
Setelah membunuh Cerberus, William memandang ke arah tembok dengan tatapan yang sangat tajam.
Dari tempatnya berdiri dia melihat tembok yang perlahan hancur. Tembok itu hancur karena pasukan demon yang berhasil menerobosnya.
Di Sana dia melihat pasukan Demon dan juga Monster yang bergerak memasuki daerah pemukiman dan menghancurkan semua gedung yang berdiri di sana.
William memejamkan matanya. Lalu,-
"Dimension…"
William menggunakan Dimension untuk merasakan apa masih ada warga di kota itu atau tidak.
Dan mendeteksi ada berapa jumlah total dari pasukan musuh sekarang.
Seperti Radar William melihat tidak ada warga di sana, dan hanya ada para demon dan monster.
"Lilia, kau melakukan hal yang luar biasa." Gumam William.
William tidak melihat Lilia menggunakan tekniknya untuk memindahkan semua warga yang dikumpulkannya.
Tetapi William bisa merasakan bekas energi Lilia di kota dan terhubung di tempat dia berada sekarang menggunakan Dimension.
"Jadi 4 ribuan pasukan, ya." Gumam William sambil membuka matanya dan memakai topengnya, lalu memandang ke arah Ribuan Musuh.
William menggunakan Dimension merasakan total pasukan Demon dan Monster jika ditotal ada disekitar 4 ribuan. Dia menghitung tidak hanya yang ada di tanah tetapi juga yang ada di udara.
*Apa yang Lilia lihat sebelumnya hanyalah sebagian pasukan yang ada di darat.*
William berjalan perlahan ke arah pasukan demon sambil mengambil Twin Fangs dari sarungnya. Dan,-
"Labyrinth Forest." Gumam William.
Sambil berjalan santai William menggumamkan tekniknya itu.
*Krek (suara tanah yang terbuka)
Saat itu dari dalam tanah perlahan muncul tunas pohon, dan itu muncul di seluruh padang rumput. Lalu, tiba-tiba tumbuh dengan cepat.
Suara kayu yang berdenyit dengan diikuti suara daun yang saling bergesekan satu sama lain.
Tempat itu yang sebelumnya hanyalah padang rumput, sekarang berubah menjadi hutan belantara.
Di sisi lain,-
"A..apa-apaan ini!?"
Richard kaget, karena ditempat dia berdiri dalam sekejap, sekarang berubah menjadi hutan yang sangat lebat.
"..!!"
Reny yang ada di sebelahnya tidak bisa berkata-kata lagi. Dan hanya terperangah kaget.
Seumur hidupnya dia belum pernah melihat kejadian seperti ini. Di Depan matanya, padang rumput yang sangat luas berubah menjadi hutan belantara, dengan pepohonan yang besar dan sangat lebat, dan itu dalam waktu sekejap.
*Tujuan William membuat semua padang rumput menjadi hutan adalah untuk sebagai benteng alami, yang juga berfungsi untuk menghalangi pandangan para pasukan demon yang ada di darat dan di udara.
Dan itu dilakukannya untuk melindungi, dan memberikan sedikit rasa aman untuk para warga, dan juga semua orang yang ada didalamnya.
Sehingga para demon dan monster akan berfokus pada William.*
Sekarang William berhenti berjalan dan mengambil ancang-ancang.
"Hyaaaa!!!"
Sambil berteriak William melemparkan kedua pedang sabit(Twin Fangs) yang dia pegang, ke arah pasukan monster yang berada di udara.
Seperti bumerang yang bergerak sendiri. Twin Fangs melesat dengan kecepatan tinggi memotong semua monster, dan pasukan demon yang ada di udara.
*Krakk
Disaat yang sama, William berlari dengan sangat cepat dan membuat tanah yang jadi pijakan pertamanya retak. William berlari menuju pasukan demon dan monster, yang berada jauh di depannya.
*Rooaarr
Ribuan monster meraung sambil berlari ke arah William, yang juga berlari tanpa rasa takut ke arah mereka.
"Semuanya... seraaang!" Perintah salah satu demon.
Para demon langsung menembaki William dengan sihir mereka masing-masing.
William melihat lebih dari ratusan sihir yang bermacam-macam, dan ditembakkan ke arahnya. William melompat untuk menghindari semua serangan itu.
*DAAARRR
Semua serangan demon tidak mengenai William dan menghancurkan tanah di dekat William.
William terus maju tanpa memalingkan wajahnya dari musuhnya.
William melompat kesana kemari sambil bersalto dan terus melompat untuk menghindari serangan itu.
*DARRR DARR DARRR.
Suara ledakan dari serangan para demon mengakibatkan ledakan yang besar. Tetapi tidak ada satupun yang mengenai William.
