The Mantans

The Mantans
Bab 91 : Candu


__ADS_3

Sebulan sudah Vita menyandang status sebagai seorang istri dari Mathew Alexandria Praja.


Dan selama sebulan itu mereka berbulan madu di rumah saja karena kesibukan Mamat yang menggila akhir-akhir ini maka Vita harus merelakan bulan madunya diundur untuk waktu yang tak bisa ditentukan.


Bagi Vita bulan madu bisa dilakukan dimana saja, termasuk bisa dilakukan di rumah baru mereka yang telah mereka tempati satu hari setelah pernikahan mereka.


Vita memungut jubah kimononya yang tergeletak begitu saja di lantai setelah sebelumnya dicampakkan oleh sang suami yang kembali meminta jatah kepadanya ketika mereka baru melek mata di pagi hari.


Mamat menahan pintu kamar mandi yang akan Vita tutup."Mandi bareng." putusnya tanpa beban.


Dengan cuek Mamat ikut masuk ke dalam kamar mandi dan dengan santai membantu istrinya membuka baju tidurnya yang bahkan belum terpasang dengan sempurna.


"Belum puas emang?" tanya Vita dengan wajah cemberut.


Dengan santai Mamat menggelengkan kepala pelan." Sejam sekali juga aku nggak akan puas sayang," bisik Mamat dengan senyum jail.


Vita menghembuskan nafas dengan kasar, ini bukan dia mau durhaka sama suami ya, tapi suaminya ini memang punya na*su yang besar hingga membuat Vita sampai menggelengkan kepala saking herannya.


Kemarin saja sepulang kerja dia sudah melayani sang suami, baru saja dia juga sudah melayani suami, dan sekarang.... tak mungkin kan kalau mereka mandi berdua dan tak melakukan apa-apa.


"Udah jangan manyun aja." Tarikan lembut Mamat menuntun Vita untuk berdiri di bawah shower, perlahan menyetel suhu air hangat lalu menyalakan shower hingga membasahi keduanya.


"Nyenengin suami itu ibadah sayang," bisik Mamat sen*ual.


"Tapi nggak kayak minum obat juga kali," celetuk Vita lirih, sambil mengalungkan tangannya pada leher Mamat, pasrah juga.


"Kamu terlalu seksi untuk tidak dijamah sayang," sahut Mamat lalu mendaratkan kecu*annya.


Vita kembali memejamkan matanya, meresapi sentuhan suami yang selalu bisa melenakannya hingga ia pun tak kuasa untuk menolaknya.


Suara erangan mendominasi acara mandi bersama ini, dan seperti biasa Mamat memberikan tanda pada leher dan juga beberapa tempat lainnya.


Tangan kokoh itu juga tak berhenti, semakin lama semakin tak terkontrol, bergerilya kemana-mana karena nap*u yang tak bisa ia tahan lagi, Vita dan pesonanya mampu membuat Mamat kecan*uan.

__ADS_1


"Nung*ing Yang."


Vita berbalik dan membungkukkan badannya, tangannya berpegangan pada tembok di depannya, lalu dengan cepat Mamat menerobos masuk ke dalamnya, lalu mulai memaju mundurkan pinggulnya mencari kepuasannya.


Erangan demi erangan yang keluar dari bibir Vita membuat Mamat semakin berna*su, dikecupnya punggung polos di hadapannya sambil sesekali menggigitnya meninggalkan tanda di sana.


"U dah Hu Hun, a ku nggak ku at, ah... " desah Vita terbata, karena terus digempur dari belakang oleh Mamat.


"Sebentar sayang, tahan dulu, aku juga sudah mau sampai," sahut Mamat ngos-ngosan dan mempercepat gerakannya.


Lalu suara bariton itu melenguh dan mendekap tubuh Vita dengan erat, menikmati sisa-sisa pertempuran mereka yang semakin hari semakin dasyat dan variatif.


Setelah membersihkan diri, mereka mandi bersama, kali ini benar-benar mandi, Mamat tak tega melihat istrinya yang kepayahan itu.


Mamat yang pertama keluar dari kamar mandi, tahu kalau Vita pasti membutuhkan waktu lebih lama untuk membersihkan diri.


Tak berselang lama Vita keluar dari kamar mandi, dengan rambut dibungkus handuk, dan jubah mandi membungkus tubuhnya.


