
Setelah kepergian Vita dari hadapannya, Mamat tak berniat mengejar Vita, bukan karena dia tak peduli dengan gadisnya itu, hanya saja Mamat ingin memberi Vita space, untuk dia berfikir dan memenangkan diri.
Mamat memutuskan mengurus Vivian terlebih dahulu, karena perempuan itu akan semakin nekat sampai apa yang dia inginkan terwujud.
Sampah seperti itu kenapa dulu membuat dia tergila-gila, Mamat hampir tak percaya dengan cinta tanpa syarat yang diberikannya untuk Vivian.
Cinta tak bersyarat itu sampai menjadikan Vivian ratu dalam hidupnya, menjadikan perempuan itu sebagai prioritas utama dalam hidupnya, mengalahkan semuanya.
Tapi kenyataannya perempuan yang ia ratukan itu meninggalkannya sehari sebelum pernikahan mereka tanpa alasan yang jelas, membuat dirinya terpuruk begitu dalam dan harus melarikan diri, trauma dengan perempuan.
Dan ketika Mamat sudah bahagia, sekarang dia kembali? Terus merengek seperti biasa agar dia bisa kembali kepadanya? Jangan harap, Mamat yang sekarang bukan Mamat yang dulu, yang tunduk pada perempuan ular itu, bahkan meskipun dia mendesah di bawahnya seperti yang biasa ia lakukan untuk meminta sesuatu kepada Mamat.
Duduk berhadapan di salah satu ruangan privat yang ada di resortnya, Mamat dan Vivian saling bersitatap, sorot matanya tajam seakan ingin membakar habis Vivian yang terlihat datang dengan membawa sejuta cinta, bullshit!
"Lo mau ngapain jauh-jauh kemari nyamperin gue?" tanya Mamat dengan suara dingin nan datar, tak ada basa-basi dalam ucapannya.
"Rileks sayang, apa salah kalo aku datang ingin bertemu tunangan aku?" sahut Vivian dengan suara lembut mendayu.
"Mantan kalo lo lupa, kita bahkan sudah putus sejak lo ninggalin gue waktu itu!" ketus Mamat.
Vivian tersenyum manis."Aku minta maaf atas semua yang terjadi waktu itu, aku punya alasan."
"Gue rasa gue nggak butuh permintaan maaf dan alasan dari lo, basi! Gue nyesel kenal sama lo bahkan sempat cinta sama lo!" ketus Mamat sarkas.
"Ayolah Mat, kita harus meluruskan benang yang kusut diantara kita, kamu perlu tahu alasanku waktu itu ninggalin kamu."
"Gue nggak mau tahu dan gue nggak peduli, kamu boleh mengarang dan mencari alasan untuk menarik simpati keluarga gue, tapi bagi gue kisah kita sudah selesai lima tahun yang lalu, jadi gue harap lo angkat kaki dari sini dan jangan ganggu hidup gue lagi!" Suara Mamat terdengar dingin dan mengintimidasi seperti dulu.
Bukannya ngeri akan intimidasi Mamat, Vivian justru terbahak dan terhibur melihat Mamat yang terlihat tegang di depannya.
"Kamu tahu kan sayang, kalo aku tak akan mundur dan menyerah, sekeras apapun kamu mengusir aku, aku akan tetap datang dan menempel padamu"
__ADS_1
"Dasar stress!" maki Mamat siap beranjak dari duduknya ketika Vivian mengucapkan sesuatu yang tak ingin ia dengar.
"Bagaimana kalo keluargamu tahu kamu berhubungan dengan seorang janda, siapa tuh namanya? Vita? Pasti seru ya," goda Vivian dengan senyum menggoda.
"Gue peringatin sama lo, jangan sekali-kali kamu sentuh Vita, seujung kukupun dia terluka, gue nggak akan tinggal diam, aku akan bikin perhitungan sama lo, dan gue nggak peduli tanggapan apapun dari keluarga gue, mereka setuju atau tidak setuju, gue akan tetap menikahi Vita." Lalu Mamat melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut.
Otaknya langsung memanas, bayangan Vita menari-nari di pelupuk matanya, membuat hatinya dilanda rindu, apalagi Vita tadi pergi meninggalkannya dengan kondisi marah.
