
Susi memasuki kafe dengan langkah tergesa, tujuan pertamanya tentu ingin segera menemui Vita, jujur saja sih tadi Susi ikutan kena omelan Hesti ketika dirinya mengantar pesanan perempuan itu, bikin gadis lugu nan polos yang baru pertama kali kerja itu jadi lemes dan gemetaran.
"Mbak...." panggilnya dengan suara yang sengaja dipelankan, tahu dong kalo suara Susi dan Retno itu kencengnya ajubilah.
Vita menoleh dan menatap Susi bingung, kenapa karyawannya itu terlihat ketakutan.
"Kamu kenapa Sus?" tanya Vita mengernyitkan kening.
"Aku nggak salah anter pesenan kan?" cicit Susi jelas ketakutan.
"Kamu diapain sama Hesti Sus?" tanya Vita prihatin, sebenarnya mau ketawa melihat raut muka Susi yang ketakutan.
"Aku diomel-omelin mbak, katanya kafe kita nggak bonapitlah, kampunganlah, mau diviralin katanya." cerita Susi menggebu-gebu.
"Ya udah biarin aja Sus, namanya juga orang stress." celetuk Retno yang tiba-tiba muncul dari dapur ikutan nimbrung.
"Aku sampai dredek (gemetaran) diomelin kayak gitu." Adu Susi lemes tapi juga gemes.
__ADS_1
Vita menopang dagunya sambil mendengar kedua karyawannya menceritakan pengalaman mendapat komplain dari langganan yang baru pertama kali mereka alami.
Beda ama Vita, sebelum dia membuka usaha kan dia sudah terlebih dulu bekerja di perusahaan multinasional bagian marketing pula, otomatis sudah jadi makanan sehari-hari menghadapi situasi seperti ini, tak hanya jutaan rupiah jumlah klaimnya, bahkan Vita pernah menangani klaim customer yang jumlah klaimnya bikin dia sesek nafas dan hampir tidak bisa tidur sebulanan.
Walaupun keadaan hati Vita lagi kesel karena komplain-nan Hesti tapi mendengar kedua karyawannya berceloteh seru seperti ini bikin hiburan tersendiri buat dirinya, untung saja kafe lagi sepi.
"Mbak Vita nggak marah sama kita kan mbak?" tanya Susi setelah dari tadi tak ada suara yang keluar dari bibir Vita.
Vita menggeleng." Hal kayak gini memang bisa terjadi dalam dunia usaha nduk, jadi kalian kudu siap, belajar meng-handle biar nggak dipermainkan pelanggan."
"Tapi tadi kok mbak Vita iyain aja waktu mbak Hesti minta potongan harga?" tanya Retno bingung.
"S O P itu semacam sop mbak?" celetuk Susi heran dengan banyaknya istilah yang dipakai Vita dan Retno.
Vita dan Retno meledakkan tawa dengan keras, setelah keruwetan yang terjadi, kelucuan Susi menjadi hiburan tersendiri buat keduanya.
ketiganya tetap bercerita, sampai tanpa ia sadari sepasang mata menatap awas ketiganya dari dalam mobil yang terparkir di depan kafe tersebut.
__ADS_1
Gadis manis itu menyeringai melihat pemandangan di depannya.
"Nikmati kebahagiaanmu sebelum aku porak-porandakan, sudah cukup aku diam selama ini dijadikan foto copy dirimu, cih.... cewek kayak kamu mau disandingkan sama aku, jangan mimpi!" desisnya menakutkan.
Lalu perempuan manis itu menyalakan mesin mobil dan berlalu dari sana, segala pikiran jahat terlintas dalam benaknya, yah dendam masa lalu itu masih terpatri kuat dalam sanubarinya.
"Ya kan karena kita nggak ada bukti Ret, makanya aku minta kalian kalo ada pesenan by phone lagi, kalian konfirmasi ulang pakai WA, at least buat bukti kita." jawab Vita.
"Mbak Vita kie lho ngomong pakai at lis, pakai be pon, ndak paham aku." protes Susi dengan bibir manyun.
Vita tertawa geli mendengar perkataan Susi."Nanti kamu tanya Retno artinya ya."
"Ngomong-ngomong mas Mamat kapan balik ya mbak? Udah lebih dari satu minggu nggak ada kabarnya."
"Tahu tuh, aku WA jawabnya masih ada urusan, mana kita lagi rame lagi, gitu aja nyuruh aku buka cabang, terus siapa yang bantu handle?"
"Keluar lagi bahasa gaulnya, handel opo meneh itu." sungut Susi kesal.
__ADS_1
Vita dan Retno hanya tertawa pelan mendengar omelan Susi.