The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Rapat - Part 2


__ADS_3

Tatapan Desir menatap Matias dengan sangat tajam. "Matias, apa maksudmu menanyakan hal itu?" 


Desir tentu tahu bahwa ini hal ini pasti akan terjadi. Sama seperti saat Elsa memberitahunya. Namun, bagian terdalam di hatinya tetap tidak bisa menerima ini. Tidak hanya masalah William, tapi itu juga secara tidak langsung diarahkan pada istrinya.


'Ups, hampir saja aku tertawa,' kata Matias. Dia berusaha sebaik mungkin menjaga ekspresi wajahnya. Jujur dia ingin tertawa sambil berteriak ke arah Desir, saat melihat Dasir mulai terpancing perkataannya. 


"Maaf atas ketidak sopanan saya, Yang Mulia," Matias menunduk dalam ke arah Desir. Tapi itu bukan, karena dia sepenuhnya berakting meminta maaf. Melainkan karena sudah tidak kuat lagi menahan senyumannya.


Hanya Turk dan Barl yang menyadari itu. 


"Itu benar Yang Mulia. Bukan maksud kami meragukan keturunan keluarga kerajaan, hanya saja ... ada pengetahuan yang sangat umum di kerajaan ini," kata Turk. 


Barl melanjutkan. "Mustahil seseorang terluka separah itu hanya karena imbas energi roh semata, ja,-" 


Perkataan Barl langsung di potong Desir. Dia sudah tahu apa, kata selanjutnya yang akan Barl ucapkan. "Jadi kalian ingin berkata bahwa William tidak memiliki kekuatan roh bukan? Atau mungkin aku sebut saja sebagai anak bakat kosong?" tanya Desir.


"Itu benar, Yang Mulia," angguk Barl.


"Lalu, apa yang salah dengan itu? Apa salahnya jika memang William tidak memiliki kekuatan roh di tubuhnya? Apa?" cerca Desir. Terlihat ada emosi dari nada bicaranya.

__ADS_1


Rustar dan para bangsawan lain yang ada di sana, mulai memasang wajah gelisah mendengar pertanyaan Desir. Yang seolah meminta kejelasan, dari apa yang seharusnya sudah jelas.


"Yang Mulia tentu ini menjadi pertanyaan besar bagi kami. Anda adalah pengguna roh, begitupun juga dengan Yang Mulia Elsa," ungkap Turk.


Matias menambahkan. "Bahkan beliau dijuluki sebagai ratu assassin, sedangkan anda juga dijuluki sebagai sang petir. Mustahil rasanya jika memang pangeran William anak anda dan Yang Mulia Elsa, tapi dia sama sekali tidak memiliki kekuatan roh sama sekali di tubuhnya," ujarnya. 


"Apa, mungkin pangeran adalah anak ha,-" imbuh Barl. 


"Hentikan," Desir langsung memotong perkataannya. Desir menghentikannya sebelum dia mendengar Barl menyebut William anak haram.


Desir tidak akan membiarkan anaknya disebut seperti itu.


Tidak tampak, seperti apa ekspresi wajah Desir sekarang. Namun, walau mereka tidak bisa melihatnya, mereka semua sudah tahu. Bahwa desir sekarang benar-benar marah.


Kilatan merambat memenuhi seluruh ruangan itu. Semua orang berubah menjadi pucat, bahkan mereka juga harus membuat perisai dari energi roh, untuk melindungi tubuh mereka dari tekanan energi yang sangat luar biasa ini.


Matias, Turk, dan Barl terlihat memasang senyum di wajah mereka melihat reaksi Desir yang akhirnya terbawa emosinya.


"Yang Mulia, tolong tenanglah. Tolong tenangkan dirimu, Yang Mulia!" Rustar berusaha menenangkan Desir.

__ADS_1


Tidak peduli dengan apa yang terjadi. Matias terus mencerca desir dengan pernyataannya. "Maafkan kami jika tidak sopan Yang Mulia. Tapi berita itu sudah tersebar luas di kerajaan, dan banyak para warga yang mempertanyakan ini," kata Matias.


"Yang Mulia, ini bukan demi kami, hanya saja ini pasti akan menimbulkan kekacauan dan isu buruk di masyarakat, jika tidak dibuktikan," kata Turk.


"Itu benar Yang Mulia. Kami dan rakyat perlu bukti. Bukti bahwa pangeran William benar-benar anakmu, Yang Mulia," ujar Barl.


"Kalian bertiga diam!" Rustar membentak ketiga orang busuk itu. 


Ketiganya pun terdiam dengan menundukkan kepala mereka. Namun tampak jelas senyuman di wajah ketiganya.


"Yang Mulia, tolong tenangkan dirimu Yang Mulia … ," Rustar masih terus berusaha menenangkan Desir.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....


...🙏🙏🙏...


......★★★......

__ADS_1


__ADS_2