The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Pertanyaan - Part 4


__ADS_3

Sesampainya taman.


"Lihat! Aku gak bohong kan?" Lisbet dengan wajah penuh kebanggan memproklamirkan dirinya sendiri, sambil menunjuk ke arah William yang terlihat sedang duduk dari kejauhan.


"Eh? T-ternyata benar," balas Richard dengan nada gumaman. Dia dibuat tertegun saat melihat William.


Richard sama sekali tidak menyangka bahwa anaknya ternyata tidak mengada-ngada.


"Iya kan," kata Lisbet. 


Richard melirik kerah adiknya yang terlihat memasang penuh kemenangan di wajahnya, sambil mulai berjalan mengendap-ngendap.


"Lisbet kamu mau apa?" tanya Richard yang melihat itu.


"Tentu saja mengagetkan kak Wil," balas Lisbet sambil mengacungkan jempolnya ke arah Richard.


"Tidak, tunggu dulu. Jangan lakukan itu," kata Richard, lalu meraih tangan adiknya.


"Eeeh, kenapa?" Lisbet tampak mengeluh dengan Richard yang menghentikan niatnya.


"Kak Wil, mungkin masih belum sembuh total, jadi jangan lakukan itu," jelas Richard lalu menunjuk ke arah William dengan tatapannya. "Lihat, bahkan Kak Wil terlihat hanya duduk diam di sana, jadi jangan lakukan itu. Lebih baik kita sapa kakak seperti biasa saja," sarannya.


Mendengar itu Lisbet terlihat memasang wajah bosannya. "Yahh, ini gak seru," keluhnya sekali lagi. Tapi dia menuruti nasihat Richard.


Keduanya pun berjalan bersama menuju tempat William.


★★★ 


William terlihat duduk menunduk di tepi taman. Wajahnya terlihat jelas bahwa dia masih memikirkan kejadian sebelumnya.


'Apa lebih baik aku temui kakak saja?' pikirnya. William merasa perlu bertanya masalah ini pada kakaknya. Jujur dia malah merasa tidak enak, jika Rain seperti itu karena dirinya.

__ADS_1


"Kakak~."


William mendengar suara yang tidak asing dari belakangnya. Saat dia menoleh saat itu seorang anak perempuan berambut perak langsung melompat dan memeluknya.


"Ugh!" William yang kaget dengan spontan menangkap dan memeluk anak itu.


"Lisbet, bukannya kita sudah sepakat tidak bertindak seperti itu?" terdengar suara anak laki-laki yang kesal.


"Lisbet, Richard," sebut William saat melihat adik perempuan dan laki-lakinya ada di sini. 


"Kak, tolong marahi anak satu ini," kata Richard, dan berjalan ke arah Lisbet lalu mencubit pipi tembemnya. "Dia sudah diberi tahu kalau kamu masih baru pulih, dan masih saja bertingkah seperti itu," ucapnya jengkel.


"Awaawa aaiit—," terlihat Lisbet mengeluh kesakitan karena cubitan Richard.


"Sudah-sudah, kalian berdua. Jangan bertengkar seperti ini terus," kata William sambil melepaskan tangan Richard yang mencubit Lisbet.


Melihat tingkah keduanya seperti ini sudah hal yang biasa bagi William. Dia hanya bisa tersenyum kecut saat melihat pertengkaran lucu kedua adiknya ini.


William tersenyum lalu menepuk-nepuk kepala adiknya. "Ya, aku baik-baik saja. Bahkan tubuhku sekarang sudah sehat, lihat," kata William sambil menunjukkan otot di lengannya yang sama sekali belum ada isinya.


Melihat itu, Lisbet langsung berbalik menoleh ke arah Richard. "Liat, kak Wil baik-baik saja, bwee~," ucapnya sambil menjulurkan lidahnya.


Bibir Richard berkedut, bersamaan memasang wajah jengkelnya saat melihat Lisbet melet ke arahnya.


"Lis, sudah … jangan seperti itu. Tidak baik," tegur William.


Disaat ketiganya sedang menegur sapa, tiba-tiba ada suara perempuan yang menyela pembicaraan William.dan keda adiknya.


"Yuhuuu~ liaaat siapaa yang dataaang~ ... jeng~jeng~," ucap sosok itu, saat dia tiba-tiba mendarat. Seolah mendarat dari langit. 


William, Richard, dan Lisbet terdiam dengan mulut terbuka saat melihat kakak mereka Eria datang entah dari mana, sambil berpose kedua tangan di pinggang dan kaki ngangkang, walau dia sedang mengenakan gaun. Untungnya gaun itu gaun panjang yang menutupi sampai mata kaki, jika tidak ... itu jelas sama sekali tidak mencerminkan seorang putri kerajaan.

__ADS_1


"Apa kalian lihat? Apa kalian lihat? Gimana? Keren kaaan~? Hahaha," seru Eria sambi tertawa keras seperti orang. tua.


William dan Richard hanya diam, dengan wajah konyol merek masing-masing saat melihat tingkah kakak tertua mereka yang seperti ini. Dari mana juga istilah keren itu muncul? Lagi pula 'keren' apa yang dia maksud? pikir keduanya.


Apa itu karena Eria yang menggunakan teknik rohnya untuk terbang? jika hanya itu, bukankah semua pengguna Roh sudah seharusnya bisa melakuka itu? Pikir keduanya.


Berbeda dengan William.dan Richard yang measang wajah aneh mereka. Lisbet malah terlihat kebalikannya, dia seperti seorang fans fanatik yang baru saja melihat idolanya.


'Apa jadinya jika ibu melihatnya seperti ini?' batin William. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan, hukuman apa yang akan Eria terima jika ibunya tahu bahwa putri pertama mereka sebar-bar ini.


'Aku penasaran, apa kak Eria dulu ikut pelajaran etika?' batin Richard. Dirinya berpikir mungkin ini alasan ayah dan ibunya memaksa.da dan Lisbet untuk ikut pelajaran etika sejak dini.


Di saat keduanya memikirkan keluhan mereka masing-masing. Terlihat satu anak yang memasang wajah paling bertolak belakang dengan keduanya.


'K-kereeeen!' batin Lisbet, sambil menatap kakaknya Eria dengan wajah penuh kekaguman.


Melihat ketimpangan suasana di depannya. Eria mengeluh. "William, Richard … bisakah kalian hentikan tatapan menyakitkan itu padaku? Contohlah Lisbet!" ujarnya dengan statement penuh paksaan, sambil menunjuk ke arah Lisbet.


"Tidak!"  balas William dan Richard secara serentak. "Dan juga jangan tularkan tingkahmu pada Lisbet kak!"


"Ugh!" Eria pun langsung tersentak membisu mendengar keluhan senada itu.


Keempat bersaudara ini, berkumpul di taman dengan suasana mereka masing-masing. Sayang semua itu kurang karena Rain tidak ada di sana.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....


...🙏🙏🙏...


......★★★......

__ADS_1


__ADS_2