The Mantans

The Mantans
Bab 92 : Semua Serba Salah


__ADS_3

Hari-hari yang dilalui Vita dan Mamat dalam mengarungi bahtera rumah tangga terbilang sangat harmonis, bahkan selama enam bulan terakhir tak ada halangan yang berarti, mereka justru semakin terikat.


Mamat keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, handuk putih melilit di pinggangnya, Mamat mengerling genit ke arah Vita yang masih terbaring di atas pembaringan.


"Kenapa hidungnya ditutupi?" tanya Mamat heran melihat Vita menutup hidungnya ketika Mamat melewatinya.


"Kamu bauk!"


"Hah bauk?! Aku habis mandi lho Yang," ucap Mamat sambil mendekat ke arah Vita dengan sesekali mengendus bau badannya sendiri.


"Sana ah, aku mual mencium bauk kamu!" omel Vita langsung berlari ke arah toilet, menumpahkan semua yang ada di dalam perut, cuman cairan yang keluar karena Vita belum memakan apapun pagi ini.


"Kamu kenapa sih Yang?" tanya Mamat sambil jongkok, memijat tengkuk sang istri.


"Kamu sanaan ah, tambah mual aku!" ketus Vita masih berjongkok di depan closet mencoba memuntahkan semuanya.


"Dasar aneh, wangi gini dibilang bau," gerutu Mamat keluar dari kamar mandi dan menuju walk in closet untuk memakai baju.


Dengan payah Vita berjalan keluar dari kamar mandi, entahlah belakangan hari perutnya sering bergejolak jika membaui sesuatu yang menusuk hidung.


Ketika Mamat mendekat ingin membantu, Vita dengan sigap menutup hidungnya dan melambaikan tangan meminta Mamat menjauh.


"Kamu kenapa sih Yang?" tanya Mamat bingung mendapat penolakan dari Vita.


"Pokoknya jangan deket-deket deh, bau kamu itu bikin mual Hun," jawab Vita dengan mata berkaca-kaca.


"Ya... baringan lagi aja, aku minta mbok Nah buat anter sarapan kamu ke kamar." Mamat melangkah keluar kamar, membiarkan Vita kembali tiduran di atas kasur, meski hatinya gondok karena diusir sama istrinya.


"Mbok Nah, tolong anterin sarapan ibu ke kamar." Kata Mamat sambil duduk dan mulai mengambil sarapannya.


"Tumbenan ibu nggak ikut sarapan pak?" tanya mbok Nah sambil menyiapkan makanan untuk Vita.


"Tauk tuh, aneh banget, katanya saya bauk dan bikin perutnya mual," jawab Mamat dengan suara kesal.


"Wah jangan-jangan ibu lagi ngidam pak," sahut Yati salah satu asisten rumah tangga mereka yang kebetulan lewat di dekatnya.


"Ngidam?" beo Mamat.


"Iya kali pak, mending dicek dulu, siapa tahu ibu beneran hamil," sambung mbok Nah dengan wajah berseri.


"Ya udah mbok aku ke apotek sebentar, nanti kalo Vita nyariin tolong bilangin ya," kata Mamat tak menyelesaikan sarapannya, menyambar kunci mobil dan bergegas menuju apotek terdekat.


Hatinya tiba-tiba menghangat, membayangkan Vita sedang hamil anaknya.


Tak lama kemudian Mamat kembali masuk ke dalam rumah dengan menenteng plastik berisi beberapa tes pack.

__ADS_1


Mendapati Vita yang sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menonton sebuah tayangan di salah satu stasiun televisi.


Belum sempat Mamat menyapa, dari tempat duduknya Vita merengek," Jangan mendekat, kamu bauk, aku pengen muntah lagi!"


Mamat hanya bisa berdiam diri di tempat mendapati penolakan dari Vita, sementara mbok Nah dan Yati hanya tersenyum penuh arti, dalam hati pasti berucap itu belum seberapa, tunggu saja tanggal mainnya gimana capeknya nurutin ibu hamil.


"Ini lho Yang, aku mau ngasih kamu ini." Dengan nekat Mamat mendekat ke tempat Vita duduk sambil menyodorkan plastik di tangannya.


Vita yang sejak awal menutup hidungnya dengan kaos, hanya bisa pasrah menerima plastik dari Mamat.


"Ini apa?" tanya Vita sambil memindai isi plastik yang dipegangnya.


"Tes pack?" gumam Vita lagi sambil berfikir tanggal menstruasinya.


"Ayok kita cek," ajak Mamat sambil memegang tangan Vita, yang serta merta Vita tepiskan.


"Aku aja sendiri, aku mual Hun deket kamu," rengek Vita langsung berlalu dari hadapan Mamat.