__ADS_1
"Mari kita lihat, seberapa mampu aku bertarung dalam jarak dekat dengan mereka." Gumam William sambil menambah kecepatannya.
William berencana melawan mereka tanpa menggunakan teknik yang mengakibatkan kerusakan berskala besar. Karena itu akan menambah hancur tempat ini yang sekarang adalah reruntuhan pemukiman. Dan William tidak ingin itu.
★★★
William terus berlari dengan sangat cepat dan memangkas jaraknya dengan pasukan monster dan demon yang ada didepannya.
*ROOARR
Giant Orc meraung sambil meninju kerah William.
William melompat menghindari itu, dan berpijak di atas tangan besar Giant Orc yang menyerangnya.
"Air Sword…"
Menciptakan dua pedang angin di kedua tangannya. William dengan cepat, langsung melompat ke arah Kepala Giant Orc.
*Zinnng
Bersamaan dia mendarat di belakang Giant Orc, kepala Giant Orc terjatuh di tanah. Dan itu membuat Semua pasukan Demon dan monster terdiam tak bergerak saat melihat William.
William memandang ke arah semua yang ada di sekelilingnya, dan berkata.
"Apa yang kalian lihat!!?" Tanya William kepada semua yang ada di sekelilingnya.
Seolah tersadar akibat ucapan William, salah satu demon berteriak.
"Seraaaang!!!" Teriak salah satu prajurit Demon.
Mendengar itu, para pasukan demon tersadar dan langsung menyerang William.
Tetapi, William lebih cepat.
"Illusion,-"
*(William menghilang.)
Bersamaan William menggumamkan Illusion, disaat itu juga dirinya menghilang dalam kedipan mata.
"!!!" Kaget.
Semua demon yang tadinya menyerang William sekarang merasa kaget. Dan dalam beberapa detik akhirnya mereka menyadari sesuatu.
Bahwa beberapa teman mereka sekarang sudah berubah menjadi potongan-potongan daging cing-cang dalam waktu sekejap.
Para pasukan demon sekarang kebingungan.
"A-apa yang terjadi!?" Tanya salah satu demon yang bingung sambil melihat ke sekitarnya.
Para pasukan demon dan monster yang lain saat itu merasakan rasa takut yang tidak bisa mereka jelaskan.
Hanya dengan satu musuh, mereka merasakan sensasi ketakutan akan kematian. Dan itu disebabkan oleh musuh mereka yang tidak terlihat karena bergerak dengan sangat cepat dan tidak terlihat oleh mata mereka.
Perlahan para pasukan demon dan monster terbunuh satu persatu. Dan mereka mati tanpa bisa berteriak, karena mereka mati dalam sekejap mata.
Bersamaan dengan itu pasukan udara mereka terjatuh satu persatu ke tanah dalam keadaan tubuh mereka terbelah-belah.
★★★
Di Sisi Lain,-.
Kurt diantara semua warga sekarang melihat bagaimana mereka bisa berada didalam hutan yang sangat rimbun.
"A-apa yang sebenarnya terjadi!?" Gumam Kurt.
Kurt bingung, dia tidak bisa mencerna tentang apa yang baru saja di lihatnya dan dialaminya sekarang. Kurt berusaha menenangkan pikirannya.
Di sebelahnya banyak warga, dan anak-anak yang menangis, karena rasa takut yang mereka rasakan sebelumnya.
Sedangkan didekatnya ada Lilia yang sekarang pingsan, dengan mulut mengeluarkan darah.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Kurt Bingung melihat Lilia yang tidak sadarkan diri.
Kurt bingung dan tidak tahu harus berbuat apa sekarang, dan dia juga tidak menguasai sihir atau teknik roh pengobatan sama sekali.
Saat itu Kurt menoleh ke arah lain dan melihat dua orang berjubah putih berjalan ke arahnya bersama 3 orang lain.
*Lisbet yang tertidur sekarang di gendong oleh Reny sambil berjalan.
Sebelumnya Reny menawarkan dirinya sendiri kepada Rose untuk membawa Lisbet yang tidur.*
Kurt tahu siapa kedua orang mengenakan topeng dan berjubah putih keperakan itu.
Karena sesaat sebelumnya, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa monster Giant Orc dihabisi dalam sekejap oleh dua orang berjubah putih itu.
★★★
Ran dan yang lainnya berjalan menuju kerumunan Warga. Dan berhenti tepat di di samping Kurt.
"Permisi…" ucap Ran.
Ran mengatakan itu sambil berjongkok, dan melihat Lilia yang sekarang tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Ran memeriksa keadaan Lilia.
"Sepertinya dia mengalami kehabisan energi dan efek terlalu banyak menggunakannya dalam waktu singkat." Gumam Ran.
Lalu ran meletakkan tangan kanannya di atas perut Lilia.
"Heal…" Gumam Ran.