Mamat mengusap layar ponselnya hendak menghubungi Sena yang berada di kafenya Vita.
"Hallo Sen," sapa Mamat setelah teleponnya tersambung.
"Iya Pak Mathew." Suara Sena terdengar dari sebrang sana.
"Vita sudah kembali ke kafe belum?" tanya Mamat.
"Um.... su sudah pak," jawab Sena tergagap karena bingung menemukan jawaban, di balik meja kasir Vita melotot atas jawaban jujur Sena yang terlihat lebih memihak Mamat.
Sementara di kafe Omah pasta, Vita berdecak kesal atas jawaban terlalu jujur dari Sena.
"Kamu tuh kerja buat gue apa kerja buat Mamat sih Sen?" tanya Vita kesal.
"Maaf mbak Vita, tapi saya takut sama pak Mathew," jawab Sena sambil tersenyum meminta pemakluman Vita.
"Oh...jadi lo nggak takut sama gue?" tanya Vita dengan nada emosi.
Retno yang mendengarkan hanya bisa mengulum senyum, 'habis kamu mas, mbak Vita kalo udah pakai lo gue kan lagi emosi tingkat tinggi, ngebangunin singa betina yang lagi ngamuk kamu'
"Ya ya bukan gitu mbak, cuman kalo mbak Vita kan kalo marah masih lembut gitu," rayu Sena dengan muka innocentnya.
"Tunggu aja Sen, lo kudu liat seberapa parah kalo gue ngamuk," ancam Vita dengan mendengus kesal.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pria yang paling ingin ia hindari saat ini melangkah memasuki kafe, karena kondisi kafe yang sedang rame karena waktunya makan siang, alhasil Mamat hanya bisa duduk dan memandangi aktivitas Vita yang terlihat enggan untuk menatapnya.
Melihat Vita yang terkesan cuek terhadap Mamat, akhirnya Retno menghampiri Mamat, "Mas... mau minum apa?" tanya Retno sopan.
"Terserah sama yang punya kafe mau ngasih saya minum apa," celetuk Mamat tanpa dosa sambil menatap Vita yang terlihat membuang muka kesal.
"Mbak Vita, mas Mamatnya minta mbak Vita yang bikinin minum," tegur Retno setelah melihat Vita tetap anteng di balik meja kasir.
"Bodo, aku lagi mager Ret, kalo haus ntar juga ambil sendiri," kata Vita cuek.
Sena melihat Vita yang memperlakukan bosnya seperti itu jadi ngeri sendiri, apa perempuan itu belum tahu kalo Mamat mengamuk seperti apa.
Mendengar gerutuan Vita bukannya membuat Mamat tersinggung, justru kekasihnya itu terlihat lucu dan menggemaskan, dan Mamat tak henti-hentinya memperhatikan tanpa kedip.
Sementara Vita obyek yang ditatap dengan memuja oleh Mamat terlihat cuek dan tampak acuh, sesekali terlihat seperti meledek Mamat dengan sikap sok jual mahalnya.
Pergantian shift telah tiba, Retno Sena diganti Santi Susi tetap bersama Vita di sana.
Tak tahan lagi dengan sikap merajuknya Vita, akhirnya Mamat kembali memeluk tubuh Vita ketika suasana kafe kembali lengang.
"Masih ngambek?" tanya Mamat mengecup pipi Vita lembut.
Vita? Tetap saja diam tak bergeming, membiarkan Mamat berlaku sesuka hatinya, Vita terlalu kesal dengan kelakuan Mamat yang semena-mena belakangan hari ini, ada hal yang bisa Vita Terima, tapi ada hal juga yang tak mudah perempuan itu terima begitu saja.
"Udah dong yang, aku nggak kuat kamu ambekin kaya gini," rengek Mamat membuat Vita memalingkan wajah menatap Mamat yang masih setia menumpukan dagunya di pundak Vita.
Vita mengulum senyum, menahan tawa yang siap meledak, yang kayak gini yang bikin Sena dan Santi takut, astaga kelakuan sering kaya bocak gini.
"Kenapa sih dua V ini bikin aku pusing hari ini?" Desah Mamat frustasi.
"Dua V?!" tanya Vita menyatukan alis bingung.
__ADS_1
'Mampus gue keceplosan!' maki Mamat dalam hati.