
Vita keluar dari kamar mandi ketika ia menjumpai pak Henry telah berada di ruang rawat Mamat dan duduk di bangku yang disediakan khusus untuk pembezuk.
Bersyukur tadi Vita sempat meminta dibawakan baju oleh Retno, jadi Vita sempat mandi dan berganti baju, setidaknya penampilannya tidak membuat malu ketika harus menemui tamu, apalagi menemui pak Henry yang notabene bosnya Mamat.
"Pagi pak Henry," sapa Vita ramah.
"Pagi mbak, mbak Vita masih disini?" tanya pak Henry menyunggingkan senyum ramah.
"Iya pak kasihan Mamat sendirian nggak ada yang nungguin, " jawab Vita sopan.
Pak Henry mengangguk-angguk kepala mendengar perkataan Vita sambil melirik Mamat yang cuek menatap Vita dengan tatapan penuh cinta.
"Mat.... aku keluar nyari sarapan dulu ya, kamu butuh sesuatu nggak?" pamit Vita sengaja memberi waktu Mamat dan pak Henry untuk berbicara, feeling Vita sih ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan pak Henry, ya kali bos harus nyamperin anak buahnya.
"Nggak," jawab Mamat cepat.
"Pak Henry butuh sesuatu?" tanya Vita sebelum meninggalkan ruangan.
"Tidak mbak, terimakasih banyak."
"Hati-hati sayang," ucap Mamat lembut.
"Uhuk... uhuk... " Pak Henry terbatuk mendengar ucapan Mamat yang garing seperti itu.
"Em.... i... iya?" sahut Vita jengah dengan tindakan absurd Mamat di depan pak Henry.
'Dasar bocah sableng!'
Mamat menggeleng tanda dia tak membutuhkan apapun, lalu Vita melangkah keluar meninggalkan Mamat dan pak Henry.
Selepas kepergian Vita, Henry membuka suaranya. "Jadi sudah move on nih ceritanya?"
"Siapa bilang aku belum move on, sotoy, aku hanya menunggu orang yang tepat, dan dialah orang yang aku tunggu selama ini," jawab Mamat sambil menatap Henry malas.
"Dengan janda? Kamu siap sama konsekuensinya kan?" tanya Henry memastikan tuan mudanya yang sudah dia asuh sejak kecil itu yakin dengan keputusannya.
"Kenapa memang dengan janda? Ada masalah? Yang perawan aja banyak yang akhlaknya dibawah janda, jadi ngapain mesti mempermasalahkan status janda, yang penting aku nyaman dan yakin sama dia, " ketus Mamat.
"Ya sudah kalo kamu yakin dengan pilihan kamui itu, aku hanya menginginkan yang terbaik buat kamu." ucap Henry
"Lalu apakah identitas kamu tetap akan kamu sembunyikan?" lanjut Henry sekedar untuk mempersiapkan diri menghadapi pertanyaan Vita, kan harus sinkron dengan jawaban Mathew nanti.
__ADS_1
"Iya, nanti kalo waktunya tepat aku akan beritahukan sendiri kepadanya, om lebih baik tutup mulut dulu!" Perintah tegas Mathew dijawab anggukan Henry.
"Emang om jawab apa waktu Vita bertanya siapa om ini?"
"Aku atasan kamu."
"Hahahaha.... atasan dari Hongkong!" Tawa Mathew pecah seketika mendengar kebohongan pak Henry.
"Ya sudah om mau balik ke resort, sejak kamu menyamar kerjaan om jadi tambah banyak, lagian kamu sudah berada di tangan yang tepat dan om nggak mau ganggu ?" kata Henry lalu meraih tas kerjanya dan bersiap pergi.
"Thanks ya Om," ucap Mathew tulus, bagaimanapun laki-laki ini telah mengabdi pada papanya belasan tahun dan ketika Mathew terpuruk dan butuh dukungan seseorang, Henry pula yang bersedia meninggalkan semua fasilitas yang ia punya di Jakarta lalu pindah ke kota ini, membantu Mathew melewati semua dan menjadi tangan kanannya untuk memulai usahanya dari nol.
Henry keluar dari kamar rawat Mathew dengan senyum mengembang, pada akhirnya majikannya kembali move on.
