
Seorang perempuan cantik melenggang memasuki panorama resort, wajah cantik dan penampilannya yang menarik, menjadi perhatian hampir semua karyawan dan pengunjung yang berada di sana.
"Selamat siang, selamat datang di Panorama Resort," salam seorang resepsionis menyambut kedatangan perempuan cantik tersebut.
"Selamat siang mbak, saya sudah reservasi kemarin," balas perempuan itu dengan senyum manis lalu menyerahkan kertas yang ia pegang.
"Baik saya cek dulu ya bu." Resepsionis menerima kertas tersebut lalu mengutak-atik komputer.
"Boleh saya meminjam KTP ibu?" tanya resepsionis sopan.
Perempuan itu mengeluarkan KTP dari dompetnya lalu menyerahkan ke embak resepsionis di depannya.
Resepsionis segera menerima KTP tersebut dengan sopan, lalu berkutat kembali dengan komputernya.
"Rencananya saya mau menginap satu minggu ya mbak, kalo nanti saya mau nambah stay bisa kan?" tanya perempuan tersebut dengan lembut tapi nadanya terdengar datar.
"Maaf Bu, karena resort kami merupakan salah satu resort yang banyak diminati pengunjung, saya sarankan untuk ibu booking dari sekarang ibu mau menginap untuk berapa hari, karena resort kami selalu full apalagi sedang weekend, takutnya ibu tidak kebagian kamar dan terpaksa harus check-out," terang embak resepsionis sopan.
"Ya udah deh satu minggu dulu untuk sementara, nanti gampang untuk selanjutnya." Perempuan itu mengedikan bahu.
"Baik bu, tunggu sebentar ya."
Lalu si embak ketak ketik di komputer lagi, setelah selesai, menyerahkan kunci kamar, KTP dan kartu ATM milik tamu tersebut yang sempat dia berikan tadi.
"Terima kasih bu Vivian, semoga anda nyaman menginap di sini," ucap resepsionis sambil menangkupkan tangan.
Vivian Caroline, mantan tunangan Mamat, sengaja datang ke kota ini dan menginap di resort milik Mamat, sengaja meninggalkan semua aktivitasnya di Jakarta untuk mengejar kembali tunangan yang pernah dia campakkan dulu.
Tak tahu diri? Ya bisa dibilang Vivian adalah perempuan yang tak tahu diri, setelah dia dengan seenaknya meninggalkan Mamat sehari sebelum pernikahan mereka, dan sekarang Vivian kembali datang untuk mengambil apa yang menjadi miliknya.
Apalagi ketika mendengar cerita dari Oma dan tante Vena bahwa Mamat sampai saat ini belum bisa move on dari dirinya.
__ADS_1
Kepercayaan dirinya semakin melambung tinggi, apalagi dirinya menjalin hubungan yang tidak sebentar dengan Mamat, dua tahun berpacaran dan selama setahun bertunangan, bahkan mereka telah melewati banyak hal termasuk sering melalui malam-malam panas bersama, tak munafik lah mereka bukan orang yang suci.
Tak perlu berlama-lama di dalam kamar, karena tujuannya kemarin bukan untuk vacation, Vivian lalu keluar dari kamarnya sekedar untuk makan siang dan menunggu Mamat.
Sambil menikmati makan siangnya, mata Vivian memindai, memperhatikan bangunan resort yang mewah tersebut, senyum tersungging di bibir manisnya melihat kekayaan Mamat yang semakin menggunung (jangan lupakan juga kalo Mamat salah satu pewaris dari Sutama corp milik keluarganya).
Tak berapa lama, matanya menajam, menyaksikan Mamat melintas di depannya dengan menggandeng tangan seorang perempuan yang berjalan malas di belakangnya.
Bahkan Mamat tak acuh dengan sekitarnya, terus menggandeng tangan perempuan itu menuju ke lift dan menghilang dari hadapan Vivian.
Kening Vivian mengeryit, untuk menjawab rasa penasarannya, Vivian melambai memanggil salah satu pelayan yang berada tak jauh darinya.
"Mbak, yang tadi lewat itu siapa?" tanya Vivian pura-pura tak mengenal Mamat.
