
Ada empat pertanyaan yang diajukan oleh Elsa. Setiap pertanyaan sebenarnya memiliki arti. Namun, tidak ada satupun dari mereka berlima yang bisa menebak arti dibalik pertanyaan itu.
Ditambah Elsa meminta kejujuran dalam menjawabnya, walau jikapun mereka bohong Elsa tidak akan mengetahui itu. Namun pasti ada rasa penyesalan setelahnya. Itulah yang mereka berlima rasakan sekarang.
"Yang Mulia, boleh saya tau mengapa Yang Mulia menanyakan hal itu pada kami?" tanya Lilia. "Apa kesetiaan kami selama ini padamu belum cukup untuk menjawab semua pertanyaan itu," ungkapnya dengan wajah sedih.
Tentu Lilia sedih. Ini seperti kesetiaan dan apa yang dia lakukan selama ini hanya untuk Elsa, tidak tersampaikan sama sekali.
Elsa tersenyum mendengar itu. "Tentu saja kalian sangatlah setia bahkan terlalu setia padaku, aku tahu itu. Bahkan kalian mungkin tidak sadar bahwa aku sangat mempercayai kalian. Namun, aku hanya ingin mendengarnya langsung dari kalian," kata Elsa.
"Yang Mulia …" gumam Lilia. Melihat senyuman Tuannya, serasa ada yang aneh. Lilia tahu itu adalah senyuman yang tulus, senyuman yang jujur, dengan ungkapan tuannya barusan.
Tapi entah kenapa itu terasa sangat memilukan hatinya. Lilia takut karena teringat senyuman yang sama dengan yang senyum tuannya sekarang. Senyuman orang tuanya sebelum meninggal, senyuman terakhir. Senyuman penuh makna yang sangat dalam, sekaligus senyuman terindah yang menandakan perpisahan.
Tetapi, Lilia tetap menjawab seperti apa yang diminta Elsa. "Yang Mulia, bagi saya. Anda adalah penyelamat saya. Engkau yang memungutku dari daerah kumuh dan menyembuhkan penyakitku. Tentu saja kamu sangat berarti bagiku Yang Mulia, tanpamu entah apa yang terjadi padaku, tanpamu juga aku tidak yakin kalau sekarang diriku masih hidup. Apa yang saya inginkan dari anda adalah kebahagiaan Yang Mulia, hanya itu, hanya kebahagiaan anda lah yang sangat saya inginkan dari anda, dan saya Lilia siap melakukan apapun demi mewujudkan itu," kata Lilia.
Reny melanjutkan. "Yang Mulia, saya hanyalah perisai anda. Saya siap berkorban apapun demi anda, apapun perintah anda, bahkan jika itu salah, selama itu perintahmu, saya tetap akan melakukannya. Saya tidak peduli jika harus dianggap penjahat, selama itu untuk anda. Apa yang saya inginkan hanyalah kesetiaan, tolong izinkan saya untuk tetap mengabdikan kesetiaan ini padamu Yang Mulia. Saya Reny, akan selalu ada untuk kepentinganmu Yang Mulia," ungkapnya.
__ADS_1
Lalu Daru melanjutkan. "Yang Mulia, apa anda masih ingat kapan kamu membawaku ke istana?"
"Ya, itu lima tahun yang lalu," balas Elsa.
"Itu benar Yang Mulia, waktu itu juga adalah waktu dimana saya terjerumus pada pilihan yang salah. Karena kematian adikku, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan sejak saat itu. Namun, anda mengambilku, anda memberikan tempat baru untukku, anda menunjukkan jalan baru padaku. Anda juga yang berusaha mengarahkanku agar tidak terjerumus pada jalan yabg salah. Tanpa anda, mungkin sekarang saya masihlah seorang bandit, yang mengambil semua milik orang lain. Apa yang saya inginkan hanyalah membalas budi kepada anda. Jika uang cukup, maka gurun dipenuhi berlian masihlah kurang untuk membayar itu Yang Mulia. Tapi jika itu kesetiaan, maka akan hamba berikan kesetiaan hamba sampai sisa umur ini. Saya Daru, menyerahkan jiwa dan raga ini, gunakanlah saya, bahkan jika itu harus menjadi pijakan di kobaran api sekalipun, Yang Mulia."
Setelah mendengar itu, Eria menoleh ke arah Minea dan Mikea. Keduanya terlihat berlinang air mata. Elsa tertegun melihat keduanya.
"Kalian berdua kenapa? Minea, Mikea?" tanya Elsa khawatir.
"Itu benar, kamu sudah lebih seperti ibu bagi kami, Yang Mulia," imbuh Mikea.
"Kalian—," kata Elsa dengan di ikuti nada gumaman sedih.
"Yang Mulia, kami berdua dulu hanyalah budak," kata Minea.
"Orang tua kami sendirilah yang menjual kami berdua menjadi budak," sambung Mikea.
__ADS_1
"Kami dari kecil tidak tahu apa arti dari kasih sayang orang tua. Kami selalu dipukul setiap.kali membuat kesalahan. Bahkan jika itu kesalahan kecil sekalipun," ungkap Minea.
"Tidak ada hari kami yang bahkan tanpa siksaan, hingga kami akhirnya dijual oleh mereka. Beruntung saat itu Yang Mulia lah yang membeli kami," kata Mikea.
"Entah apa jadinya jika saat itu yang membeli kami adalah laki-laki hidung belang yang ingin menjadikan kami sebagai pemuas nafsunya semata. Entah seperti apa nasib kami jika itu benar-benar terjadi," ungkap Minea.
Keduanya benar-benar menangis sampai tersedu-sedu. Elsa yang melihat keduanya, berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah mereka, lalu berjongkok tepat di depan keduanya, dan memeluk keduanya.
Merasakan pelukan Elsa. Minea dan Mikea pun semakin menangis sejadi-jadinya.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
...🙏🙏🙏...
......★★★......
__ADS_1