The Mantans

The Mantans
Bab 76 : Saling percaya


__ADS_3

Vita mendengus kesal melihat pak Adnan sudah berada di depan kafenya untuk menjemput dan mengantarnya ke resort Mamat.


'Astaga nggak bisa apa ya bikin gue nafas sehari aja tanpa ada dia, gue kan butuh ngurusin kafe gue juga' Vita cuma bisa membatin, mau mengomel nyatanya Mamat tak ada di depannya.


"Mbak tuh udah ditungguin pak Adnan." Sinta mengingatkan Vita yang masih asyik dengan pembukuan di tangannya.


"Hmmm biarin aja, suruh makan dulu Sin, sop iganya masih kan?" tanya Vita tetap menunduk membaca laporan penjualan bulan lalu.


Pak Adnan duduk diam sambil menikmati sop iga yang disajikan dihadapannya.


Baru beberapa suap, ponsel di saku celananya bergetar.


"Hallo pak, udah jalan?" tanya Mamat dari sebrang sana.


"Be belum pak, bu Vitanya masih repot," jawab pak Adnan hampir tersedak sop yang belum meluncur sempurna di tenggorokannya.


"Emang disana nggak ada orang lain yang bisa ngebantuin!" bentak Mamat kesal.


"Em... bentar saya sampaikan ke ibu pak." Pak Adnan meninggalkan sop iganya, dan menghampiri Vita.


"Bu Vita ditanyain bapak kapan jalan ke sana?" tanya Pak Adnan dengan ponsel masih menyala sehingga Mamat masih mendengar percakapan mereka.


"Iya, bentar pak, saya selesaiin kerjaan ini dulu ya, bapak habisin dulu makanannya." jawab Vita cuek membuat Adnan hanya bisa menghela nafas pasrah dengan kelakuan kedua majikannya, Mamat yang tak bisa dibantah dan Vita yang cuek, perpaduan yang klop untuk membuat dirinya tenang.


"Maaf pak Mathew dengar sendiri kan ucapan bu Vita tadi?" tanya Adnan takut-takut.


"Bilang sama dia setengah jam lagi harus sampai kesini!" ucap Mamat tak mau dibantah dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Bu Vita, kata pak Mathew setengah jam lagi harus sampai disana," kata pak Adnan takut-takut.


Vita mendengus," Dasar otoriter!"


"Iya bapak habisin dulu makanannya, habis itu kita jalan," lanjut Vita memasukan semua dokumen dalam tas, lalu menginstruksikan karyawan apa yang akan mereka kerjakan selama dia menghadap yang mulia Mathew Alexandrio Praja.


Tak berapa lama mobil yang dibawa pak Adnan melaju membelah jalanan, ia tak kan berlama-lama menikmati makanannya, intruksi dari majikannya sudah jelas, harus membawa calon nyonyah untuk segera sampai di tempat Mamat.


Mobil hitam itu sampai tepat tiga puluh menit dari waktu yang ditentukan oleh Mamat, dengan bibir manyun Vita langsung menuju ke lantai tiga tempat tinggal Mamat berada.

__ADS_1


Sampai di depan pintu langsung menempelkan jarinya untuk membuka pintu di depannya.


"Akhirnya datang juga," sambut Mamat ketika pintu di depannya terbuka.


"Kenapa sih jadi orang nggak sabaran banget, kamu kan lagi sibuk, aku juga, kita nggak perlu setiap hari ketemu kan?" protes Vita sambil menghempaskan badan di sofa.


"Kan aku kangen," kata Mamat sambil mengedipkan matanya dengan genit.


"Astaga, kamu tuh kesambet apaan sih, bisa berubah jadi genit kayak gini!" omel Vita sambil memelototkan matanya.


"Gimana kemarin? Jadi ambil ruko itu?" tanya Mamat mengalihkan pembicaraan.


Vita terdiam, memilih alasan yang tepat untuk disampaikan ke Mamat agar dia tak curiga.


"Em enggak jadi," jawab Vita.


"Kenapa?"


"Sewanya mintanya minimal dua tahun, aku belum sanggup."


"Nggak ah, aku belum mampu bayar sewanya," tolak Vita hati-hati.


"Dibilangin pakai aja juga, nggak usah bayar!"


