
Rain terus berjalan mengikuti ibunya. Matanya memandangi sekitarnya dengan kekaguman yang serata tak ada habisnya. Ada banyak guci yang terbuat dari berlian. Ada juga mahkota yang ukurannya sangat besar bahkan jika rain berdiri di tengahnya itu akan tampak seperti berdiri di tengah badar emas yang melingkar.
Ada juga mutiara yang ukurannya jelas tidak normal. Itu lebih besar dari bola kristal di istana yang diameternya bahkan 2 meter.
"Kita sudah sampai," kata Elsa.
Rain yang teralihkan dengan kekayaan ibunya kini menoleh ke arah ibunya yang berdiri di depannya. Tapi yang menjadi fokus perhatiannya adalah gerbang besar yang ada di depan ibunya.
Gerbang ini tidak terbuat dari emas. Melainkan batu hitam yang sangat mengkilap. Bentuknya seperti gerbang utama istana yang memiliki dua pintu di setiap sisinya. Hanya saja ukurannya yang 10 kali lipat lebih besar dari gerbang istana.
"Siapa wanita yang terukir di pintu itu?" gumam Rain saat melihat ada ukiran setengah badan berbentuk wanita sangat cantik dengan da sayap. Tapi setiap sayap memiliki bentuk yang berbeda. Sayap kanan adalah sayap burung, sedangkan yang kiri adalah sayap kelelawar.
"Dia adalah Erdia dari ras Demon Sandria, salah satu pahlawan pada zaman perang dalam perang besar ribuan tahun lalu," kata Elsa dengan senyum sedih di wajahnya.
"Demon!?" Rain tersentak mendengar ibunya menyebut Demon. Apalagi ibunya mengatakan bahwa wanita Demon itu adalah salah satu pahlawan.
"Tunggu dulu ibu, kenapa dia pahlawan. Bukankah sejarah legenda perang besar ribuan tahun dulu adalah ulah Demon?" tanya Rain dengan wajah penasaran.
Elsa mengangguk. "Kamu benar, tapi juga tidak sepenuhnya benar," jelas Elsa.
__ADS_1
"Tunggu dulu bu, apa maksudnya. Aku tidak paham. Juga apa maksudnya dengan Demon Sandria?"
"Rain, saat terjadinya perang besar ribuan tahun lalu, yang memulainya adalah raja Demon pertama. Dia berambisi menguasai seluruh benua. Bahkan dia rela membunuh kaumnya sendiri hanya untuk memenuhi keserakahannya itu." Elsa berbalik dan menatap kearah putranya.
"Seluruh dunia berperang bersama, hanya untuk mengalahkan ambisi dari raja demon. Di antara para pejuang juga ada yang namanya ras Sandria. Mereka adalah ras setengah Demon dan juga setengah demi human. Namun, karena warna kulit mereka yang biru pucat seperti para Demon, ras Sandria juga dianggap sebagai ras Demon. Mereka lah yang berjuang bersama ras lainnya untuk mengalahkan raja Demon pertama," jelas Elsa.
Rain tertegun mendengarnya. Ini pertama kalinya dia mendengar ras bernama Sandria. Ini juga pertama kalinya dia mendengar cerita yang berbeda dari apa yang dijelaskan oleh buku sejarah.
"Tapi Bu, kenapa kamu bisa tahu semua ini?" tanya Rain.
"Karena kakek buyutmu adalah salah satu dari para pahlawan," ungkap Elsa.
"Hanya saja namanya tidak tertulis dalam sejarah," ungkap Elsa.
"Tapi kenapa. Jika leluhur kita adalah pahlawan kenapa mereka tidak menulis nama mereka di dalam sejarah. Jika itu ditulis bukankah kerajaan kita, akan sangat dihormati kerajaan lain?"
"Karena itulah pahlawan," ucap Elsa dengan senyum.
Rain tampak bingung. Apa maksud perkataan ibunya ini? Rain sama sekali, tidak bisa memahaminya.
__ADS_1
"Rain, pahlawan bukanlah orang yang menulis nama mereka agar di kenang. Tapi adalah orang yang dengan tulus berdedikasi untuk tujuan kebenaran." Elsa berjalan dan berjongkok tepat di depan putranya. "Orang yang menulis sejarah bukanlah pahlawan. Karena seorang pahlawan pasti tidak pernah menulis namanya sendiri sebagai pahlawan."
Rain menyadari satu hal. Kakeknya (Bauld) juga dianggap sebagai pahlawan. Tapi kakeknya sendiri tidak pernah menganggap dirinya sebagai pahlawan.
"Apa kamu mengerti maksud ibu?" tanya Elsa.
"Ya," Rain mengangguk. 'Pahlawan, bukanlah gelar yang dijunjung oleh diri sendiri. Melainkan gelar yang melekat karena orang lainlah yang menjunjungnya,' batin Rain.
"Tapi bu, dalam buku sejarah. Di sana tertulis bahwa yang menulis itu adalah pahlawan sendiri, apa jangan-ja,-"
Elsa langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir anaknya. "Seperti yang ibu bilang pahlawan bukanlah orang yang menulis kepahlawanannya," kata Elsa dengan senyum lembut.
Mata Rain perlahan membesar. Seolah menyadari sesuatu.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
...🙏🙏🙏...
__ADS_1
......★★★......