
Di kamarnya William terlihat duduk di tepi tempat tidurnya sambil mengerang dan meregangkan tubuhnya, melemaskan otot-otot dan persendian tubuhnya. Rambut hitamnya bahkan masih terlihat acak-acakan, dengan wajah yang masih setengah ngantuk, karena baru saja bangun tidur.
"Hoam~." William menguap. "Apa aku bangun kesiangan lagi?" gumamnya. Saat melihat cahaya masuk dari celah jendela kamarnya.
William bangun dari tempat duduk, dan berjalan ke arah jendela, lalu membukanya.
Karena jendelanya menghadap langsung ke timur membuat matahari seolah dengan santai menyiram cahayanya ke wajah William.
"Ugh!" William mengerang, karena matanya yang masih perlu menyesuaikan diri saat terkena cahaya, hanya biasa dibuat menyipit karena saking silaunya.
"Sepertinya hari ini akan cerah," gumam William sambil tersenyum melihat ke langit. Tidak ada mendung atau awan gelap sedikitpun di sana, semua benar-benar biru, hanya ada beberapa bercak putih dari awan tipis di langit.
Ditambah kicauan burung yang bernyanyi ria, seolah bersuka cita dengan cerahnya hari ini.
Beberapa saat berlalu, dan William di tempat yang sama. Terlihat dia menatap ke arah taman, sambil menyandarkan wajah lesunya di tangan kanannya.
"Hahh, ini sangat membosankan," gumam William.
Walau ini hari yang cerah, namun tidak berarti akan membuat moodnya ikut cerah. William benar-benar tampak sangat bosan.
Sudah beberapa hari dirinya di kamar. Apa yang dilakukannya hanyalah makan bangun tiduran, lalu terlelap dan bangun lagi. Semua itu terus terulang beberapa hari ini. Tapi mau bagaimana lagi, ibunya melarangnya untuk keluar, karena dirinya belum benar-benar pulih. Jadi hanya bisa menurutinya.
__ADS_1
"Aaaaaaa! Jika aku seperti ini lagi hari ini, aku benar-benar seperti di penjara di kamarku sendiri!" William berteriak sambil memegangi kepalanya, ini sudah batas puncak kebosanannya. William merasa tidak betah jika harus di kamar terus seharian ini lagi. "Aku harus keluar!" tekadnya.
William berbalik, dan berganti pakaian. Lalu berjalan menuju pintu. Langkahnya terhenti.
Dia melihat ada dua bayangan yang terlihat berdiri di depan pintu. Tidak perlu ditanya siapa mereka.
"Jangan bilang bahkan ibu menaruh penjaga, di luar?" gumam William. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Jelas jika dia keluar dari kamar pasti para penjaga akan menghalanginya keluar. Walau dia berdalih itu tidak menjamin para penjaga tidak akan mengikutinya.
William terdiam merenung. Dia berpikir bagaimana caranya keluar dari kamarnya tanpa diketahui penjaga. Sedangkan hanya ada satu jalan keluar yaitu pintu kamarnya.
"Apa aku keluar dari sana saja?" gumam William. "Tapi bagaimana caranya?"
Ini yang menjadi masalah sekarang. Kamarnya ada di lantai dua, jika dia melompat, kakinya pasti patah. Tidak ada tangga juga. Mau menggunakan spray tidurnya, itu masih kurang panjang.
"Hm?" Mata William melihat ke arah meja nakas, di sebelah tempat tidurnya. Di belakang meja nakas itu ada beberapa tongkat pendek, yang sering digunakan untuk berlatih pedang. Tongkat-tongkat itu bisa di sambungkan satu sama lain, jika dia ingin berlatih tombak.
"Aku ragu ini bisa dilakukan, tapi seharusnya bisa jika aku mengurangi lajunya dengan mengerem menggunakan tanganku," gumam William.
William berpikir keluar dari kamarnya melompat dengan tongkat milikinya itu. Dia tidak yakin apa ini berhasil, tapi bukan berarti tidak ada kemungkinan sama sekali.
__ADS_1
"Baiklah, tidak ada salahnya mencoba," gumam William. Lalu mengambil, tongkat-tongkatnya. Ada total 4 tongkat, setiap tongkat memiliki panjang satu meter. William.menyambung semuanya dan kini berubah menjadi tongkat dengan panjang empat meter.
"'Yosh! Sekarang waktunya bereksperimen!' seru William di dalam hati lalu berjalan ke arah jendela.
William sekarang berjongkok di jendelanya, sambil memegang tongkat, atau mungkin sekarang lebih cocok disebut galah daripada tongkat.
William memegang ujung galahnya, dan membiarkan ujungnya yang lain mengarah lurus ke bawah.
"Hm, ini lebih mengerikan dari naik pohon," gumam William.
Belum apa-apa, dia sudah merasakan perutnya nyeri karena ketinggian. Jarak kamarnya dari tanah di bawah sekitar 10 meter. William tentu sering melompat-lompat di pohon jika dirinya berburu di hutan bersama Rain. Namun kali ini kasusnya sedikit berbeda, tidak ada apapun untuk pegangan dirinya.
Andai ada pohon di sebelah kamarnya, mungkin William akan dengan mudah keluar, tapi sayangnya tidak ada hal semacam itu, ada pun pohon itu adalah pohon kecil dan beberapa kaktus.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
...🙏🙏🙏...
......★★★......
__ADS_1