"Nggak ah, aku nggak mau dituduh aji mumpung."


"Ya elah kayak ama siapa aja sih!"


"Bukan gitu Mat, aku nggak mau mencampur adukan masalah asmara dan bisnis, takutnya kita nanti kenapa-kenapa jadi nggak enak kan?"


"Kenapa-kenapa gimana maksud kamu?!" tanya Mamat mengernyitkan kening.


'Alamak gue salah ngomong' maki Vita dalam hati.


"Ya kan status kita masih pacaran Mat," jawab Vita dengan bibir tersenyum manis mencoba meredam emosi Mamat yang gampang tersulut belakangan hari ini kalo menyangkut dirinya.


"Ngomongin status kita, papi sudah setuju minggu depan akan datang ke rumahmu untuk meminangmu, tolong kasih tahu ibu ya."

__ADS_1


Duar.... Vita terbengong mendengar ucapan Mamat barusan, dia kira hubungan dirinya dengan Mamat akan selamanya menggantung tanpa ikatan.


"Kenapa kok kaget gitu?" tanya Mamat menelisik wajah Vita yang terbengong itu.


"Ya kaget aja, kok cepet banget," jawab Vita.


"Biar kamu cepet aku ikat, jadi mantan kamu itu tak ada lagi yang mengganggu kamu."


"Hah?! Jangan bilang kamu memata-matai aku ya," sungut Vita emosi dia berdiri dari duduknya lalu mendekati Mamat yang sedari tadi duduk di meja kerjanya menyelesaikan pekerjaannya.


"Ngapain aku mata-matain kamu!" Elak Mamat.


"Kok kamu bisa tahu aku sama Raka kemarin?" tanya Vita sambil duduk ditepian meja kerja Mamat.


"Dasar cewek bodoh, baru dipancing dikit aja udah ngaku kalo kemarin janjian sama Raka." Mamat memandang Vita dengan sinis, ia kesenengan karena Vita tak mengetahui kalau kemarin dia mencecar Sena mengenai orang yang punya ruko yang akan Vita sewa.


"Jadi kamu sebenarnya nggak tahu aku ketemu Raka!" Vita membekap mulutnya, kesal karena bibirnya tak bisa menyimpan rahasia.


Mamat menggelengkan kepala dan menatap Vita dengan tatapan tajam.


"Ngomong apa saja sama dia?"


Nah kan tak mungkinlah Mamat akan berhenti menginterogasinya sebelum dia menceritakan pertemuan dirinya dengan Raka kemarin.


"Ya aku cuman bilang nggak jadi sewa karena aku nggak sanggup bayar kalo mintanya minimal dia tahun, lagian aku mikirin perasaan kamu aja, pasti kamu nggak nyaman melihat aku berinteraksi sama Raka," jawab Vita menyelipkan sedikit kebohongan pada jawabannya, kalau saja Mamat tahu apa yang diucapkan Raka, bisa heboh dia.


"Terus dia ngomong apa?" tanya Mamat masih dengan tatapan penuh selidik.


"Ya nggak ngomong apa-apa, dia ngerti kenapa aku batal buat sewa."


"Lain kali kalo ada yang kayak gini jangan disembunyikan ya yang," pinta Mamat lalu menyandarkan kepalanya di perut Vita yang duduk di tepi meja kerjanya tak jauh dari dia.


"Aku nggak cerita bukannya aku mau nutup-nutupin, aku cuman ingin menjaga perasaan kamu aja padahal aku tuh orangnya nggak neko-neko, nggak ada niatan buat selingkuh juga, ada kamu yang sudah sayang dan cinta sama aku aja itu udah anugrah buat aku," ucap Vita sambil mengelus kepala Mamat dengan sayang.


Mamat hanya menganggukkan kepala mendengar permintaan Vita tersebut.


"Tidak semua perempuan kayak mantan kamu Mat, yang bisa mengobral cinta kesana kemari, jadi jangan sampai rasa curiga ke pasangan itu jadi boomerang buat hidup kamu nanti, aku selalu percaya sama pasanganku ya meskipun pasanganku sebelumnya mengkhianati kepercayaan itu sih, tapi aku tahu kalo kamu bisa aku percaya."

__ADS_1


__ADS_2