
Vita menatap langit-langit kamarnya, matanya tak juga bisa terpejam padahal sekarang sudah pukul satu dinihari, ingatannya justru melayang kembali pada saat kuliah dulu.
Vita bertemu Raka tanpa sengaja di perpustakaan kampus ketika dirinya sedang mencari referensi untuk menyelesaikan tugas dari profesor Hasna.
Dirinya yang sedang fokus mencari buku tak sengaja menyenggol Raka yang melintas di belakangnya dengan membawa setumpuk buku yang akhirnya terjatuh dan berserakan ke lantai.
Dari sanalah awal pertemanan mereka terjalin, walaupun beda fakultas tapi sering kali mereka bertemu dalam berbagai kesempatan.
Hingga akhirnya Raka memperkenalkan Erina pacarnya dan juga Roni sahabatnya, keempatnya menjalin pertemanan yang manis.
Sampai saat dimana Raka memposisikan dirinya sebagai mak comblang atas perasaan suka Roni kepada Vita, yang pada akhirnya bertepuk sebelah tangan karena Vita tak memiliki rasa yang sama dengan Roni.
__ADS_1
Justru antara Vita dan Raka terjalin persahabatan yang semakin erat, Raka nyaman berbagi cerita dengan Vita tentang segala hal termasuk ketika Erina berselingkuh dibelakang Raka.
Vita yang baik, Vita yang care, Vita yang tanggap menolong membuat keduanya semakin dekat, apalagi ketika hubungan Raka dan Erina tak bisa diselamatkan lagi.
Dengan semangat membara, Raka mencoba mendekati Vita menawarkan hubungan yang lebih dari sekedar hubungan persahabatan.
Vita yang awalnya menolak karena tak mau dijadikan pelarian oleh Raka pada akhirnya luluh juga karena perlakuan manis yang diberikan cowok itu membuat Vita semakin baper.
Dan karena rasa itulah ketika tak berapa lama mereka berpacaran dan perasaan Vita yang semakin dalam terhadap Raka membuat dunia Vita akhirnya berantakan karena Raka memutuskan cintanya secara sepihak.
Lebih menyakitkan lagi ketika Vita mendengar kabar kalo Raka menerima Erina kembali setelah gadis itu menyakiti Raka dan berselingkuh dibelakangnya.
__ADS_1
Sebuah tamparan keras kembali Vita dapati, bahwa dirinya harus legowo dan pandai menempatkan diri tepat dimana dirinya harus berdiri.
Dunianya yang penuh warna harus berantakan, untung akal sehatnya masih berjalan, walaupun harus tertarik tapi buktinya Vita dapat bangkit kembali, menyelesaikan kuliahnya dengan baik dan melanjutkan mimpi setelah ijasah S1 dia pegang.
Khayalan Vita yang menjelang entah kemana tadi akhirnya kembali membawa kesadarannya, bahwa Vita harus ikhlas jalan yang harus ia tempuh berlika-liku.
Tapi setidaknya ia harus bersyukur karena Tuhan Sang Maha Penyayang itu buktinya masih menyayangi dirinya seperti ini, tak terpuruk karena takdir yang rasanya tak adil dalam hidupnya.
Tapi bahkan dalam keadaan terpuruk pun tangan Tuhan selalu menolong dirinya dalam setiap kesempatan dan keadaan.
Kalo pun dirinya harus bertemu dengan Raka harusnya tak ada sesuatu yang bisa menahan atau membuat dirinya mengingat kenangan buruk dulu, bahwa dia lagi-lagi ditinggalkan karena dia tak worth it untuk dipertahankan.
__ADS_1
Walau kenyataan tetap saja rasa sakit itu masih bertahan disudut hatinya yang paling dalam, sekali lagi bukan mendendam dan meyimpan kenangan itu, hanya saja semua Vita pakai untuk pembelajaran dirinya agar lebih mawas dalam memilih pasangan, walau akhirnya tetap saja untuk manusia sekelas Aryo pun Vita tetaplah bukan perempuan yang worth it untuk dipertahankan.