The Mantans

The Mantans
Bab 27 : Termasuk di dalamnya?


__ADS_3

Sepanjang hari ini Vita memutuskan untuk beristirahat di rumah, menyerahkan urusan kafe kepada Mamat dan Retno.


Stamina Vita benar-benar terkuras habis dengan semua urusan kafe ditambah urusan kedua mantannya yang seakan tak memberi dirinya sedikit waktu untuk sekedar mengatur nafas.


Dering ponsel dan rentetan pesan yang Vita terima dari keduanya sejak tadi pagi membuat moodnya yang sudah hancur menjadi semakin hancur.


Vita melempar asal ponsel tersebut sembarangan, mulutnya semakin mendumel mirip ikan koi yang lagi megap-megap.


Frustasi dengan tingkah para mantannya, andai tahu kota ini terlalu mudah ditemukan, mungkin kemarin Vita pergi ke Antartika sekalian, pasang tenda di tengah gurun salju rasanya lebih tentram.


Mengabaikan bunyi ponsel yang terus berdering, tak peduli siapapun yang menghubunginya, Vita yakin urusan kafe bisa di handle dengan baik oleh Mamat.


Ternyata walau cuma seorang driver ojek, kualitas Mamat tak kalah dengan pekerja kantoran, terbukti baru diajar sekali saja, Mamat langsung bisa mengoperasikan sistem kasir dan penjualan online.


Bunyi ponsel masih terus memanggil, tanpa peduli Vita men-silent lalu kembali menarik selimut melanjutkan tidur yang sempat terganggu.


***

__ADS_1


Di tempat lain, tepatnya di kafe Omah Pasta, seorang perempuan cantik sudah duduk di salah satu kursi yang ada di situ, padahal hari masih terlalu pagi dan kafe pun belum buka.


Retno dan Susi saling lirik disela mereka menyiapkan bahan untuk mulai membuat beraneka pasta.


Dapur yang semula sudah panas karena bara api, terasa semakin panas karena ada perempuan yang menunggu atasannya yang tak menggubris panggilan mereka.


"Kowe udah ngubungi mbak Vita Ret?" tanya Susi dengan bahasa Jawa medok yang dicampur dengan bahasa Indonesia.


"Uwis, tapi ndak diangkat Sus." jawab Retno sambil melirik perempuan yang sedang duduk tersebut.


"Iyo. Itu perempuan judes banget mukanya, kayak mau nelen orang yang ada di depannya." sungut Retno sebel.


"Enek perlu opo dia sama mbak Vita ya Ret?" tanya Susi kepo.


"Mbuh! Aku juga ndak paham, kalo aku bilang musuh mbak Vita, wong mbak Vita ndak banyak kenalan di sini." sahut Retno sambil tangannya memotong sosis.


"Yo wis biarin aja, nunggu sampe lumuten disitu, uwis dikasih tahu kalo mbak Vita ndak kesini malah ngeyel." celetuk Susi cuek.

__ADS_1


"Iya biarin aja biar dia puas."


Sementara Rara yang sedang dibahas oleh Retno dan Susi masih terlihat anteng dan betah menunggu kemunculan Vita.


Rara merasakan emosi yang siap meledak mengetahui Evan suaminya diam-diam kembali menjalin hubungan dengan Vita.


Sebagai seorang istri, Rara merasa dipecundangi, mana kesombongan Evan yang dulu ketika laki-laki itu menertawakan Vita yang cinta mati dan gagal move on darinya.


Semua itu hanya bualan semata, kalo sekarang Evan bertemu kembali dengan Vita dan laki-laki itu justru terperangkap oleh pesona Vita yang sebenarnya yang biasa-biasa saja dalam pandangan Rara.


Apalagi Rara sempat beberapa kali memergoki Evan menyambangi kafe ini, dan Vita menyambut baik kedatangan Evan.


Ah.... rumah tangganya yang sudah tidak baik-baik saja itu, semakin hari semakin tambah kacau dengan kedatangan Vita di kota ini.


Karena alasan tersebut Rara mendatangi Vita, meminta kemurahan perempuan itu untuk tak menanggapi dan terjerumus dalam pesona Evan.


Rara tahu pesona suaminya itu sulit untuk ditolak oleh siapapun, apakah Vita termasuk di dalamnya?

__ADS_1


__ADS_2