The Mantans

The Mantans
Bab 70 : Please don't give up


__ADS_3

Keesokan harinya Mamat kembali menyambangi rumah orang tua Vita, sengaja datang lebih pagi karena takut Vita akan pergi lagi guna menghindarinya.


Mobil berhenti di depan pagar rumah orang tua Vita, tak jauh dari sana ada tukang sayur keliling yang sedang dikerubungi oleh ibu-ibu , sontak semua kepala itu menoleh menatap cowok keren yang sedang turun dari dalam mobilnya.


"Bude Nani, tuh calon mantu dateng lagi!" teriak bulek Har kepada ibunya Vita, padahal ibunya Vita berdiri disebelahnya, sengaja suaranya dikencengin biar yang disana semua pada dengar.


Setelah membayar belanjaannya ibunya Vita langsung bergegas menghampiri Mamat yang berdiri menunggunya, tak ingin meladeni celotehan tetangganya yang tidak bakalan selesai kalau ia ditanggapi.


"Pagi bu, Vitanya ada kan bu?" tanya Mamat sambil meminta tangan ibu untuk disalim.


"Ada, masih tidur, masukin mobilnya nak, biar tidak mengganggu mobil tetangga yang mau lewat." Ibu bersiap mendorong pintu pagar, tapi langsung dicegah oleh Mamat.


Mamet mendorong pintu pagar itu, lalu memasukan mobil ke halaman rumah tersebut.


Mamat memasuki rumah ketika ibu telah berhasil membangunkan Vita, rambut perempuan itu acak-acakan, sesekali masih terlihat menguap, tak ia sadari ada Mamat yang berdiri di depan pintu.


"Itu ada nak Mamat." Baru setelah mendengar perkataan ibunya, Vita mendelik dan bergegas masuk kembali ke dalam kamar, mengambil ikat rambut dan mengikat rambutnya asal.


"Cckk masih pagi juga udah nenamu," sungut Vita bete.


"Hush nggak sopan banget sih!" ibu menabok lengan Vita gemas.


Mamat tersenyum melihat Vita semakin cemberut melihat ibunya yang welcome atas kedatangan Mamat.


"Ayo nak duduk dulu, mau di sini atau mau di teras samping?"


"Di teras samping aja bu, lebih adem," jawab Mamat lalu melangkah ke teras yang ditunjuk oleh ibu.


Tak lama kemudian muncul Vita dengan membawa nampan berisi dua gelas kopi dan pisang goreng, jangan lupakan bibirnya yang tetap mengerucut, tak suka dengan kemunculan Mamat, yang sayangnya tak dipedulikan oleh cowok tersebut.


Meletakkan nampan tersebut diatas meja kecil yang diapit oleh dua kursi rotan di sebelah kanan dan kirinya.

__ADS_1


"Ngapain sih kesini mulu?!" tanya Vita dengan muka ditekuk.


"Nggak bisa nafas," jawab Mamat cepat.


"Hah?! Maksudnya apa coba?" tanya Vita tak mengerti.


"Ya kan emang aku nggak bisa nafas kalo nggak ada kamu disamping aku yang."


"Lebay!"


"Ya udah kalo nggak percaya, coba aja kamu pergi yang lamaaaa, paling ntar pulang-pulang kamu nemuin aku udah jadi mayat."


"Ngomongnya ngaco! Emang aku siapa bikin kamu segitunya, inget lho aku cuman seorang janda yang tak ada artinya!" ucap Vita ketus.


Mamat menggusah nafasnya pelan, pastilah Vita tersinggung atas ucapan maminya kemarin, dia yang mendenger saja bisa semarah ini, apa lagi Vita.


"Yang....kamu tahu kan seberapa penting kamu buat aku, aku beneran pengen serius sama kamu, aku minta maaf atas perkataan mamiku tempo hari, aku harap kamu mau memaafkan mami dan oma." Mamat meraih tangan Vita dan menggenggamnya lembut.


