The Mantans

The Mantans
Bab 36 : Bersandarlah dibahuku


__ADS_3

Vita memelototkan mata melihat adegan adu mulut sepasang suami-istri di depan kafenya.


Evan dan Rara terdengar saling berteriak dan mendesis melemparkan tuduhan dan argumentasi tak berdasar, dan sesekali menyebut nama Vita.


Oh come on masak mereka berantem gara-gara Vita yang tak melakukan kesalahan apapun terhadap mereka.


Lelah dan emosi justru membuat Vita menyandarkan tubuhnya di tembok deket pintu masuk, sengaja menyaksikan perdebatan keduanya, tak lupa menyilangkan kedua tangannya di dada.


Evan yang menyadari pertengkaran dengan sang istri jadi tontonan Vita, akhirnya mengalah dan mengatupkan bibirnya, tak lagi merespon omongan pedas sang istri.


Melihat Vita yang tampak asyik melihat pertengkaran dirinya dan sang suami, bukannya mereda amarahnya justru membuatnya semakin tersulut.


"Seneng kan liat rumah tangga orang berantakan?" sinis Rara menatap Vita kesal.


Vita yang lagi mode tikam bacok hanya mengedikkan bahu acuh atas pernyataan Rara kepadanya.


"Mau kamu apa sih Vit? Nggak bisa menghargai aku sebagai istri Evan?" tanya Rara dengan dada turun naik menahan emosi.


"Lho aku tuh do nothing lho mbak, bisa-bisanya mbak Rara nuduh aku macem-macem, plis deh!" sahut Vita ketus, tahu dong kondisi Vita gimana saat ini, kalo ada yang ngajakin adu duel pasti dia ladeni.


"Udah Ma, ayo kita pulang, malu diliatin orang." ajak Evan menarik tangan Rara mengajak istrinya pulang ke rumah.


"Nggak! Kita harus bicara, kamu, aku dan perempuan itu." tunjuk Rara mencoba mengintimidasi Vita, sayangnya intimidasi itu tak mempengaruhi Vita sama sekali.


Evan menghela nafas panjang, malu dan frustasi mendengar perkataan istrinya.


"Ya udah ayok kita ngobrol di dalam, aku nggak mau dikatain dan dituduh macem-macem." putus Vita akhirnya, suka tidak suka, mau tidak mau Vita memang harus menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut-larut.


Vita membuka pintu kaca di belakangnya dan membiarkan Rara dan Evan untuk mengikuti dirinya.


Mereka duduk saling berhadapan, Vita duduk seorang diri dan di depannya duduk Rara dan Evan.


"Yuk bisa mulai diskusinya, saya mau denger apa yang mau disampaikan mbak Rara sama aku." cetus Vita membuka obrolan mereka.

__ADS_1


Evan terlihat kikuk, bingung apa yang akan ia sampaikan. "Vit.... maaf ya." Evan membuka suara.


"Untuk?" tanya Vita datar.


"Untuk kesalahpahaman ini, untuk tuduhan istriku yang tak beralasan, untuk semuanya." jawab Evan lirih.


"Kok jadi aku yang kamu salahin pa!"


"Kan emang semua berawal dari kamu Ma, kamu sengaja melemparkan kesalahan kamu kepada orang lain, kepada aku bahkan kepada Vita yang tak ada sangkut pautnya, kebiasaan kamu yang tak pernah mau instropeksi diri itu yang membuat rumah tangga kita kacau seperti ini." ucap Evan datar dengan menatap istrinya.


"Kenapa jadi aku sih yang kamu salahin terus pa?" tanya Rara dengan suara meninggi.


"Terus siapa? Vita yang baru beberapa bulan kita temui padahal rumah tangga kita sudah bermasalah sejak beberapa tahun yang lalu. Aku nggak ngerti deh sama kamu Ma, aku sudah penuhi semua permintaan kamu, tapi kamu selalu saja merasa kurang dan kurang."


"Tapi kan tidak dengan berselingkuh dengan mantan dong!" sahut Rara sinis.


"Yang selingkuh tuh siapa?" bentak Evan kembali tersulut emosinya.


"Nggak ngaku!" cibir Rara.


