The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Seratus Tombak Vs Pedang Api - Part 1


__ADS_3

Kepanikan terjadi mulai dari anak-anak, dewasa, bahkan para perajurit yang bertugas sebagai penjaga di sana.


Ratusan tombak yang memiliki wujud sama melayang di udara dengan semua ujung runcing mengarah ke satu tempat. 


Yaitu ke arah empat orang yang tampak jatuh duduk dengan wajah ketakutan.


Rain yang menjadi penggerak dari ratusan tombak itu hanya menatap kosong ke arah mereka berempat.


"Aku tidak tahu apa yang kalian rencanakan, sampai jauh-jauh datang kemari hanya untuk berkata seperti itu," Rain dengan wajah dingin dan tanpa emosi di matanya mencibir mereka berempat. "Tapi jika kalian sudah siap dengan konsekuensinya, maka tak apa."


Rain mengangkat tangan kanannya ke atas. Saat itu semua tombak serentak bergerak, seolah mengunci Jarias, Gerald, Lark, dan Bill sebagai target.


"Apa ada pesan terakhir?" tanya Rain dengan wajah tanpa ekspresi. 


Jarias, dan ketiga lainnya tidak bisa berkata-kata, mulut mereka mengatup-ngatup. Namun tidak ada sepatah katapun yang keluar. Hanya keringat, yang membasahi wajah pucat mereka berempat yang tampak sangat ketakutan.


Saat itu seorang prajurit dengan berpakaian armor dan senjata lengkap, berbeda dengan prajurit pada umumnya berlari ke arah Rain dengan wajah sangat panik. Namanya adalah Luke, dia adalah jenderal besar kerajaan Brama.


Dia sebelumnya sedang berjalan-jalan dan berencana melihat latihan anak-anak dari kejauhan. Namu matanya langsung terbuka lebar saat sampai di tempat, dan melihat ada ratusan tombak terbuat dari tanah yang melayang di udara.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Luke langsung bergegas menuju pusat tempat latihan. Dan siapa sangka, dia tidak mengira jika orang yang melakukan itu adalah Rain.


Luke melompat dari tempatnya menuju tempat Rain secepat kilat, dan langsung berlutut tepat di depan Rain.


"Pangeran Rain ada apa ini?" tanya Luke dengan wajah panik.


Tidak biasanya Rain bertingkah sampai seperti ini. Itulah yang Luke pikirkan.


Melihat kedatangan Luke, Rain tampak seperti acuh tak acuh padanya. "Luke ya, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin membersihkan calon sampah kerajaan ini," ujar Rain.


Sejujurnya Luke merasakan niat membunuh yang kuat terpancar dari tubuh Rain. Mendengar Rain mengatakan itu sudah cukup untuknya mengetahui siapa yang menjadi targetnya. Tentu saja itu adalah empat orang anak yang ada dibelakangnya.


Namun Luke bergaya bodoh. "Tunggu dulu pangeran. Tolong tenangkan dirimu. Dan juga apa yang kamu maksud dengan sampah?" tanya Luke.


Bisa-bisanya orang sekaliber Luke yang seorang Jendral besar masih tidak paham maksudnya. Pikir Rain.


"Minggir, atau kamu mau menjadi payung mereka!" tuntut Rain memperingatkan Luke.


Namun Luke tidak bergeming sama sekali dengan ancaman itu. "Pangeran, tolong tenangkan dirimu. Mereka adalah putra dari bangsawan besar kerajaan ini Pangeran. Jika mereka kenapa-kenapa ini akan menjadi masalah yang sangat serius," jelas Luke.

__ADS_1


Luke berusaha membujuk Rain agar mengurungkan niatnya, dan menenangkan emosinya.


Namun Rain yang sama keras kepalanya dengan Eria tidak peduli sama sekali, dan malah membalik pertanyaan Luke. "Lalu bagaimana jika aku yang kenapa-napa?"


"Pangeran?" Luke tersikap. Dia tak percaya jika Rain akan menuntut pertanyaan yang tidak mungkin bisa dia jawab.


"Tidak bisa menjawab ya." Rain memasang senyum cemooh ke arah Luke "Sungguh ironi melihat kerajaan ini di isi dengan orang-orang sepertimu," gumamnya sambil menggelengkan kepalanya perlahan seolah prihatin.


Sayangnya Luke menangkap gumaman Rain, yang jelas menghinanya. "Maksudmu apa pangeran?" tanya Luke, sambil mengerutkan keningnya.


"Hahh, jawab saja. Minggir atau bertarung denganku. Luke! Jawab kau!" bentak Rain.


'Sepertinya tidak ada cara lain.' Luke dengan wajah penuh keterpaksaan mulai berdiri, dan menarik pedang di pinggangnya. "Maaf pangeran, karena aku tidak bisa membiarkanmu terkena masalah, maka dengan terpaksa aku harus menghentikanmu dengan cara ini," kata Luke sambil mengarahkan pedangnya ke arah Rain.


"Jadi itu pilihanmu, baiklah!" Rain tersenyum keji melihat Luke yang berani menentangnya.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


......★★★......


__ADS_2