
Setelah kejadian itu, William duduk di taman. Dia tampak merenungi apa yang baru saja dialaminya. Apa yang terjadi kakaknya? Mengapa kakaknya menanyakan hal itu padanya? Apa maksudnya, dirinya itu sebenarnya siapa?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepalanya, seolah tidak mau hilang. William bahkan tidak tahu apa jawaban dari semua pertanyaannya itu. Membuatnya bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi selama dia sakit.
Tapi mengesampingkan itu semua hal yang paling membekas baginya adalah ekspresi wajah Rain saat bertanya siapa sebenarnya dirinya barusan.
Entah kenapa jantungnya terasa berhenti berdetak sejenak, saat William mempertanyakan itu.
'Sebenarnya apa yang terjadi?'
William ingin tahu, apa yang membuat kakaknya bertingkah seperti itu.
Rasanya mustahil, hanya karena kejadian pasca duel kemarin. Kakaknya langsung berubah sampai seperti ini.
Sesuatu yang sangat tidak biasa bagi William. Seolah kakaknya berubah menjadi orang lain dalam beberapa hari ini.
★★★
Di tempat lain. Terlihat anak perempuan berlari sepanjang koridor. Kaki kecilnya seolah irama keceriaan yang membuat semua orang dewasa yang melihatnya akan tersenyum karena kelucuannya.
Di belakangnya ada seorang bocah laki-laki berambut perak. Sekilas dia akan sangat mirip dengan Rain, andai rambutnya tidak ikal. Bocah itu terlihat berlari panik mengejar anak perempuan berambut perak di depannya, yang merupakan adiknya.
Mereka berdua adalah Richard dan Lisbet.
"Lisbet, kena kau!" Richard dengan wajah kesal bercampur lelah langsung meraih tangan adiknya. "Jangan berlarian seperti itu, bagaimana kalau kamu jatuh?" keluh Richard sambil berusaha mengontrol nafasnya yang ngos-ngosan.
__ADS_1
Bagaimana dia tidak mengeluh dengan kelakuan adiknya yang satu ini.
Sejak setelah selesai latihan etika bersama guru mereka. Lisbet langsung berlari keluar tanpa berpamitan sama sekali. Hanya wajah senyum cerah yang terpasang, seolah menemukan mainannya yang hilang.
Richard yang melihatnya tentu saja panik dan langsung berlari mengejarnya. Dia bahkan juga ikut lupa tidak berpamitan dengan guru mereka saking paniknya. Richard hanya takut jika adiknya sampai melakukan hal yang sembrono lagi hanya karena rasa penasarannya. Membuat pelajaran etika yang mereka ikuti terasa sama sekali tidak ada gunanya.
Guru mereka tentu tidak akan marah, hanya karena masalah ini. Tapi tetap saja untuk keluarga kerajaan seperti mereka berdua, bertingkah seperti ini di depan guru mereka adalah hal yang salah. Pikir Richard sambil mendesah lelah. Lalu memandangi adiknya.
"Kak Lic, lepasin. Aku mau ke taman!" seru Lisbet sambil berusaha melepaskan diri dari Richard yang menahannya.
Tentu saja Richard tidak membiarkan itu terjadi. Ia tidak akan melepaskan bocah nakal yang satu ini begitu saja. "Tidak-tidak, aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja," balas Richard sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lagian aku bukan Lic, tapi Ric ingat Rrr— bukan Lll—," keluh Richard.
"Lepasin, aku mau ke taman," paksa Lisbet sambil masih berusaha melepaskan diri dari kakaknya.
Melihat polah adik perempuannya yang satu ini benar-benar membuat Richard lelah secara mental. "Hahh, kenapa kamu mau ke taman?" tanya Richard.
"Tadi aku melihat kak William keluar dari kamarnya saat kita belajar," balas Lisbet dengan mata berbinar dan senyum di wajahnya.
"Ha?" Richard sontak memasang wajah bingung. Bagaimana Lisbet bisa tahu kalau kakaknya keluar dari kamar sedangkan kamar kakaknya ada di bangunan lain.
"Lisbet, kamu tidak boleh berbohong begitu. Dari mana kamu bisa tahu kalau kakak keluar kamar? Sedangkan dari sini kita hanya bisa melihat jendela kamarnya saja," sahut Richard, sambil memandang ke arah jendela kamar William.
"Kakak Wil, keluar dari jendela!" seru Lisbet dengan wajah kagum, baginya apa yang dia lihat sangatlah menarik baginya.
Namun Richard yang mendengar itu, malah kebalikannya. "HAA?" Richard memasang wajah konyol. 'Apalagi yang dikatakan bocah satu ini?' batinnya.
__ADS_1
Mustahil kakaknya keluar dari jendela. Kamar William jelas berada di lantai dua, itu juga cukup tinggi. Mana mungkin kakaknya keluar dari sana, pikirnya.
"Tapi tadi aku liat, kak Wil lompat dari jendela menggunakan tongkat," balas Lisbet.
'Ya, ampun Lisbet … siapa yang mengajarimu pintar membuat alasan seperti ini,' keluh Richard di dalam hati. "Tidak, itu mustahil. Kakak sedang sakit. Dia masih berada di kamar. Mana ada orang sakit keluar dari kamarnya. Lagian apa-apaan melompat menggunakan tongkat yang kamu katakan barusan."
Dengan nalarnya Richard menepis perkataan Lisbet dengan wajah sangat yakin.
Lisbet berubah kesal, saat melihat ekspresi wajah Richard yang tidak percaya dengan perkataannya. "Kalau kak Li-, Kak Ric tidak percaya ayo kita buktikan di taman!" seru Lisbet.
"Hahhh, iya-iya. Jika kamu mau ke taman pasti aku temani. Jadi kamu tidak perlu berbohong seperti itu," balas Richard. Dia masih tidak percaya.
"Aku tidak bohong!" bentak Lisbet sambil memukul perut Richard menggunakan tangan kecilnya.
Richard hanya menerimanya dengan senang hati, lagi pula itu sama sekali tidak menyakitinya. Dia malah ingin tertawa karena tingkah adiknya yang satu ini. "Iya-iya mana ada orang bohong mengaku bohong," kata Richard, sambil tertawa mengejek.
"Uuuu!" Lisbet yang melihat itu, hanya bisa menggembungkan pipinya dengan wajah kesalnya, yang hampir menangis.
Melihat adiknya yang hampir menangis karenanya. Richard langsung memasang wajah panik. "Y-ya udah ayo," ajak Richard sambil berjalan menuntun adiknya menuju taman.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
...🙏🙏🙏...
__ADS_1
......★★★......