The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Rapat - Part 3


__ADS_3

Desir terlihat berusaha menstabilkan pernafasannya. Dia berusaha mengontrol marahnya. Dirinya sadar betul dia tidak boleh terbawa amarah saat ini.


Memang benar apa yang mereka katakan sangatlah menjengkelkan. Namun, jika dia terus terbawa emosinya, itu malah akan memperkeruh keadaan.


"Yang Mulia," gumam Rustar sambil memandangi Desir dengan wajah khawatir.


Desir menghela nafas panjang. Lalu mengangkat tangannya, mengisyaratkan pada Rustar untuk tenang. 


"Rustar, apa kamu sudah lupa apa yang aku katakan tadi?" tanya Desir.


"Maafkan saya, Yang Mulia," kata Rustar sambil membungkuk kearah Desir.


Deair hanya membalasnya dengan sekali anggukan. Tentu dia tidak marah dengan Rustar yang berusaha menenangkannya. Jika Rustar tidak melakukan itu, mungkin Desir sudah menghancurkan semua ruangan ini.


Pandangan Desir beralih, ke arah para bangsawan. "Jadi langsung saja, apa mau kalian apa?" tanya Desir, sambil mengamati satu persatu para bangsawan yang juga menatapnya.


Ada sebagian yang terlihat lega karena melihat dirinya sudah tenang, ada juga yang terlihat pucat karena ketakutan.


hanya tiga orang yang terlihat biasa-biasa saja, ketiganya adalah Matias dan kedua rekannya.


"Seperti yang kami katakan sebelumnya, kami butuh bukti Yang Mulia," kata Matias.


"Bukti apa yang kalian inginkan?" tanya Desir. Dia sebenarnya sudah menduga apa yang diinginkan Matias. Hanya saja dia ingin mendengarnya langsung dari Matias 


Namun, saat Matian baru saja membuka mulutnya untuk mengatakan keinginannya. Saat itu Rustar menimpanya dengan sebuah pertanyaan.


"Kalian! Sebenarnya apa yang kalian rencanakan? Bukti? Apa hal itu masih perlu?" Rustar berjalan ke arah Matias. "Hanya dari melihat wajah pangeran seharusnya kalian semua sudah tahu. Bahwa pangeran sangatlah mirip dengan wajah Yang Mulia Elsa! Apa mata kalian sudah rabun? ha!," ujar Rustar.

__ADS_1


Rustar sudah tidak kuat lagi menahannya. Melihat tuannya baru saja di pojokkan, dan sekarang mereka meminta bukti. Rustar merasa jelas ini ada maksud dibaliknya. Namun, dia tidak tahu apa itu. Hanya saja dia merasa harus menghentikan rencana mereka.


"Tapi banyak warga yang meminta ini, tuan Rustar," kata Turk.


'Itu lagi?' batin Rustar. "Warga apa yang kalian maksud? Apa memang benar warga meminta itu? Atau semua ini hanyalah akal-akalan kalian saja!" sentak Rustar.


"Rustar," Desir memanggil Rustar. Tetapi, Rustar sama sekali tidak mendengarnya, dan terus berjalan kearah Matias.


Rustar sekarang berdiri tepat di hadapan Matias yang duduk. "Lalu apa yang akan kalian lakukan jika pangeran, memang terbukti kalau tidak memiliki kekuatan roh pada tubuhnya? Apa kalian akan meminta pangeran diusir dari istana?" Rustar memperjelas dugaan itu. 


Ini hanyalah dugaan. Namun, ada kemungkinan para bangsawan yang dari tadi memojokkan Desir menginginkan itu. Jika itu terjadi, pasti akan timbul isu di mana keluarga kerajaan goyah. Ada juga petisi yang meragukan bahwa saudara William juga bukan anak kandung Desir.


Jika itu terjadi, tinggal menunggu waktu sampai para bangsawan yang berniat buruk, bergerak dan mengambil alih kekuasaan. 


Rustar menegaskan. "Mau siapapun pangeran ... darah Yang Mulia Elsa jelas mengalir di tubuhnya! Mata ungu tua dan rambut hitam adalah hal yang seharusnya cukup menjadi bukti. Tentu kalian seharusnya juga sudah tahu, bahwa darah murni kerajaan ini berasal dari Yang Mulia Elsa. Yang merupakan putri tunggal dari raja sebelumnya!" 


Semua bangsawan menunduk malu mendengar itu. Tentu saja, trio kutu tidak memasang wajah seperti mereka.


"Beraninya kamu mengatakan itu!" Bentak Rustar.


"Rustar hentikan," Desir sekali lagi memanggilnya.


Tapi Rustar sama sekali tidak menghiraukan itu. "Matias, sebenarnya apa yang kamu rencanakan,' sindir Rustar dengan wajah jijik.


"Rustar," Dasir memanggilnya.


"Tuan Rustar, apa yang kamu maksud?" tanya Matias, dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Tidak perlu kau bergaya bodoh seperti itu, dari wajahmu sudah tampak sangat jelas," kata Rustar dengan wajah jijik.


"Apa-apaan itu, bisa-bisanya kamu mengatakan itu tanpa alasan, tuan Rustar," balas Matias.


"Itu seharusnya kata-kata yang lebih pantas untukmu," hujat Rustar.


"Hentikaan!" Desir berteriak, sambil memukul meja dengan sangat keras.


Semua orang disana kaget. 


Desir menatap Rustar dengan tatapan tajam "Rustar kamu keluar," katanya.


"M-maafkan saya Yang Mulia, aku benar-benar tidak bisa hanya diam saja melihat mereka menghina Yang Mulia Ratu," Rustar berusaha mencari alasan.


Matias yang melihat itu tampak tersenyum. Dia merasa sudah menang di sini. 


"Keluar," kata Desir.


"Yang Mulia?" Rustar merasa bersalah sekarang. Dia terlalu terbawa dengan perasaannya sendiri.


"Keluar!" Namun Desir tidak mentolerir itu.


"B-baik, kalau begitu saya akan keluar Yang Mulia," balas Rustar, sambil menunduk dalam ke arah Desir. Lalu berjalan keluar.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


......★★★......


__ADS_2