
Saat ini Desir melirik dalam diam, ke arah ketiga bangsawan yang terlihat saling berbisik satu sama. Ketiganya adalah Matias, Turk, dan Barl.
"Apa kalian bertiga sudah selesai berdebatnya?" tanya Desir dengan tatapan bosan. "Jika sudah, segera mulai rapat ini. Aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk hal yang tidak jelas seperti ini. Aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus aku lakukan," ungkapnya.
Beberapa bangsawan terlihat pucat setelah mendengar perkataan Desir. Ini seperti isyarat tidak langsung yang disampaikan kepada semua orang di ruangan ini bahwa dia tidak ingin bertele-tele.
Bagi Desir, untuk apa juga berlama-lama disini disaat dia sudah tahu apa yang akan mereka bahas.
"B-baik Yang Mulia," balas Salah satu bangsawan dengan nada gugup.
"Buat sesingkat mungkin, dan langsung ke intinya saja," pinta Desir, sambil mengetuk-ngetuk meja menggunakan jari telunjuknya.
"Baik, Yang Mulia," kali ini yang menyahuti adalah Matias. 'Beraninya dia berkata ini tidak jelas!' batin Matias yang jengkel perkataan Desir. Tentu saja dia tidak menunjukkan kekesalan nya itu wajahnya.
Matias melirik ke arah Turk, dan Turk mengangguk sebagai respon. Turk sudah paham apa yang harus dia lakukan.
"Yang Mulia, kami mendengar isu bahwa pangeran William mengalami luka saat berlatih tanding dengan pangeran Rain. Apa itu benar, Yang Mulia?" tanya Turk. 'Tidak ada gunanya mengelak,' batin Turk. Sambil menyembunyikan senyum liciknya.
__ADS_1
"Ya, itu benar," balas Desir.
Rustar dan semua orang membuka matanya lebar mendengar itu. Mereka tidak mengira bahwa Desir akan langsung mengakui itu begitu saja.
Mereka mengira awalnya Desir akan berdalih mengenai hal lain untuk mengalihkan pertanyaan ini.
Desir hanya mengikuti permintaan istrinya, yang menyuruhnya untuk mengakui semuanya. Lagi pula, andai istrinya menyuruh sebaliknya. Tidak ada gunanya menghindari pertanyaan semacam ini, pikir Desir.
Matias memasang senyum licik. "Yang Mulia jika boleh saya tahu apa yang membuat pangeran William bisa terluka, dan membuatnya tidak sadarkan diri dalam waktu yang lumayan lama?" tanya Matias.
'Benar-benar omong kosong,' batin Desir. Dia sadar bahwa pertanyaan itu jelas hanyalah dalih. Mereka seharusnya sudah tahu masalah ini.
Sekali lagi semua orang terdiam dengan jawaban Desir. Bahkan Matias tergagap karena itu.
"I-itu," Matias benar-benar terjebak dalam pertanyaannya sendiri. Dia tidak menyangka bahwa Desir tidak berbelit sama sekali.
'Yang Mulia, sebenarnya apa yang kamu lakukan!?' Rustar sama sekali tidak berani berkata-kata. Tapi dia terheran dan bingung. Mengapa Desir dengan santainya mengakui itu. Apa yang direncanakan Tuannya? Rustar sangat penasaran dengan hal ini.
__ADS_1
"Hahh—," Desir menghela nafas panjang dengan wajah bosan. "Jadi apa undangan rapat yang aku dapatkan, memang hanya untuk ini? Untuk menanyakan kondisi dan situasi William?" balik tanya Desir. Tapi saat Desir menanyakan ini, tatapannya berubah menjadi sangat dingin.
Semua orang yang ada di sana terlihat berubah pucat, dalam sekejap. Tidak terkecuali Matias dan dua rekannya.
"M-maafkan kami Yang Mulia, itu memang benar. Kami ingin membahas itu," kata Turk.
"Menurut kami ini sangat aneh, walau hanya terkena dampak energi roh … kondisi Pangeran seharusnya tidak sampai separah itu," imbuh Barl.
"Lalu?" tanya Desir.
"Yang Mulia, apa pangeran William benar-benar anakmu?" tanya Matias. Semua tatapan mengarah ke arah Matias. Tidak sedikit yang menatapnya dengan tatapan permusuhan.
Bahkan Desir yang tampak tenang dari tadi langsung mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan sensitif itu. Amarah di hatinya mulai muncul, saat mendengar status William dipertanyakan.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
__ADS_1
...🙏🙏🙏...
......★★★......