Vita membungkukkan badan sopan ketika mereka berpapasan di depan kamar rawat Mamat.
"Mau pulang pak?" tanya Vita ramah.
"Iya, titip Mathew ya mbak, kalo ada apa-apa kabari saya, " jawab Henry membungkukan badan, lalu berjalan meninggalkan Vita.
Vita membuka pintu lalu berjalan mengendap ketika melihat Mamat kembali memejamkan matanya.
"Ngapain jalan ngendap-ngendap gitu?" tegur Mamat membuat Vita berjengkit kaget.
"Sini duduk deket aku," panggil Mamat sambil melambaikan tangannya.
"Kamu mau sarapan nggak Mat?" tanya Vita mengambil nampan berisi makanan dari rumah sakit yang sengaja diletakkan perawat di atas nakas di samping tempat tidur Mamat.
"Nggak ah, nggak napsu," tolak Mamat.
"Mau aku suapin?" Vita berinisiatif karena melihat tangan kanan Mamat pakai peyangga pasti kesulitan kalau dipakai buat mengangkat sendok.
"Mau, tapi nggak mau makanan rumah sakit."
"Eh... kok... tadi ditawarin nggak mau."
"Kamu beli sarapan apa emang?"
"Bubur ayam, kamu mau?"
"Mau, " jawab Mamat singkat diikuti dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Ya udah ini buat kamu, nanti aku beli lagi aja, " sahut Vita sambil membuka styrofoam.
"Buat berdua aja."
Glek.... tiba-tiba ada yang nyangkut di tenggorokan Vita, matanya berkedip pelan mendengar ucapan Mamat barusan.
"Biar romantis makan berdua." Lanjutan ucapan Mamat tambah bikin Vita terbengong dan tak mampu membalas godaan Mamat, kemana Vita yang dulu pintar melontarkan candaan dan ledekan ke orang lain, kalau sekarang denger rayuan cringe aja langsung mlempem kaya kerupuk disiram kuah soto.
Mulut Mamat sudah mangap minta segera diisi, dengan pelan Vita menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Mamat.
Di sela menelan makanannya, karena bubur kan tidak perlu dikunyah, jadi masuk mulut langsung ditelan aja, Mamat mengoceh menggoda Vita. "Tahu enak gini, dari dulu aku kalo makan minta disuapin aja ya."
Vita merotasi matanya, kesal dengan candaan Mamat yang terdengar garing di telinga.
Mamat menolak suapan Vita, meminta perempuan cantik itu untuk gantian memasukan bubur ke mulutnya.
Ketika melihat Vita tak segera memakan bubur tersebut, akhirnya Mamat melontarkan pertanyaan yang membuat Vita tambah jengkel. "Kamu geli gantian sendok sama aku?"
"Hah?!" Vita tersentak.
"E... enggak kok, cuman aku aneh aja Mat, kemana larinya sosok Mamat yang dulu pendiam dan polos, apa jangan-jangan kamu kemarin kepentok aspal jadi gegar otak?" sambung Vita.
"Beneran gegar otak baru tahu rasa, mulut kok ngomongnya asal begitu sih?" gerutu Mamat.
"Eh... maaf... maaf, maksud aku tuh, kamu berubah," ucap Vita nyengir.
"Kan sama pacar, ya harus berubah dong, harus lebih nunjukin rasa sayang gitu."
"Hah?!"
"Kamu kenapa sih Vit, daritadi kagetan mulu."
Baiklah mungkin Mamat memang menganggap mereka sudah berpacaran kali, ya sudahlah nikmati aja, tak usah mikir terlalu berat, toh Mamat orangnya baik, sayang dan perhatian, pelan-pelan saling mengenal lebih lanjut saja.
"Betewe Mat, kenapa pak Henry kok kayak hormat banget sama kamu gitu ya, kalo dia atasan kamu, masak seperhatian gitu," ucap Vita sambil kembali menyodorkan sendok ke mulut Mamat.
"Kamu atasanku, kamu baik juga."
"Dih beda tahu, kayaknya kalian tuh terbalik posisinya, kamu atasan dia bawahan."
"Uhuk.... uhuk..." Bubur yang belum tertelan sempurna itu nyangkut di tenggorokan Mamat.
__ADS_1
"Jadi kamu tuh sebenarnya Mamat atau Mathew sih?!"