The Mantans

The Mantans
Bab 86 : Gencatan senjata


__ADS_3

Mamat sengaja bangun lebih pagi, setelah malam sebelumnya ia dan Vita sempat beradu mulut bahkan sampai saling berteriak karena kesalahannya yang tak menjaga diri dari Ina yang mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk mencoba menempel padanya.


Tak ada satupun rasa tertarik dalam diri Mamat terhadap karyawannya tersebut, bukan karena Ina tak cantik, bukan pula Ina tak seksi, tapi bagi Mamat perempuan yang cantik dan menarik itu adalah perempuan yang seperti Vita, bisa menjaga diri terhadap godaan bukan malah melemparkan diri kepada laki-laki yang bahkan sudah tidak single lagi.


Dengan cekatan Mamat menyiapkan bahan untuk memasak sarapan untuk dirinya dan Vita, tak ingin membuang banyak waktu hanya untuk melamun yang tidak-tidak.


Kamar Vita masih tertutup rapat, mereka memang menempati kamar terpisah, sengaja Mamat mengambil family room agar tidurnya bisa terpisah dengan Vita, karena jujur Mamat tak yakin sanggup kalau sepanjang malam tidur dalam satu ranjang dan tak tergoda untuk menj*mah Vita.


Vita sedang mengambek karena ucapan absurd Mamat semalam yang mengajak Vita untuk menikah siri dulu, padahal apa salahnya kan, sah juga kok dimata agama, entah kenapa Vita harus menolak.


Sudah pukul sembilan pagi dan Vita masih belum keluar juga dari kamarnya, bergegas Mamat mengetuk kamar Vita pelan.


Suara serak menyapanya dari dalam kamar, lalu 'klek' pintu terbuka menampilkan muka bantal dan mata sembab Vita.


"Sarapan," ajak Mamat lembut.


"Bentar aku cuci muka dulu."


"Aku tunggu di meja makan," ucap Mamat lembut lalu mendaratkan ciuman manis di pipi Vita.


Tanpa berucap Vita menutup pintu kamarnya dan membasuh wajahnya di kamar mandi.


Tak lama Vita keluar dari kamar, dengan muka terlihat lebih segar, tapi mata sembab itu menjadi pandangan yang tak mengenakan untuk Mamat.


Vita menarik kursi di depan Mamat, menyesap orange jus yang ada di depannya, lalu mulai memasukan waffle yang sudah terasa dingin ke mulutnya.


Mereka menikmati sarapan tanpa ada satu kata terucap, Vita mencoba menahan emosinya yang sempat meledak kemarin malam.


"Biar aku yang cuci piringnya." Vita bangkit berdiri dan membawa piring bekas makan mereka ke wastafel, lalu mulai mencucinya.


Dengan pelan Mamat mendekati Vita yang berdiri membelakanginya, lalu 'slep' seperti biasa Mamat menghidu harum tubuh Vita yang selalu bisa menenangkannya.


"Yang.... aku minta maaf ya," kata Mamat lembut, semakin membenamkan kepalanya dalam ceruk leher Vita.

__ADS_1


Vita menarik nafas dalam, mereka sebentar lagi menikah, seharusnya bisa saling percaya dan menjaga."Kamu tahu kan Hun, bahwa dalam sebuah hubungan itu harus dilandasi dengan kepercayaan," Vita mulai mengoceh, dirinya perempuan matang yang selalu memegang komitmen, tapi kalau selalu dicurigai lama-lama kan enek juga, sementara Mamat sendiri bisa bebas berdekatan dengan perempuan lain seperti kemarin.


"Iya aku tahu aku salah Yang, beneran aku nggak ngapa-ngapain sama Ina, bagiku cukup kamu yang aku cintai dan aku sayangi, aku akan jaga supaya yang kemarin itu yang pertama dan yang terakhir," kata Mamat sungguh-sungguh.


"Aku percaya kok sama kamu, karena kamu tahu gimana sakitnya dikhianati, jadi aku tahu kamu tak akan melakukan hal yang sama kepadaku," ucap Vita sambil menatap Mamat lembut.


"Jadi sepulang dari sini kita jadi menikah siri?" tanya Mamat tetap memegang pinggang Vita, kali ini mereka berdiri berhadapan.