"Yang mana ya bu?" tanya si embak pelayan bingung, karena banyak pengunjung yang berlalu lalang disana.
"Yang cowok sama cewek tadi," tegas Vivian.
"Oh yang barusan banget ya bu? Yang pakai baju putih?" tanya pelayan memastikan orang yang dimaksud oleh Vivian.
"Oh itu pak Mathew pemilik resort ini dan bu Vita calon istrinya," pelayan tersebut menjelaskan dengan sopan.
"Calon istri?" tanya Vivian terkejut.
"Iya bu, ibu kenal pak Mathew?" tanya Pelayan hati-hati karena melihat keterkejutan Vivian.
Setelah mengucapkan terimakasih, Vivian bergumam, " Oh kamu sudah punya calon istri ya Mat, tapi no problem, aku pasti bisa rebut kamu lagi, apalagi perempuan itu bukan tipe kamu banget, perempuan kampung!"
Sementara di kamar Mamat, Vita terus menekuk wajahnya kesal karena harus menuruti kemauan Mamat untuk makan siang bersama di tempatnya.
Belakangan hari sejak Mamat pulang dari Jakarta, pria itu semakin posesif dan overprotective, bikin Vita bete bin kesal.
__ADS_1
Tapi mau komplain seperti apa Vita tetap aja kalah, malah sekarang Mamat dengan semena-mena menggeser dirinya dari kafenya sendiri dan mengangkat Vita menjadi manajer restauran di resortnya.
Jelaslah Vita menolak, kafe ini merupakan impian Vita sejak lama, dia tak akan rela usahanya dikelola orang lain, ya meskipun yang mengelola juga bukan orang sembarangan tapi bagi Vita kepuasannya tentulah beda.
"Itu bibir kalo masih manyun aja, ntar aku ***** lho," goda Mamat melihat Vita terus manyun dan menatapnya nyalang.
"Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu tarik Sena dari kafeku, aku tetap mau kelola sendiri," protes Vita.
"Sena itu bukan orang sembarangan lho Yang, dia bakalan jadiin kafe kamu maju dan tambah gede, kamu tinggal ongkang-ongkang kaki terima hasil dari kafe plus gaji sebagai manager di resort ini, " bujuk Mamat lembut.
"Aku nggak suka kerja satu kantor sama pacar, nggak enak, dimata-matain terus," sungut Vita tetap tak mau mengalah.
"Iya nggak suka kerja disini, kan nggak bisa ketemu mantan kamu, iya kan?" tuduh Mamat tak beralasan.
"Nuduh aja bawaannya, capcay deh!" ketus Vita sambil merotasi kedua matanya.
Mamat mengedikkan bahu tak peduli."Pokoknya aku tak menerima penolakan, Senin depan kamu udah harus ngantor disini."
Vita menggelembungkan pipinya lalu membuang nafas kasar, matanya menatap Mamat dengan galak, kalo sudah begini protes pun rasanya akan sia-sia.
Akhirnya Vita hanya terdiam, menikmati menu makan siangnya yang telah tersaji di hadapannya tanpa minat.
Mamat hanya tersenyum simpul melihat wajah kekasihnya yang terus tertekuk, Mamat sengaja menempatkan Vita di dekatnya karena intuisinya mengatakan bahwa Vivian merencanakan sesuatu, apalagi dukungan oma dan mami Vena tertuju kepada perempuan itu.
Mamat tahu betul seperti apa Vivian itu, dia sanggup melakukan banyak hal untuk menghancurkan hubungannya dengan Vita, dan Mamat tak mau itu terjadi, makanya dia menempatkan Vita di dekatnya agar Mamat bisa melindungi Vita.
Selesai menikmati makan siang mereka, akhirnya Mamat menemani Vita untuk kembali ke kafenya, tetap dengan menggandeng tangan perempuan itu, tak mempedulikan tatapan heran dari karyawannya yang terbiasa melihat dia yang datar dan minim ekspresi.
Hingga panggilan seseorang yang sedang duduk di salah satu kursi di restauran, membuat Mamat langsung mematung.
"Hallo Mathew, apa kabar?" sapanya lembut.
__ADS_1
Vita menatap perempuan yang berdiri di depan Mamat itu dengan kening berkerut.
'Who's that?'