"Yang... " panggil Mamat lagi setelah tak ada tanggapan apapun dari Vita, perempuan itu masih menatap ikan-ikan yang bergerak lincah di dalam kolam yang ada di depannya.


"Nggak!" sahut Mamat cepat, membuat Vita menoleh menatap Mamat dengan kening berkerut.


"Kamu suka atau nggak suka aku akan tetap berada di samping kamu, kecuali kamu mau lihat aku mati!" Suara Mamat terdengar dingin dan mengancam.


"Dih jangan ngaco deh omongannya," sahut Vita bergidik ngeri.


"Kamu nggak tahu kan kalo sebelum bertemu dengan kamu, aku ibaratnya tubuh tanpa jiwa, karena jiwaku udah mati lima tahun yang lalu dan kamu menghidupkan lagi, jadi kalo kamu ingin melihat aku seperti yang kemarin lagi, tinggalin aja aku."


Vita terdiam, mengingat Mamat waktu pertama kali mereka bertemu, mata yang redup seakan tak ada kehidupan di dalamnya dan bibirnya selalu terkunci, tak pernah sekalipun dia tersenyum, rahangnya terlihat sering mengeras.


Apakah Vita tega melihat Mamat seperti itu lagi? Tentu jawabannya tidak, ia tak sanggup melihat prianya kembali seperti dulu lagi.

__ADS_1


Mereka melalui banyak hal, sama-sama pernah terluka, mencoba bangkit dan meraih bahagia, tapi seakan semesta masih tetap menguji seberapa besar lagi mereka harus mencoba.


"Jadi kamu mau liat aku seperti itu lagi?" tanya Mamat menatap Vita dengan pandangan penuh cinta.


"Aku takut Mat," kata Vita lirih.


"Aku kan udah bilang, kamu tinggal berlindung di belakangku, biar aku yang berusaha, hmm," bujuk Mamat lembut tetap menatap Vita yang masih belum mau menatapnya lagi.


"Tapi tetap saja..." Vita menutup sebelah matanya dengan tangan, menggusah nafas yang teramat berat di paru-paru.


"Plis sayang, jangan tinggalin aku apapun alasannya." Mamat mengecup tangan Vita dengan sepenuh hati.


Kalau mau ikuti kata hati, pasti saat ini hati Vita sedang ajojing mendapat perlakuan manis kayak gini, tapi persoalannya masalah yang sedang mereka hadapi saat ini tidak bisa hilang hanya dengan kecupan di tangan dan sikap romantis lainnya, perlu tekad yang kuat dan hati yang baja.


Duh.... Vita jadi sebel diperlakukan kayak gini, tak bisa dipungkiri kalau dia telah terjebak dalam pesona Mamat.


Vita menatap Mamat dengan intens, rasanya ia ingin menghindar tapi dia pun tahu bahwa ia tak sanggup melakukan itu.


"Janji kamu akan tetap ada disisi aku apapun yang terjadi?" tanya Vita akhirnya.


"Janji sayang." Lalu bibir Mamat menyunggingkan senyum merekah, lalu kembali mengecup tangan Vita berulang kali karena rasa bahagia.


"Jalan kita nggak gampang Mat, kamu yakin dengan semua ini?" tanya Vita lagi.


"Sejuta yakin sayang, udah yang penting kamu percaya sama aku, dan do nothing, aku yang akan bertindak." Ada nada bahagia terdengar dari suara Mamat.


Vita tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Mamat yang menular ke dirinya, namanya juga cinta, kalo yang disayang bahagia kita juga pasti ikut merasakan bahagia.


Vita tersentak kaget ketika sebuah cincin sudah terpasang dengan sempurna di jari manisnya, Mamat mengecup cincin itu, lalu menatap ke dalam mata Vita yang berkaca-kaca.


"It's too much," bisik Vita parau, gimana Vita tidak luluh coba.

__ADS_1


Mamat meraih tubuh Vita kedalam pelukannya, mengusap punggung itu pelan yang terlihat bergetar menahan tangis.


"Terima kasih sayang, please don't give up," bisik Mamat mengecup pelipis Vita dengan sayang.


__ADS_2