
Desir sekarang duduk bersandar di sofa, yang ada di ruang kerjanya. Tampak dia sedang memijat kepalanya yang mendongak ke atas.
Kepalanya terasa seperti akan meledak kapan saja. Memikirkan masalah yang mau tidak mau harus jalani.
"Bagaimana ini bisa menjadi seperti ini," gumam Desir. Semuanya terasa sangat mendadak untuknya. Baru beberapa hari dia melihat anak keduanya melakukan upacara kebangkitan. Kini beralih ke anak ketiganya.
Tidak pernah terpikirkan jika akan menjadi seperti ini. Hanya karena latih tanding anak-anak yang seharusnya hanya latihan antara adik dan kakak, kini berubah serumit ini.
Semua masalah terasa langsung menghantamnya secara bertubi-tubi. Itu akibat William yang diprediksi tidak memiliki kekuatan roh di dalam tubuhnya.
"Apa kamu baik-baik saja, sayang?"
Tiba-tiba, Desir mendengar suara lembut dari wanita yang sangat dia cintai. Desir sontak bangun dari sandarannya dan menoleh ke arah pemilik suara itu. Benar saja ada Elsa yang kini duduk di sebelahnya.
Tidak perlu mempertanyakan sejak kapan Elsa berada di sana. Sudah menjadi hal biasa baginya, melihat istrinya yang tiba-tiba datang tanpa dia sadari kehadirannya.
"Apa aku terlihat baik-baik saja, bagimu?" balik tanya Desir.
__ADS_1
Tentu saja tidak. Elsa juga paham akan hal itu. "Apa telah terjadi sesuatu?"
"Dua hari lalu para bangsawan mengadakan rapat mendadak. Dan yang mereka bahas, tentu saja mengenai William," Desir meraih kepala Elsa dengan penuh kasih, lalu menyandarkan di pundaknya. "Maaf kalau tidak memberitahumu masalah ini lebih cepat," ucapnya.
"Um, tak apa," balas Elsa.
Sebenarnya Elsa sudah tahu masalah ini, bahkan jauh sebelum para bangsawan itu mengirim surat pada suaminya. Dia sudah mengirimkan mata-mata yang merupakan hewan magis, jauh hari sebelum dia bertemu dengan kelima anak buahnya.
Elsa sengaja tidak menanyakan ini, dan bertingkah seolah tidak tahu menahu tentang ini pada suaminya. Itu karena dia sedang melihat apa yang Desir ingin lakukan di belakangnya.
Mendengar Desir mengungkapkan ini membuat Elsa sedikit bisa tenang. Mungkin suaminya melakukan itu juga untuk dirinya. Walau tidak tahu apa tujuannya, tapi Elsa merasa yakin tentang hal ini.
"Empat hari lagi. William akan melakukan upacara kebangkitan," ungkap Desir.
"Begitu ya," gumam Elsa. Dengan wajah sedih. Membayangkan seperti apa wajah anaknya nanti setelah upacara? Elsa tidak sanggup, tapi ini juga demi William juga.
"Ini sebenarnya terlalu cepat. Entah apa yang para bangsawan sial*n itu inginkan. Hanya saja aku merasa kasihan pada William." Desir mengungkapkan ini sebenar-benarnya dengan apa yang dia rasakan.
__ADS_1
"Aku bingung bagaimana aku harus mengatakan ini pada William, Eria sengaja tidak aku beri tahu masalah ini. Aku takut jika dia tahu masalah ini. Dia akan membuat kerusuhan seperti dulu," gumam Desir.
"Kamu benar," Elsa mengangguk setuju. Eria adalah satu-satunya anak mereka yang sama sekali tidak peduli dengan hal apapun. Rasa sayang terhadap saudara-saudaranya membuat Eria tidak segan melakukan hal-hal gila yang mungkin di luar nalar.
Teringat dulu Eria pernah mengarahkan pedang ke salah satu bangsawan disaat dia berumur tujuh tahun. Hanya karena mereka menertawakan adiknya yang terjatuh dan menangis.
"Sayang, mengenai para bangsawan ini. Kamu tidak perlu memikirkannya, karena mereka tidak bisa melakukan apapun lagi setelah hari upacara kebangkitan," ujar Elsa.
"Apa maksudmu?" Desir entah kenapa merasa ada maksud lain dibalik perkataan istrinya.
"Kamu tidak perlu tahu," Elsa bangkit dan menatap lurus ke arah suaminya. "Tidak seharusnya kamu menanggung beban ini sendiri, biarkan sisanya aku yang mengurusnya," ucapnya.
Tanda tanya besar muncul di kepala Desir. Tidak tahu apa maksud dari kalimat itu. Namun Desir merasa tenang mendengarnya.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
__ADS_1
...🙏🙏🙏...
......★★★......