The Mantans

The Mantans
Bab 21 : Manusia muka badak


__ADS_3

Vita menatap sepasang suami-istri di depannya dengan jengah, rasanya kepengen mengumpat, memaki lelaki yang tak punya perasaan itu.


"Vita..... kenalin istri aku Debi." kata Bima ketika sudah mendaratkan pantatnya di kursi plastik yang ada di depannya terhalang meja tentu saja.


Vita menatap tajam Bima, lewat mata mengisyaratkan bahwa dirinya tak berminat berkenalan dengan istrinya, tapi ketika yang ditatap tak memberikan respon yang berarti, akhirnya Vita mengulurkan tangan berkenalan dengan Debi.


Debi menyambut tangan Vita dengan enggan, hatinya tentu saja tak terima melihat suaminya yang tetap memuja mantan terindahnya yang bernama Lavita Aurora itu.


Vita menunduk, serba salah, tiba-tiba soto dihadapannya tak menarik lagi, Vita melirik Retno yang masih asyik melahap makanannya tanpa peduli dengan aura negatif di sekitarnya.


"Ret.... ayok, keburu siang nih." tegur Vita melihat Retno tetap cuek menghabiskan makanannya.


"Itu makanan mbak Vita kan belum habis." sahut Retno tentu tak paham dengan situasi yang ada.


"Udah yok, kita ntar kesiangan." Vita menarik tangan Retno memaksa gadis itu untuk berdiri dan mengikuti dirinya.


"Aku duluan ya Bim, mbak Debi." pamit Vita langsung mengambil langkah seribu dari hadapan Bima dan Debi.


"Deg-degan dong Yah ketemu mantan terindah." kata Debi, suaranya masih sempat terdengar di telinga Vita.


"Apaan sih Bun, dia hanya mantan!" sahut Bima ketus, membuat Vita ingin tertawa keras menanggapi pernyataan Bima yang sialnya masih terdengar di telinga Vita.


'Dasar manusia gila, beberapa kali ngutarain mau ninggalin bininya buat balikan ama gue, eh di depan bininya ngomong hanya mantan' maki Vita dalam hati.


"Mbak, itu tadi siapa sih?" tanya Retno yang kesulitan mengimbangi langkah cepat Vita.


"Manusia muka badak!" sahut Vita ketus.

__ADS_1


"Hah?!" pekikan Retno membuat beberapa orang menoleh padanya.


Vita mendelik mendengar suara Retno yang mirip dengan toa tersebut. " Buru naik!" perintah Vita dengan suara dingin.


"Sabar mbak, astaga judes bener sih, masih lapar pasti, salah sendiri sotonya nggak dihabisin." cerocos Retno sambil mengkaitkan pengait helm yang dipakainya.


"Lama-lama mulut kamu lemes juga ya Ret." omel Vita lalu menancap gasnya kencang, pagi-pagi ketemu mantan yang sedang mengejar dirinya lagi tapi ternyata tuh mantan termasuk suami takut istri.


Sesampainya di kafe Omah Pasta, Vita langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan bahan makanan yang akan ia jual di kafenya tersebut.


Tak banyak bicara karena setelah pertemuan dengan Bima tadi, mood Vita langsung terjun bebas karena emosinya yang langsung merambat naik.


Oh God.... lari dari Jakarta, menyembunyikan diri di tempat kecil seperti ini, membayangkan hidupnya kembali damai, tapi kenyataan tak seindah yang ia bayangkan.


Damn it!


Suara seorang perempuan membuyarkan lamunan Vita, Retno melangkah keluar dan menyongsong Susi sahabatnya yang akan melamar pekerjaan di kafe Omah Pasta.


"Suruh duduk dulu Ret, bentar aku masukin ini ke Oven dulu."


Dari arah depan terdengar suara Retno dan Susi sedang asyik bercerita, Vita mendengus, ternyata Retno tak sependiam itu ketika di luar rumah.


Selesai dengan urusannya, Vita keluar dari dapur, memberi isyarat ke Retno untuk kembali masuk ke dalam dapur, meneruskan pekerjaannya.


Vita duduk dihadapan dengan Susi, gadis mungil berkulit sawo matang itu menatap Vita dengan takut, aura Vita ketika serius memang intimidatif.


Susi menggeram dalam hati, ucapan Retno tempo hari yang mengatakan enak kerja di tempat Vita seakan menguap begitu saja, mata Susi, Vita terlihat judes dan kaku.

__ADS_1


"Jadi kamu beneran mau kerja di tempat saya?" tanya Vita to the point.


"I iya mbak." jawab Susi cepat setelah sebelumnya menelan air liurnya yang tersangkut di tenggorokan.


"Sudah denger cerita dari Retno kan, bahwa untuk sementara waktu tak ada hari libur karena usaha ini baru awal berjalan." ucap Vita masih dengan suara tegas.


"I iya mbak."


"Oke kalo kamu sudah tahu, gaji kamu UMR, dan tugas kamu ngebantuin Retno di dapur, kalo kamu setuju mulai besok kamu bisa masuk kerja." Suara Vita kembali melunak dan terdengar lebih bersahabat.


"Beneran mbak!" pekik Susi kesenangan.


"Iya. Eh... ada satu lagi, tak boleh ngerumpi selama bekerja."


Susi manggut-manggut dengan senyum lebar menghias bibirnya.


Kekakuan keduanya terurai ketika getaran ponsel yang ada di saku Vita terus bergetar.


Vita mendesah, dan membuang nafas dari mulutnya, kesal tentu saja, tapi panggilan telepon itu akan terus berbunyi sampai di empunya mengangkat ponsel yang di pegangnya.


"Hmm.... " sapa Vita tanpa minat ketika akhirnya ia memutuskan menerima panggilan tersebut.


"Sayang aku minta maaf ya." suara Bima terdengar lembut dan memelas.


Vita keluar dari dalam kafe karena tak mau omongan kasarnya terdengar oleh Retno maupun Susi.


"Heh! Lo tuh laki nggak ada gentle nya ya, malu tahu, dibelakang bini ngerayu cewek lain, kalo di depan bini mati kutu lo!" maki Vita dengan suara agak keras.

__ADS_1


Bukan... bukan Vita cemburu karena perkataan Bima tadi pagi, tapi Vita kesel ternyata omongan lelaki tak ada yang bisa dipercaya, baik Bima, baik Arya, semua sama saja.


Ketika Vita akan membalikkan badan, sepintas dari sebrang jalan, Vita melihat seorang cowok yang sedang memperhatikan dirinya dari dalam mobil yang kacanya sengaja dia buka.


__ADS_2