Bibir Vita semakin manyun melihat suami yang sedang asyik menggulir ponselnya sambil duduk santai di sofa yang ada di dalam kamar mereka.


"Padahal kan rencananya hari ini aku mau ke kafe, kamu malah kasih tanda kayak gini banyak banget di leher aku," gerutu Vita sambil mengoles cream di wajahnya.


"Emang kenapa?" tanya Mamat sok polos.


"Ih.... malu tahu!"


"Ngapain malu? Yang nandain kan suami kamu bukan pacar apalagi selingkuhan," ucap Mamat tidak terima.


"Ya malu dong Hun," rengek Vita dengan menghentakkan kaki ke lantai.


"Kalo gitu nggak usah keluar rumah, kita main kuda-kudaan lagi," goda Mamat sambil memeluk tubuh Vita dari belakang.


Dengan kesal Vita menabok tangan Mamat yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


"Nggak kerja emang?" tanya Vita melanjutkan kembali aktivitasnya dengan Mamat yang masih menempel di belakangnya memperhatikan kegiatan Vita.


"Aku kan bisa off, kamu lupa siapa bosnya disana," bisik Mamat sens*al dengan mengecup pipi Vita lembut.


"Udah ah, sana berangkat kerja, lupa sekarang punya tanggung jawab ke aku?" Vita melepaskan belitan tangan Mamat di tubuhnya dan berlalu ke walk in closet dan mengambil baju ganti.


"Nggak harus ngantor juga kalik buat tanggung jawab ke kamu, bini nggak doyan foya-foya, makan juga sukanya sama tempe ama telur dadar, duit aku di bank nggak bakalan habis tujuh turunan juga kalo gaya hidupnya begini," Mamat ngedumel pelan, sambil mengganti baju rumahnya dengan baju kantor yang telah disiapkan oleh Vita.


"Aku denger ya Hun, jangan nangis ya kalo duit kamu aku habisin buat foya-foya," teriak Vita dari dalam walk in closet.


Mendengar sang istri mulai terpancing emosinya, Mamat terkekeh pelan lalu beringsut keluar kamar dan menuju ke ruang makan, tak lama Vita pun muncul dari dalam kamar.


Mereka duduk bersisian di meja makan, Vita dengan telaten menyiapkan susu dan sarapan untuk Mamat.


"Ada paket buat ibu," kata mbok Nah meletakkan paket tersebut di kursi tak jauh dari sana.


"Dari siapa mbok?" tanya Vita sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.


"Kalo nggak salah bu Maureen bu," jawab mbok Nah lalu berlalu menuju dapur.


"Apa lagi ya yang dikirim kak Maureen, beberapa hari lalu kan udah kirim tas ama sepatu," gumam Vita sambil melirik paketan yang kelihatan tipis itu, perkiraannya baju bukan tas atau sepatu.


Setelah menyantap sarapannya, Mamat dan Vita kembali ke kamar mereka, tak lupa Vita menenteng paketan tersebut bersamanya.


Dengan rasa penasaran , Vita membuka paketnya, sementara Mamat sedang asyik menelepon seseorang, tangan lelaki itu mengusap punggung Vita yang sedang membuka paket.


Dengan membelalakan mata, Vita melihat isi paket yang dikirim oleh Maureen, baju tidur kurang bahan bermaterial lembut itu sontak membuat Vita menekuk wajahnya dan memanyunkan bibirnya.


"Wah kakakku tahu aja nih kebutuhanku!" seru Mamat kegirangan.


"Nggak pakai begini aja mintanya udah kaya obat, bagaimana pakai yang begini," desah Vita frustasi.


"Aku berangkat dulu ya Yang," pamit Mamat mengecup kening Vita lembut.

__ADS_1


"Jangan lupa nanti malem dipakai, yang warna merah kayaknya keren tuh," bisik Mamat mengecup telinga Vita lembut, dan dengan terkekeh keluar dari kamar dan bersiap berangkat ke kantor.


Sementara Vita membanting lingerie itu di kasur dengan gemas, bisa-bisanya kakak iparnya mengirim kayak beginian kepadanya, memangnya Maureen tidak tahu bahwa Mamat sudah mulai kecan*uan dengannya.


__ADS_2