The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Prespektif - Part 4


__ADS_3

Diwaktu yang sama, di sebuah ruangan. Terdapat meja besar berbentuk lingkaran, dan ada beberapa orang mengenakan pakaian mewah duduk di kursi mengelilingi merek. Tampak hanya ada satu kursi kosong di sana.


Para prajurit yang berjaga di tepi ruangan juga mengenakan armor yang terlihat lebih bagus dari kebanyakan prajurit yang ada di istana. Mereka semua adalah pasukan penjaga istana.


"Lama sekali, kita sudah menunggu di sini dua jam, dan Yang Mulia belum datang juga!" gerutu salah satu pria tua bertubuh gemuk. Dia bernama Matias, umurnya sudah 50 tahun. Dia adalah seorang count dari Wilayah barat kerajaan Brama. 


"Mungkin, Yang Mulia tidak mau datang," seseorang berperawakan kurus kering dengan hidung besar menyahuti perkataan Matias, dia memiliki rambut pirang dengan tubuh kurus kering. Nama orang itu adalah Turk. Dia juga seorang Count yang bertugas memerintah wilayah timur kerajaan Brama.


"Tidak mungkin, jika dia tidak datang ini akan menyebabkan gejolak besar di istana dan di kalangan bangsawan kecil," balas Matias.


Matias berani menjamin itu. Mustahil Desir absen dari rapat ini. Seharusnya Desir sudah paham apa maksud dari rapat ini. Pikirnya.


"Itu benar," seseorang seumuran Matias dengan kepala botak mengangguk setuju. Dia adalah Barl, seorang berpangkat Duke yang memerintah Wilayah utara kerajaan Brama.


"Jika dia tidak datang, maka ini sama saja dia tidak berani mengakui insiden yang dialami Pangeran William, juga akan muncul opini buruk, yang seolah berusaha menyembunyikan fakta mengenai pangeran yang tidak memiliki kekuatan Roh," kata Barl.


"Itu benar, aku setuju," sahut Matias dengan senyum licik di wajahnya.


Walau seharusnya sadar, ada banyak prajurit istana yang berjaga di sana. Terapi mereka bertiga membicarakan itu dengan santainya. Seolah tidak peduli bahkan jika mereka mendengarnya.


Beberapa bangsawan lain yang ada disekitar bahkan terlihat memasang wajah tidak peduli. Ada juga yang mengerutkan kening mereka karena tidak suka dengan yang mereka bicarakan. Hanya saja para orang yang tidak suka ini hanya diam tidak berani menegur mereka.

__ADS_1


Saat itu juga tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Semua mata merespon dengan memandang karah pintu.


Seorang perajurit yang bertugas membukakan pintu langsung berseru keras. "Yang Mulia, menghadiri ruang Rapat!" 


"Oh akhirnya, Yang Mulia datang juga," bisik Matias.


"Tapi sepertinya, Yang Mulia Ratu tidak ikut," balas Barl.


Barl sama sekali tidak melihat Elsa. Hanya ada Desir dan Rustar saja.


"Tak apa, ikut atau tidak pun, sama sekali tidak akan merubah apapun," sahut Turk. Tapi bagi Turk hal ini tidak akan mengubah apapun. Dia dapat memastikan semuanya tetap akan berjalan sesuai rencana.


"Kamu juga, tidak ada bedanya," balas Matias, dengan ejekan.


"Kita semua memanglah licik," Turk mengatakan itu sambil nyengir menjijikkan.


Melihat kedatangan Desir. Semua orang yang ada di dalam ruangan berdiri dan menunduk ke arah Desir.


"Selamat datang  Yang Mulia," seru semua orang yang ada di dalam.


Tidak ada tanggapan dari Desir sama sekali, dia hanya berjalan melewati mereka semua dan langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan khusus untuknya.

__ADS_1


"Jadi bisakah kita langsung mulai rapat ini?" kata Desir sambil menyandarkan kepalanya di tangan kanannya dengan wajah bosan.


Semua orang yang melihat itu terdiam sebentar saat melihat Desir. Walau di wajahnya terlihat ada beban, namun dari tingkahnya seolah dia sudah tidak peduli dengan beban yang dia rasakan.


"Baik, Yang Mulia," balas semuanya serentak.


"Apa yang terjadi? Kenapa dia malah terlihat tidak ada kekhawatiran sama sekali?" bisik Matias kepada Turk dan Barl yang duduk di sebelah kiri dan kanannya.


"Entahlah, apa mungkin dia masih belum sadar apa yang akan kita bahas?" balas Turk berbisik.


"Tidak mungkin. Yang Mulia bukan orang yang tidak akan paham dengan hal semacam ini. Mungkin dia hanya berakting seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan," balas Barl dengan berbisik.


Mendengar itu Matias dan Turk mengangguk setuju. Apa yang Barl katakan ada benarnya juga.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....


...🙏🙏🙏...


......★★★......

__ADS_1


__ADS_2