The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Seratus Tombak Vs Pedang Api - Part 4


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya.


Setelah membicarakan mengenai upacara kebangkitan dengan William. Terlihat ekspresi kebingungan terlukis di raut wajah anaknya itu.


Elsa pun menemani William kembali ke kamarnya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut William saat itu. 


Elsa juga tidak langsung pergi meninggalkan William. Dia duduk di tepi tempat tidur menemani anaknya yang tampak masih memikirkan hal itu.


"William, jangan memasang wajah seperti itu. Percayalah, semua pasti akan baik-baik saja, karena anak ibu  pasti akan menjadi pria yang luar biasa," kata Elsa, sambil membelai kepala anaknya yang duduk di sebelahnya.


William pun sontak menyandarkan tubuhnya ke ibunya. "Bu, apa aku benar-benar bisa membangkitkan kekuatan rohku? Sampai sekarang aku bahkan belum bisa menggunakannya."


Wajah William tampak sangat lesu.


Elsa pun memeluk anaknya, tampak wajah sedihnya. Sayangnya William tidak menyadari itu.


"Tak apa, ibu lebih tahu siapa anak ibu, mau seperti apapun orang berkata, ibu tetap percaya pada anak ibu," Elsa mencium kepala anaknya itu. 'Ya, tidak ada satupun orang yang benar-benar tau mengenai William, kecuali aku,' batin Elsa.


"Terima kasih, bu," balas William.


Walau dia sudah menunjukkan proyeksi kepada suaminya. Elsa tidak yakin, apakah Desir benar-benar paham mengenai hal ini. Rasa ragu ini entah kenapa mulai menyelimuti kalbunya.


"Ya, sudah sebaiknya kamu istirahat, kamu juga masih belum benar-benar sembuhkan dari lukamu, jadi sebaiknya perbanyak beristirahat," kata Elsa.

__ADS_1


"Hum," William mengangguk menuruti perkataan ibunya.


"Ya sudah, ibu pergi dulu. Jangan coba kabur lagi dari kamar," kata Elsa sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Eh? Ah, Y-ya, aku gak pernah kabur dari kamar kok," William tersentak kaget mendengar itu. 'Jangan bilang ibu melihatku waktu itu?' batin William.


Mendengar perkataan anaknya dengan wajah panik, membuat Elsa tersenyum lucu. "Iya, ibu percaya."


"Ya sudah ibu mau pergi kan, aku juga mau istirahat," William langsung tidur dan menyelimuti tubuhnya di tempat tidur.


Elsa hanya bisa tersenyum melihatnya, lalu pergi keluar, meninggalkannya.


Namun sesampainya di luar kamar William. Elsa langsung menatap kearah lain dengan tatapan sangat tajam. "Siapa yang bertarung dengan Rain?" gumam Elsa.


Tidak salah lagi. Energi roh yang dia rasakan adalah energi roh Rain. Elsa sangat mengenali energi Rain. Jadi dia tidak mungkin salah.


★★★


Kembali ke waktu sebenarnya.


Luke berubah pucat dalam sekejap. Bukan karena Elsa yang menatapnya dengan sangat dingin. Tapi karena Energi Elsa yang terpancar membuat tubuhnya seperti ini.


"Luke … tidak, Jendral besar Luke Barbosa! Apa yang telah kau lakukan pada anakku!" Asap hitam mulai muncul, setelah menguap dari tubuh Elsa.

__ADS_1


Luke yang tangannya dipegang oleh Elsa, merasakan energi ekstrim mengalir masuk ke tubuhnya seolah menggerogoti energinya sendiri.


Saat Elsa melepaskan genggamannya. Tubuh Luke langsung merasakan rasa lelah yang luar biasa. Tubuhnya terhuyung dan jatuh berlutut dengan kepala menunduk ke arah Elsa.


'Baru kali ini aku merasakan kekuatan semengerikan ini. Ternyata julukan sebagai Ratu ilusi, hanya sebagian kecil dari julukannya,' batin Luke.


Wajah Luke sangat pucat sekarang. Energi roh didalam tubuhnya benar-benar terkuras hanya karena Elsa menyentuhnya. Siapa yang menyangka hanya dengan cara itu. Bisa membuat dirinya sampai seperti ini. Pikir Luke.


"Jawab aku Luke!" Badai energi meluap dari tubuh Elsa, membuat hembusan angin yang sangat kuat, dengan Elsa sebagai pusatnya.


Rain baru pertama kali melihat ibunya semarah ini. Dia membisu di tempatnya. Siapa yang menyangka jika kekuatan ibunya semengerikan ini. 


Rain sangat mengidolakan kakeknya, yaitu Bauld. Dia bahkan berlatih menggunakan tombak agar bisa seperti kakeknya. Rain menganggap bahwa kakeknya adalah orang terkuat. 


Namun, sayangnya itu sebuah kesalahan yang sama sekali tidak dia sadari. Orang terkuat di kerajaan saat ini adalah Elsa. Yaitu ibunya sendiri. 


"Luke, apa kamu tidak mendengarku?" tanya Elsa sambil menatap Luke dengan sangat sinis.


Sebaliknya Luke masih berlutut di tanah dengan wajah menunduk. Dia tidak berani menatap kearah Elsa. Entah kenapa itu terjadi, tapi instingnya berkata bahwa jangan tatap mata Elsa.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


......★★★......


__ADS_2