The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Sumpah dan Kesetiaan - Part 1


__ADS_3

Di waktu yang sama, di hutan bagian timur wilayah kerajaan Brama. Terlihat ada tiga orang yang berkumpul. Dua di antaranya adalah Reny dan Lilia. 


Lilia terlihat masih memakai armor perak berlambangkan mahkota di pundak kanannya. Itu adalah seragam pasukan Elite yang berada di bawah komando langsung Elsa. Sama halnya dengan Lilia Reny juga mengenakan armor yang sama, hanya saja tidak ada lambang mahkota di pundaknya.


"Komandan, apa kita memang disuruh berkumpul di sini?" tanya seorang pria paruh baya yang berdiri sambil bersandar di pohon. Dia mengenakan topi koboi di kepalanya dengan pakaian yang juga layaknya koboi, namanya adalah Daru.


"Ya … Yang Mulia sendiri yang menyuruhku mengumpulkan kalian di sini," balas Lilia. Lalu menoleh ke arah Reny. "Reny, apa kamu sudah menghubungi Minea dan Mikea?" tanya Lilia.


"Sudah, Komandan … tapi sepertinya mereka berdua sedikit terlambat," jawab Reny.


Lilia hanya diam setelah mendengar jawaban Reny. 'Bisa-bisanya mereka terlambat! Apa mereka lupa siapa yang akan mereka temui setelah ini!' batin Lilia.


Sebenarnya Lilia ingin berteriak marah, tapi dia tahu bahwa tidak ada gunanya marah sekarang. Cukup tunggu sampai mereka muncul dan Lilia bisa dengan leluasa menghibur keduanya dengan caranya sendiri.


Tiba-tiba, Lilia merasakan hawa kehadiran dua orang di kejauhan, yang bergerak cepat ke arah mereka. Lilia terlihat tidak panik, malah dia sangat tidak sabar keduanya sampai di sini.


"Sepertinya mereka sudah sam—pai," gumam Reny yang juga merasakannya. Namun, perkataannya sempat terjeda sesaat, karena melihat senyuman menakutkan di wajah Lilia.


Tidak berselang lama, dua sosok berpakaian hitam mengenakan topeng yang sama, muncul dan langsung berlutut ke arah Lilia. "Komandan maafkan atas keterlambatan kami, itu karena Mikea yang bangunnya kesiangan," kata Minea.

__ADS_1


Bukannya meminta maaf dengan tulus atas keterlambatan mereka. Minea malah melaporkan aduan untuk kakaknya.


Mikea yang ada di sebelahnya kaget. "A-apa!?" Dia tidak menyangka bahwa akan dijadikan kambing hitam oleh adiknya sendiri. Tentu saja Mikea tidak akan membiarkan itu terjadi, dan mengambil pembelaan untuk dirinya. "Minea! Itu kamu yang terlalu lama bersiap-siap!" 


"Ha!? Itu bohong komandan, aku tidak pernah membuang-buang waktu hanya untuk bersiap-siap!" seru Mikea ke arah Lilia.


"Tidak komandan, dia jelas berbohong!" cetus Minea sambil menunjuk kearah adiknya.


Lilia hanya tersenyum melihat polah dua bawahannya ini. Tapi senyuman itu tidak menunjukkan kelembutan dan ketenangan sama sekali, melainkan rasa ngeri yang membuat bulu kuduk siapapun akan berdiri saat melihatnya.


Melihat itu Minea dan Mikea langsung terdiam, dengan keringat dingin mengalir di tengkuk mereka. 


Tentu saja keduanya melakukannya dan menunjukkan wajah mereka yang terlihat sangat mirip. Keduanya memanglah kembar, bahkan rambut mereka sama-sama gimbal. Jika warna mata mereka sama, mungkin akan sulit membedakan keduanya. 


Minea memiliki warna mata berwarna hijau daun sedangkan Mikea memiliki warna mata biru langit. Kulit mereka putih di wajah mereka terkesan seperti remaja yang masih berumur belasan tahun. Namun kulit putih keduanya sekarang berubah pucat karena ketakutan melihat Lilia di depan mereka.


Minea dan Mikea menoleh ke arah Daru. Seolah dari sorot mata keduanya berteriak memohon bantuan pada Daru. Tetapi, Daru langsung menurunkan topi koboinya untuk menyembunyikan wajahnya. Melihat penolakan Daru keduanya langsung menoleh ke arah Reny. Tapi Reny langsung berpaling dengan keringat dingin di wajahnya.


'KALIAAN penghianaaat!' teriak Mikea dan Minea di dalam hati, karena rekan-rekannya yang tidak peduli dengan kondisi mereka berdua, yang jelas dalam ancaman dari predator di depan mereka.

__ADS_1


Di saat yang sama Lilia berjalan ke arah keduanya dengan senyum iblis yang sama seperti sebelumnya. Bahkan dibayangan Mikea dan Minea, mata Lilia seolah mengeluarkan cahaya mereka mengerikan.


"K-komandan maafkan kami!" saking takutnya keduanya bahkan langsung bersujud meminta ampunan pada Lilia. "Kami berdua mengaku salah! Jadi tolong maafkan kami!"


Namun, Lilia hanya diam. Dia sama sekali tidak menjawab keduanya.


Saat Minea dan Mikea mengangkat wajah mereka, sebuah tangan langsung mencengkram wajah mereka masing-masing.


"Gyaaa!" Minea menjerit kesakitan.


"Toloooong! Siapapun tolong aku!" Mikea bahkan berteriak memohon pertolongan. Tapi tidak ada satupun yang menjawab keduanya. Hanya dengkuran kodok yang terdengar, seolah kodok itu bersenandung melihat penderitaan keduanya.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....


...🙏🙏🙏...


......★★★......

__ADS_1


__ADS_2