Saat itu tangan kanan Ran bersinar berwarna emas sangat terang.
Ran sekarang menggunakan kekuatannya menyembuhkan luka dalam yang dialami Lilia.
Perlahan Wajah Lilia yang pucat kembali menjadi normal kembali. Tetapi Lilia masih tidak sadarkan diri.
Semua yang menonton itu terkesima, dengan perasaan kagum di hati mereka masing-masing.
Di belakang Ran, Reny yang melihat apa yang dilakukan Ran, berucap dihatinya.
'Aku baru kali ini melihat seseorang melakukan penyembuhan langsung menggunakan energinya. Lilia yang seorang penyihir sekaligus pengguna roh saja masih membutuhkan sebuah alat, untuk melakukan teknik penyembuhan…' ucap Reny didalam hatinya.
Disebelah Reny, Richard sambil berjongkok bertanya kepada Ran.
"Bagaimana? Apa Lilia baik-baik saja?" Tanya Richard.
"Ya… untuk luka dalamnya sekarang sudah tidak membahayakan nyawanya, tetapi dia tetap masih butuh istirahat." Jawab Ran.
Saat itu Reny bergabung dalam pembicaraan mereka, dan meminta ijin untuk bertanya.
"Permisi, bolehkah aku bertanya?" Tanya Reny kepada Ran.
"Hm!?" Sambil sedikit memiringkan kepalanya karena penasaran, Ran mempersilahkan. "Ya, silahkan."
"Apa benar pria tadi adalah Pangeran William?" Tanya Reny.
Richard yang mendengar itu langsung berdiri, dan memelototi Reny.
"Reny! Apa yang kamu tanyakan!!?" Bentak Richard.
Mendengar Richard yang marah, Reny segera menundukkan kepalanya. Dan meminta maaf kepada Richard.
"Maafkan kelancangan ku, pangeran." Ucap Reny dengan rasa penuh bersalah.
*Alasan Reny menanyakan itu adalah karena sebenarnya dia masih meragukan William. Bukan tanpa alasan Reny meragukan itu. William yang dikenalnya dulu adalah anak yang tidak memiliki kekuatan Roh sama sekali. Bahkan Reny pun tidak merasakan kekuatan sihir dari dalam tubuh William.*
Ran hanya tersenyum dari balik topengnya saat mendengar itu.
"Sebelumnya, bolehkah Aku membawa Putri Lisbet?" Tanya Ran.
Semua yang di sana kaget.
"Bagaimana kamu bisa tahu nama tuan Putri!!?" Tanya Reny dengan ekspresi curiga.
Begitupun sama dengan Richard.
"Ya, karena aku tahu semua orang yang dekat, dan mengenal Tuan Ku." Jawab Ran.
Sin dan Ran yang dulu masih disegel, pernah membaca ingatan dan isi hati William.
Sehingga mereka tahu, siapa saja orang yang dekat dan orang yang membenci tuannya. Dan itu dilihatnya dari sudut pandang dan penilaian mereka.
Ran yang sekarang melihat ekspresi wajah Reny sangat curiga dan waspada. Terlihat sepertinya Reny tidak mau menyerahkan Lisbet yang digendongnya dan masih tertidur, kepada Ran.
*Tak
Ran menjentikkan jarinya.
"Apa!!?"
Reny kaget tiba-tiba lisbet berpindah ke tangan Ran dalam sekejap.
Saat itu Ran berkata.
"Orang yang sangat tahu mengenai Tuanku dibanding lainnya hanyalah, Putri Lisbet, dan yang kedua adalah Pangeran Richard." Ucap Ran. Lalu menambahkan. "Dan orang yang sangat ingin mengetahui dan mengenal Tuanku adalah seseorang yang sekarang sedang pergi untuk memastikannya sendiri."
"Apa yang kamu katakan!?" Tanya Reny bingung.
Reny tidak paham dengan apa yang dimaksud dengan perkataan terakhir Ran.
Saat itu Richard sadar, bahwa satu orang tidak ada di sana.
"Nona Rose!? Dimana Nona Rose!!?" Tanya Richard panik.
Ran melihat semua yang panik.
Ran menatap jauh ke arah hutan. Dibalik topengnya Ran tersenyum sedih. Dia tau siapa Rose, sehingga dia tidak mau menghalanginya. Walau ada rasa sakit yang dia rasakan dihatinya sekarang.
★★★
Di tempat lain, diwaktu yang sama.
"Hah… hah… hah...hah."
Terlihat sekarang Rose sedang berlari dengan nafas yang terengah-engah, dengan wajah yang sangat panik.
__ADS_1
Dia berlari menuju tempat William. Dirinya tidak bisa lagi membohongi perasaan di hatinya lagi.
Dia sangat ingin bertemu dengan William, dan dia sangat takut akan kehilangan William sekali lagi.