
Elsa meninggalkan Desir begitu saja. Elsa hanya tidak ingin mendengar Desir yang terus-terusan berusaha meyakinkannya untuk mengurungkan niatnya.
Ada ekspresi sedih di wajah Elsa. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan suaminya begitu saja seperti ini. Tapi inilah keputusan yang sudah dia buat dan pikirkan matang-matang. Lagi pula ini demi anaknya.
Walau dia sudah menunjukkan proyeksi pada suaminya. Elsa beranggapan sepertinya Desir masih belum tahu apa-apa mengenai tanggung jawab, yang William emban kelak. Sehingga membuat Desir masih terbawa dengan emosinya sendiri.
Tentu itu hal yang wajar. Mengingat Elsa adalah wanita yang dicintainya.
Elsa juga juga sangat memahaminya, dan tidak ingin menyalahkan sikap suaminya. Jauh di lubuk hatinya Elsa malah bahagia, karena sama saja membuktikan padanya bahwa Desir mengkhawatirkannya. Namun, di sisi lain ia juga tidak boleh sampai terselimuti oleh perasaan itu.
Elsa yang berjalan, membuka tangannya, saat itu sebuah cahaya merah redup muncul di telapak tangannya. Saat cahaya itu perlahan mulai menghilang terlihat sebuah kristal kecil berbentuk prisma berwarna merah.
"Lilia, Reny … kumpulkan semuanya dan temui aku besok," kata Elsa, lalu kristal itu berubah menjadi debu.
★★★
Keesokan harinya, di ruang Kerjanya Desir tampak sangat pucat. Wajahnya terus menatap meja kosong di depannya. Kantung matanya menghitam.
Dia sama sekali tidak bisa tidur semalam, karena memikirkan rencana istrinya. Yang benar-benar mengagetkannya.
*Tok tok
Terdengar ketukan dari luar. Tapi sepertinya Desir tidak memperhatikannya. Dia terjebak dalam pemikirannya sendiri.
"Yang Mulia, apa kamu di dalam?" Terdengar seseorang memanggil dari balik pintu.
Dasir masih tetap pada posisi yang sama, dia tidak menunjukan gerakan sedikitpun. Sepertinya dia masih sama sekali mendengar apapun.
"Yang Mulia …," orang itu memanggilnya sekali lagi. Tapi tetap sama, tidak ada jawaban dari Desir.
Gagang pintu bergerak, perlahan pintu terbuka, dan orang yang ada di balik pintu ternyata Rustar.
Tatapan Rustar.langsung tertuju pada Desir yang duduk di balik meja kerjanya. Wajahnya tampak sangat pucat, ekspresinya seperti seseorang yang kebingungan.
'Apa yang terjadi,' batin Rustar.
__ADS_1
Dengan cemas, Rustar berjalan ke arah Desir yang tampak bengong. "Yang Mulia," panggilnya.
Tapi Desir tidak menyahutinya sama sekali.
"Yang Mulia, apa kamu baik-baik saja?" tanya Rustar sambil menepuk sekali pundak Desir.
Desir tergregah. Dia tersadar. Terlihat wajahnya tampak sangat kaget dan linglung. Hingga akhirnya dia menyadari bahwa ada Rustar di sebelahnya.
"Rustar? sejak kapan kamu masuk? Kenapa kamu tidak mengetuk pintu sama sekali?" tanya Desir.
"Saya sudah melakukannya, Yang Mulia … tapi sepertinya anda tidak menyadarinya," balas Rustar.
"B-begitu ya, maafkan aku," balas Desir laku menunduk sambil memijat pelipisnya.
"Tidak Yang Mulia, akulah yang seharusnya meminta maaf karena masuk tanpa seizin anda," balas Rustar, lalu bertanya. "Yang Mulia, wajahmu tampak sangat pucat. Apa telah terjadi sesuatu yang membebani pikiranmu?"
Desir menggelengkan kepalanya. "Tidak, sama sekali tidak," balasnya.
Dengan melihat wajah Desir saja, Rustar sudah tahu, kalau pasti ada sesuatu. Namun, sepertinya Desir tidak mau membicarakannya. Jadi Rustar memilih mengabaikannya untuk sekarang.
'Apa yang harus aku lakukan? apa ini waktu yang pas untuk menyampaikan ini?' batin Rustar. Dia ragu, jika berita ini malah menjadi beban pikiran lain untuk tuannya. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan berita ini begitu saja.
Merasa tidak ada tanggapan dari Rustar. Desir menoleh dan memandang ke arah bawahannya itu. Dia melihat wajah Rustar yang tampak gelisah seolah ragu akan sesuatu.
"Rustar? Wajahmu mengatakan ada sesuatu yang buruk bukan. Sebenarnya ada apa cepat katakan," pinta Desir.
"I-itu benar Yang Mulia," Rustar membenarkannya.
"Jadi Berita buruk apa? Cepat katakan sudah," pinta Desir.
Mendengar itu, Rustar langsung menyerahkan selembar kertas yang dia bawa kepada Desir. "Ini Yang Mulia," ucapnya.
Desir mengerutkan kening. Lalu meraih kertas itu, dan mulai membacanya. Matanya yang tadinya terlihat tidak peduli berubah menjadi serius.
Desir ters membacanya dan matanya perlahan membesar karena apa yang dia baca. Desir meremas kertas itu dengan sangat emosi.
__ADS_1
"Sepertinya, insiden yang menimpa Pangeran William, sudah tersebar dan didengar oleh kaum bangsawan. Dan mereka meminta konfirmasi dari Yang Mulia, sekaligus meminta pangeran melakukan upacara kebangkitan secepatnya," kata Rustar.
"Kurang Ajar!" Desir memukul meja sangat keras sampai hancur menjadi dua. Wajahnya tampak sangat marah. Kekuatan Roh Desir juga meluap dan membuat ruangan itu bergetar.
"Y-yang Mulia?" Rustar kaget dengan tingkah tuannya yang jarang sekali marah. Kini tiba-tiba marah dengan wajah yang sangat menakutkan.
"Yang mulia tolong jangan tenangkan dirimu!" Rustar berusaha menenangkannya.
"Hahh … maaf, aku tidak bisa menahan emosiku," kata Desir. Lalu kembali duduk.
Rustar juga memperbaiki meja Desir dengan kekuatan Rohnya. Terlihat meja yang hancur menjadi dua kembali pulih dan menyatu ke bentuk semula.
"Apa yang harus aku lakukan …," gumam Desir dengan wajah yang tampak sangat kebingungan.
"Yang Mulia?" Rustar yang melihatnya juga tampak sangat khawatir.
"Lakukan saja seperti yang mereka inginkan. Tidak ada pilihan lain." Terdengar suara wanita mengatakan itu.
Desir dan Rustar kaget, dan langsung melihat ke pemilik suara itu.
"Elsa!?" "Yang Mulia Ratu!?" Desir dan Rustar sangat kaget melihat Elsa yang tiba-tiba muncul. Seperti hantu yang menampakkan diri dengan sangat jelas.
Elsa langsung menatap ke arah Rustar.
"Rustar, keluarlah … ada yang ingin aku bicarakan dengan suamiku," kata Elsa.
Rustar langsung menunduk dalam kearah Elsa."Kalau begitu saya ijin undur diri dulu, Yang Mulia … Yang Mulia Ratu," kata Rustar lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
...🙏🙏🙏...
......★★★......
__ADS_1