bicarakan," gumam Kein. "Aku jadi penasaran."
Sudah 10 menit sejak Kein sampai di sini, tapi tidak ada tanda-tanda ibu atau ayahnya keluar ruangan. 'Apa lebih baik aku masuk saja,' batin Kein.
Rain pun berpindah dan bermaksud mengetuk pintu ruang kerja ayahnya. Namun, sebelum dia mengetuknya, saat itu,- "Walaupun William anak Haram!"
Mata Rain membesar. Dia tersentak, mendengar perkataan yang mengatakan bahwa anaknya anak haram. Rain benar-benar membeku di tempatnya.
"Eh!?" Rain masih belum bisa mencerna apa yang baru saja dia dengar. 'Tunggu apa maksudnya?' batin Rain.
'Apa aki salah dengar?' batin Rain.
Rain lalu menempelkan sebelah telinganya ke pintu. Dia mencoba menguping. Namun, dirinya sama sekali tidak bisa mendengar apapun.
Entah kenapa semua terasa sunyi dalam sekejap. 'Kenapa tidak ada suara lagi?' batin Rain
Sekali lagi perkataan yang dia dengar barusan menggema di kepalanya. Wajah Rain tampak sangat terdistorsi.
__ADS_1
'Tapi apa maksudnya! William anak haram? William bukan adikku? Eh! … bohongkan? … tidak,— itu tidak mungkin, aku pasti salah dengar,' batin Rain. Dia merasakan kakinya lemas yang membuatnya terhuyung mundur dan hampir terjatuh.
Saat itu, Clak! … Pintu di depannya tiba-tiba terbuka. Rain melihat ibunya yang keluar dari ruangan ayahnya.
Elsa yang menyadari ada Rain di sana kaget. "R-Rain!? sejak kapan kamu berada di sini?" ada nada gelisah di balik pertanyaan itu.
"A-aku hanya lewat, ibu ada apa kenapa kamu terlihat sedih?" balik tanya Rain.
Rain melihat sekilas wajah ibunya yang tampak sangat sedih, melalui celah pintu dia juga melihat wajah ayahnya yang terlihat sangat pucat seolah mendapat masalah berat.
"E-Ah! Tidak ada apa-apa?" Elsa sama sekali tidak menyadari raut wajahnya sendiri kaget dengan pertanyaan Rain, sambil memaksakan senyum di wajahnya. "Rain, memang kamu mau ke mana?" tanya Elsa.
"Aku mau pergi ke—, ke tempat latihan, hanya jalan-jalan," jawab Rain.
Rain bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dia berbohong? Kenapa dia takut mengatakan yang sebenarnya? Kenapa juga dia tidak berani menanyakan apa yang ia dengar barusan? Rain sama sekali tidak mengerti.
"Begitu ya," gumam Elsa. "Rain apa kamu mendengar pembicaraan ibu dan ayah?"
"Pembicaraan? Maksudnya?" Rain bergaya linglung, seolah tidak paham dengan apa yang dimaksud ibunya. Namun didalam hatinya itu seperti es yang membekukan hatinya. Dingin sangat dingin, sampai dia tidak mau untuk bergerak menanyakan apa yang ada dihatinya.
Elsa menggelengkan kepalanya, lalu membelai rambut perak putranya itu, dengan wajah tersenyum. "Tidak, bukan apa-apa, ya sudah sana kalau kamu mau pergi ke tempat latihan, kan?" kata Elsa.
Itu jelas senyuman, matanya tidak mungkin salah melihat senyuman ibunya itu. Tetapi, di hatinya Rain merasakan rasa sedih sangat dalam dari senyuman itu. Yang tercermin melalui sorot mata ibunya.
"Ya, bu … kalau begitu aku pergi dulu," balas Kein lalu menepis tangan ibunya dan berbalik pergi.
"Y-Ya," balas Elsa dengan wajah tertegun. Ini pertama kalinya Rain menepis tangannya seperti ini.
Rain berjalan seolah tidak ada apapun yang terjadi, tapi saat dia berbelok di persimpangan lorong, Rain langsung berlari sambil meremas berusaha meremas jantungnya. Ada airmata yang mengalir di wajahnya, dia tidak tahu kenapa, tapi dia merasakan rasa sangat sakit di dekat jantungnya. Sesuatu yang belum pernah dia rasakan, sesuatu sangat menyakitkan dari luka-luka yang pernah dia rasakan sebelumnya.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
__ADS_1
...🙏🙏🙏...
......★★★......