"Sabar pak, namanya ibu hamil, kemauannya aneh-aneh," hibur Yati ketika mendengar Mamat mendengus lelah.


"Gimana bisa sabar, kalo aku diusir terus, emang aku bau ya mbok?" tanya Mamat sambil mengendus lagi bau badannya.


"Bapak mah wangi, dari jarak tujuh kilo aja masih kecium," ledek Yati cuek.


"Ya sabar pak, namanya hormonnya lagi begitu kok."


"Iya nanti bakalan ilang sendiri."


"Bikin nggak like." gerutu Mamat sambil menyandarkan tubuhnya di sofa dan menutup matanya lelah dan frustasi.


"Hun...." panggil Vita sambil menangis.


"Eh kok nangis?" tanya Mamat lalu melangkah lebar menghampiri Vita yang berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Hiks hiks." Bukannya mereda tangis Vita semakin menjadi.


"Kenapa hm?" tanya Mamat lalu merengkuh Vita dalam pelukannya.


"Ini." Vita merenggangkan pelukannya dan menyerahkan tes pack kepada Mamat.


Garis dua


"Kamu hamil Yang!" teriak Mamat bahagia dan kembali memeluk Vita erat.


"Huek huek." Vita mendorong Mamat dan berlari ke arah kamar mandi yang ada di dekat dapur.

__ADS_1


"Yang Yang," panggil Mamat sambil berlari menghampiri Vita.


"Pergi.... huek.... jangan.... huek.... deket....huek.... kamu bauk!" cerocos Vita sambil mengeluarkan semua sarapannya yang baru selesai ia santap tadi.


"Astaga, mimpi apa gue, diusir bini sendiri." Mamat mengacak rambutnya frustasi.


"Sabar pak, sabar," hibur mbok Nah yang berlalu menghampiri Vita dan membantu menekan tengkuk Vita.


"Yang bau bawang nggak diusir, giliran suami sendiri yang baunya semerbak kaya gini malah disuruh pergi."


Hari berganti hari, kandungan Vita yang sudah memasuki bulan kedua itu semakin membuat Mamat frustasi, pasalnya Mamat masih sering diusir keluar dan berakhir tidur di kamar tamu.


Belum lagi keinginan calon anaknya yang sering absurd itu, pernah suatu kali Mamat harus pergi ke Surabaya hanya untuk membeli rawon, sengaja beli beberapa bungkus karena takut Vita meminta lagi nantinya, eh sampai di rumah rawon itu hanya diendus lalu diletakkan lagi, Vita memilih memakan masakan Yati ART nya.


"Hun.... pengen rujak," rengek Vita sambil mengguncang tubuh Mamat yang tertidur di sofa panjang yang ada di kamar mereka.


"Jam segini beli rujak dimana Yang?" tanya Mamat serak sambil melihat jam besar yang tertempel di dinding kamar mereka, jam tiga dini hari.


"Tapi aku pengen banget makan rujak," jawab Vita dengan airmata menganak sungai kalau keinginannya tidak dituruti.


"Aku lihat buah di kulkas dulu ya." Akhirnya Mamat bangun dari tidurnya dan melangkah menuju ke kulkas untuk mencari buah yang akan dipotong untuk jadi rujak.


"Untung masih ada apel sama mangga," gumam Mamat pelan lalu mulai mencuci dan memotong-motong buah tersebut dan menyusunnya ke dalam sebuah piring.


Selesai dengan semuanya, Mamat membawa piring itu kembali ke kamar.


"Bumbunya mana Hun?" tanya Vita dengan wajah memelas.


"Bumbu?"


"Iya yang pakai gula merah itu lho."


"Oh iya bentar ya."


Lalu Mamat kembali keluar membuka ponselnya mencari panduan untuk membuat bumbu rujak.


Karena tak paham sama instruksi disana, dengan kesal Mamat hanya mengulek gula merah ditambah dengan garem lalu memindahkannya ke mangkuk kecil.


Mamat menyodorkan bumbu tersebut kepada sang istri yang diterima dengan mata berbinar.


"Kamu sanaan ah, bauk!" usir Vita membuat Mamat hanya menggeleng frustasi dan melangkah kembali ke sofa yang menjadi tempat beristirahatnya beberapa minggu belakangan.


Melihat istrinya makan rujak itu dengan lahap, serta merta membuat Mamat tersenyum lebar.


Biar semua serba salah, tapi melihat Vita mau mengandung buah hatinya saja membuat Mamat sangat bersyukur dan berterima kasih, jadi apapun yang diminta Vita akan ia turuti semata-mata agar Vita menjalani kehamilannya dengan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2