Vita melongo mendengar pengakuan Evan barusan, dalam hati mengutuki ucapan Evan yang pasti akan jadi boomerang untuk dirinya


"Maaf kalo boleh aku ingin bicara." potong Vita tak sanggup lagi menahan bibirnya.


"Sebentar Vit, aku selesaiin dulu ucapanku." sahut Evan tegas.


"Kamu tahu kenapa aku suka bertemu dengan Vita? Beneran mau tahu?" tanya Evan dengan senyum smirk-nya.


Terlihat Rara maupun Vita menelan salivanya susah payah, tak siap mendengar ucapan Evan selanjutnya.


"Karena aku menyesal kenapa dulu bisa memperlakukan perempuan berhati malaikat ini seperti itu, andai aku bisa mengulang waktu dia yang akan aku pilih untuk menjadi istriku bukan kamu!" kepalang tanggung Evan mengeluarkan semua unek-unek nya mengenai istrinya, meski diakuinya ini tidak benar dan menyakitkan hati Rara istrinya.


"Oh jadi ini balasan kamu atas semua pengorbananku selama ini!" pekik Rara tak terima.

__ADS_1


Vita melemas mendengar ucapan Evan barusan, hatinya tak terima, apapun alasannya bahkan Vita tak bermaksud mengulang kisah mereka.


Disamping hatinya belum sembuh benar, dirinya juga tak akan mengulang kesalahan yang sama, menerima seseorang dari masa lalunya yang menorehkan luka sedemikian rupa.


Argumentasi keduanya mendadak terhenti ketika pintu masuk yang terbuat dari kaca bening itu terkuak.


Mamat masuk kedalam, tatapan matanya menghujam ke manik hitam Evan, lalu berganti ke Rara.


Kehadiran Mamat memberi kekuatan sendiri bagi Vita, dia butuh Mamat saat ini untuk mengeluarkan Vita dari kondisi ini.


"Ada apa ini sayang?" pertanyaan Mamat membuat Vita berjengkit, apalagi ketika Mamat duduk disampingnya dan melingkarkan tangannya memeluk pundak Vita.


Evan dan Rara saling tatap, benak mereka diliputi tanda tanya besar, mereka tahu siapa lelaki disamping Vita itu.


"Maaf mbak dan mas, saya minta tolong jangan membuat gaduh ditempat ini, saya tidak peduli ada masalah apa dalam rumah tangga kalian, yang jelas jangan sangkutkan Vita, karena sebagai pacarnya saya nggak rela pacar saya diseret-seret seperti ini." kata Mamat panjang lebar membuat Evan dan Rara saling pandang.


"Ini beneran Vit?" tanya Evan memastikan, Vita mengangguk pelan mengiyakan ucapan Mamat, dia hanya ingin terlepas dari situasi ini.


Evan menatap Vita dengan pandangan frustasi, apa yang ia bayangkan dan inginkan untuk mengulang kisah mereka dulu ternyata hanya bayangan ilusi, tak kasat mata, hanya angan belaka.


Tapi disisi lain Evan bisa sedikit bernafas lega paling tidak Vita tidak dianggap sebagai pelakor karena menerima ajakannya sebelum urusan rumah tangganya selesai.


Tanpa berkata banyak, Evan langsung pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi ke arah Rara maupun Vita, bahkan panggilan Rara yang mengekori langkahnya tetap tak dihiraukan.


Selepas kepergian keduanya, bahu Vita langsung melemah dan isak tangis kepedihan langsung terdengar dari bibirnya.


Entah siapa yang memulai, Mamat merengkuh Vita dalam pelukan, membiarkan perempuan cantik itu mencurahkan kesedihannya lewat tangisannya.


Selama ini Mamat hanya mampu terdiam ketika Vita didekati oleh lelaki lain, karena Mamat belum yakin akan perasaannya dan juga belum selesai dengan trauma nya.


Hati Mamat sakit ketika melihat Vita direndahkan, dituduh sebagai biang kerusuhan rumah tangga orang lain, jujur cowok itu ingin melindungi Vita.


Ketika isak tangis Vita mereda, dengan ragu Mamat meraih tangan Vita yang ada di atas meja lalu menggenggamnya.

__ADS_1


"Mbak..... ", panggilnya lirih.


"Kalo kamu ingin bersandar, bersandarlah dibahuku."


__ADS_2