
"Mbak Vita!" teriak Susi heboh.
"Bisa nggak sih ngomongnya jangan pakai teriak-teriak mulu, disini kan bukan hutan," omel Vita capek melihat kedua karyawannya yang semakin hari sudah mirip kayak tarsan saja teriakannya.
"Udah habits mbak susah diilanginnya," cengir Susi tanpa rasa berdosa.
"Astaga, karyawan gue udah tahu istilah habits lho," ledek Vita membuat ketiganya tertawa.
"Bu Vita, setelah ini apa lagi?" tanya Sinta.
"Kamu di depan aja Sin, ini biar aku yang kerjain, lagi banyak banget soalnya, Agrowisatanya Mamat juga minta tambahan kiriman," terang Vita sambil tangannya cekatan mengolah masakan di hadapannya, sudah meminta Sinta buat manggil dirinya mbak, tapi karena sungkan akhirnya Sinta tetap memanggilnya dengan panggilan ibu.
"Baik bu, emmm bu Vita, apa nggak serem sih sama pak Mathew, udah gitu manggilnya Mamat mulu?"
"Aku? Takut ama Mamat? Nggaklah! Ngapain takut, orang lucu gitu, lagian aku manggil dia Mamat kan emang awalnya dia memperkenalkan dirinya sebagai Mamat, salah sendiri nama bagus-bagus dia ganti Mamat, sampai kapanpun aku akan manggil dia Mamat, " cerocos Vita sambil tertawa.
"Padahal saya aja kalo dipanggil beliau suka ngedrekdek (gemeteran) lho bu," sahut Sinta sambil membayangkan wajah Mamat yang pendiam itu dan terkesan dingin.
"Podo mbak." Susi tiba-tiba menyahut ucapan Sinta dengan semangat.
"Tapi kok bisa naksir Sus?" tanya Vita sarkas sambil merotasi matanya.
"Ya kan aku tuh kagum mbak, biasanya cowok yang pendiam, yang cool kayak mas Mamat gitu kalo udah jatuh cinta bisa jadi bucin akut mbak."
"Siapa yang bilang? Pasti dari drakor kan? Aku kasih tahu ya yang pendiam pasti bucin tuh cuman ada di cerita drakor, kalo di dunia nyata mah nggak ada yang begitu," terang Vita cuek yang langsung dijawab cibiran sama Retno sama Susi.
"Nah itu mas Mamat juga bucin sama mbak, nggak nyadar emang?" tanya Retno keki karena Vita tak mengakui Mamat bucin.
"Ah biasa aja kali." Vita mengedikan bahu cuek.
"Oh jadi kelakuan aku kurang maksimal ke kamu ya Yang? Mau aku sekap lebih lama dalam kamar?" tanya Mamat lembut mengagetkan Vita yang lagi menumis bawang.
__ADS_1
"Sinta....kok kamu nggak bilang kalo ada Mamat?!" pekik Vita panik.
Sinta, Susi dan Retno serempak menertawakan kepanikan Vita, dalam hati pasti berujar 'syukurin'
"Eh kok kamu disini Mat?" tanya Vita dengan senyum lebar.
"Sini kamu!" panggil Mamat dengan menggerakan telunjuknya.
Dengan muka merah karena menahan malu, akhirnya setelah mencuci tangannya terlebih dahulu, Vita berjalan mendekati Mamat.
"Sudah pinter ghibahin aku sekarang ya?" goda Mamat sambil merapikan rambut Vita yang terlepas dari ikatannya.
"Kan cuma becanda," sahut Vita tersenyum dengan mata ketap ketip.
"Hati-hati jangan diomongin mulu, takutnya nanti nggak bisa tidur karena ngebayangin aku terus," kata Mamat yang terus mengelus rambut Vita yang duduk di sampingnya.
"Tumbenan pagi-pagi udah kemari?" tanya Vita melihat kegelisahan di mata Mamat.
"Terus?" tanya Vita penasaran.
"Aku disuruh pulang ke Jakarta secepatnya."
"Ya udah pulang aja, kan kasihan oma lagi sakit, mungkin kangen sama kamu."
"Aku males!" Tiba-tiba Mamat menjatuhkan keningnya di pundak Vita.
"Dih.... masak gitu ngomongnya?" omel Vita dengan nada menegur.
"Males Yang, pasti aku nanti di suruh cepat-cepat nikah," sahut Mamat bete, duh Vita jadi bingung, hatinya jadi tidak tenang, jangan-jangan Mamat mau ngajakin nikah atau jangan-jangan dia malu sama status dirinya.
"Emang nggak mau nikah?" tanya Vita hati-hati.
__ADS_1
"Emang kamu mau nikah sama aku sekarang?" Mamat membalikkan pertanyaan.
"Dih kok tanya aku?" protes Vita.
"Habisnya tanya siapa? Kan pacar aku kamu, gimana sih?" ketus Mamat jutek.
"Ya, ya, ya enggak cepat-cepat juga kali Mat, kita aja belum ada sebulan jadiannya."
"Nah kamu aja belum mau aku nikahin, padahal kan aku maunya sama kamu nikahnya."
Vita menghela nafas panjang, dirinya bingung mau kasih tanggapan yang bagaimana, jujur dia sudah mulai sayang dengan Mamat, apalagi keluarganya sudah kenal, sudah setuju pula, cuma dia tak mau terburu-buru apalagi pernah gagal.
"Lebih baik kamu pulang dulu, tengokin oma, kasihan, kalo memang mereka meminta kamu untuk segera menikah, kalo ada yang cocok ya nggak papa Mat, jangan nunggu aku."
"Ya nggak gitu keputusannya, aku maunya sama kamu kok disuruh menikah sama orang lain, lagian sama kamu aku yakin nggak bakalan disakiti, kan kamu tahu rasanya dikhianati tuh seperti apa."
"Tapi beneran Mat, kalo memang berat buat kita, jangan ragu buat ninggalin aku lho, lagian kan statusku sudah pernah menikah, aku ragu keluarga kamu mau nerima aku."
"Ayok ikut!" Mamat menarik tangan Vita, dan membawanya menuju ke mobil.
"Eh, eh, kita mau kemana? Kerjaanku masih banyak!" gerutu Vita sambil menarik tangannya dari genggaman Mamat, sementara Retno cs hanya melihat keduanya dengan senyum terkulum.
"Kamu harus aku hukum!" sahut Mamat setelah keduanya ada di dalam mobil.
"Kerjaanku masih banyak Mat, pesanan dari resto agrowisata kamu aja belum kelar aku kerjain," rengek Vita memelas.
"Itu sih gampang, ntar tinggal aku telpon chef Sandi buat close order menu kamu, yang penting aku mau hukum kamu karena ngomong seenaknya kayak tadi!" omel Mamat dengan muka masam.
"Emang kamu mau hukum aku apa?" tanya Vita memelas.
"Sehari semalam kamu harus ngelonin aku!" kata Mamat cuek.
__ADS_1
"Hah?!" pekik Vita panik.