Vita menggeleng."Sesuai rencana awal saja biar nggak repot dua kali."


"Kenapa nggak mau?" tanya Mamat penasaran.


"Biarkan semesta semakin memantapkan hati kita dulu Hun."


"Maaf ya aku udah bikin nangis kamu semalem." ucap Mamat sungguh-sungguh.


Vita tersenyum manis dan menganggukan kepala pelan.


"Dah sana cepetan mandi, kita jalan-jalan, belum selesai cari oleh-oleh kan kemarin?"


"Udah aku selesaiin kemarin, dua hari ini aku akan temenin kamu keliling Bali."


Wajah Vita langsung berbinar, jujur dia memang bosan berada terus di dalam kamar dan ingin menjelajah pulau ini, apalagi kalau ditemani Mamat, duh rasanya pasti happy banget.


Lalu Vita bergegas kembali ke dalam kamar untuk mandi dan bersiap-siap, Mamat tersenyum melihat tingkah lucu Vita, mengaku udah dewasa tapi kadang kelakuannya masih sering kaya bocah.


Tak sampai setengah jam Vita keluar, dan penampilannya sukses membuat Mamat mendelik emosi.


Hot pants setengah paha dan tangtop putih dipadu baju kotak-kotak gombrong membungkus tubuh ramping Vita.


"Ganti!" perintah Mamat tegas dengan suara dingin.


"Kenapa sih Hun?" tanya Vita dengan merengek pelan.

__ADS_1


"Celananya ganti!" tegas Mamat lagi.


"Kan mau jalan-jalan," rengek Vita lagi.


"Ganti atau sesuatu yang tak kamu inginkan terjadi sekarang!" tatapan nyalang membuat Vita bergidik.


"Huh!" Dengan kaki menghentak Vita kembali ke kamar, mengganti hot pants-nya dengan celana overall biru muda bermotif bunga dipadukan kaos putih lengan pendek.


Dengan bibir mengerucut, Vita keluar kamar dan seketika Vita terpaku melihat Mamat yang juga telah berganti kostum, terlihat keren dengan celana kargo selutut dan kaos warna hitamnya.


"Nah ini baru oke." Senyum merekah terbit di bibir Mamat melihat penampilan baru Vita.


Vita melangkah pelan ke arah Mamat, sambil matanya menatap lekat ke cowok yang semakin hari semakin terlihat keren di matanya itu.


Vita berdiri di hadapan Mamat, mengelus dadanya pelan lalu melingkarkan tangan dileher lelakinya dan menge*up bibir itu dengan lembut.


Mamat yang mendapat serangan tiba-tiba dari Vita hanya mampu terpaku, Vita yang hampir tak pernah memulai menc*mbu dirinya it tiba-tiba melakukan hal seperti ini.


"Kenapa hm?" tanya Mamat mengelus pipi Vita lembut.


"Pantesan cewek diluar sana pada kegatelan sama kamu ya, ternyata kamu sekeren ini," puji Vita pelan, pipinya blushing karena mengatakan hal yang demikian absurd kepada Mamat.


"Emang baru tahu? Apa kita nggak usah keluar aja, kita habiskan di dalam kamar aja?" tanya Mamat lalu ******* bi*ir Vita lembut.


Dan kec*pan demi kec*pan memenuhi ruangan tersebut, sampai mereka hampir kehilangan nafas.


Vita tersenyum dan malu, selama mereka berpacaran bahkan Vita tak pernah sekalipun merayu Mamat seperti saat ini.


"Ayok kita buruan keluar, daripada nanti kebablasan," ajak Vita tersenyum malu.


"Jangan suka menyerang duluan kaya tadi, kamu tahu kan aku laki-laki normal," kata Mamat lembut sambil menyentil kening Vita lembut.


Vita mengusap keningnya pelan dan tersenyum malu lalu menggandeng tangan cowoknya.

__ADS_1


Ya mulai saat ini Vita harus ekstra hati-hati ternyata Mathew Alexandrio Praja ini yang pernah ia tolak dulu adalah hot man yang diburu perempuan di luar sana.


__ADS_2