The Mantans

The Mantans
Bab 66 : Tentang Vivian


__ADS_3

Lima tahun yang lalu.


Vivian bergerak gelisah, Mamat memeluk sedang tidur dengan pulas di sampingnya dan memeluk dirinya dengan posesif, setelah menghabiskan lebih dari tiga jam untuk olahraga malam yang menguras tenaga mereka tadi.


Dengan mengangkat pelan tangan Mamat yang melingkar di perutnya, Vivian turun dari ranjang, memakai kembali kimono tidurnya yang tergeletak begitu saja di lantai.


Ponselnya tak berhenti berkedip sejak tadi, tapi Vivian tak punya waktu untuk mengangkatnya jika sedang bersama Mamat.


Tak ingin kepergok, dengan berjingkat, Vivian mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut setelah berada di luar kamar.


"Aku kan udah bilang jangan hubungi aku dulu!" lirihnya suara Vivian lebih seperti orang sedang berbisik, takut kalo suaranya membangunkan Mamat.


"Aku kangen kamu yang," rengek seorang cowok dari seberang sana.


"Aku juga kangen bego, tapi aku nggak bisa ketemu kamu dulu, tunggu aman dulu." Desis Vivian marah.


"Rasanya aku mau gila, kangen banget, kenapa sih kita nggak pergi berdua saja!" suara disana terdengar ngedumel.


"Sabar!" Vivian tak sabar juga akhirnya karena gerutuan disana.


Jujur Vivian juga tersiksa, dia tak lagi mencintai Mamat seperti dulu, dikarenakan Mamat terlalu bucin dan posesif membuat dirinya terkekang.


Setelah pertemuannya dengan Restu yang lebih hot, lebih seksi dan lebih ganteng dari Mamat membuat cinta Vivian yang telah memudar semakin memudar saja.


Walaupun Restu sudah memiliki istri, tapi hal itu tak membuat keduanya untuk berhenti berselingkuh, seperti candu yang semakin lama semakin menjerat mereka.


Hanya gara-gara waktu itu mereka terlibat one night stand ketika sama-sama sedang mabuk, akhirnya mereka terikat satu sama lain, menjalin kasih di belakang pasangan mereka masing-masing.


Dan semakin hari mereka semakin tak bisa lepas satu sama lain, karena Restu itu lebih hot dari Mamat, pesonanya begitu sulit untuk ditolak oleh Vivian.


Hingga saat itu tiba, hari yang telah direncanakan oleh Mamat dan keluarganya untuk hari bahagia mereka, harusnya Vivian bahagia, walaupun dia bukan dari keluarga konglomerat tapi keluarga Mamat mau menerima dia apa adanya.

__ADS_1


Tapi napsu dunia telah membutakan mata Vivian, hingga dia bersama Restu melarikan diri ke luar negeri dengan membawa banyak harta Mamat dan hidup bersama dengan Restu tanpa ikatan pernikahan.


Hingga akhirnya harta yang mereka bawa itu habis, karena sejak Restu meninggalkan istrinya, keluarga Restu tidak lagi memberinya uang, hanya uang hasil deviden saham yang ia punya saja yang ia terima yang tak akan mencukupi biaya hidup mereka yang hedon.


Akhirnya mereka berpisah untuk kembali ke pasangan mereka lagi.


***


"Jadi mau cerita sendiri atau gue yang buka semuanya di depan mami dan oma?" tanya Mamat menatap nyalang Vivian yang masih terlihat santai mendengar perdebatan dirinya dan orang tuanya.


"Mat... " panggil Vita lembut, mencoba melembutkan hati Mamat yang sedang berkobar dengan marah tersebut.


"Kalo lo diem, gue yang akan ceritain kenapa lo ninggalin gue waktu itu!" sambung Mamat dengan suara dingin.


"Oma, mami, apapun pendapat kalian tentang Vita mohon maaf aku tak peduli, bukan karena aku mau melawan mami dan oma, tapi bagiku Vita adalah penyembuh semua luka dan traumaku dari relationship ku yang gagal." Mamat menghirup udara pelan, menjeda ucapannya sebentar.


"Jujur selama lima tahun yang lalu sejak dia meninggalkan aku, aku kehilangan jati diriku, mengelana ke sana kemari mencari kedamaian, bahkan aku sempat menjadi tukang ojek hanya untuk menghilangkan kesepianku, hingga aku bertemu Vita secara tak sengaja, perempuan baik yang bahkan tak memandang status sosial kami, dia begitu baik dan sempurna di mataku untuk hatiku yang sudah cacat ini." Lanjut Mamat lagi.


Dengan pelan Vita beringsut, duduk berjongkok di samping Mamat, lalu menggenggam tangan itu dengan lembut.


"Sabar sayang," bisik Vita lembut.


Mamat menatap Vita dengan lembut, lalu membantu Vita berdiri dan menempatkan Vita di kursi bekas dirinya duduk tadi, sementara Mamat duduk di pegangan kursi sambil tetap menggenggam tangan Vita erat, mencari kekuatan disana.


Sementara oma dan mami yang mendengar perkataan Mamat membelalakan mata tak percaya.


Karena menurut pengakuan Vivian, dia terpaksa kabur karena dikejar-kejar oleh penagih hutang orang tuanya.


"Benar yang dikatakan Mathew tadi Vi?" tanya mami dingin.


"I itu tidak benar tante!" jawab Vivian cepat, dan dibalas kekehan oleh Mamat.

__ADS_1


"Lo itu jadi cewek nggak ada harganya banget sih Vi! Setelah lo dicampakkan Restu, lo mau mungut gue yang udah lo lempar ke tempat sampah! Karena lo tahu gue bisa lo porotin lagi seperti dulu, dasar tak tahu malu!" maki Mamat dengan suara tertahan.


"Ayolah sayang kamu jangan tuduh aku seperti itu, aku tuh masih sayang masih cinta sama kamu," bujuk Vivian lembut.


"Aku tahu aku salah ninggalin kamu waktu itu, tapi aku tak seperti yang kamu tuduhkan tadi, aku memang berteman dekat dengan Restu tapi hanya berteman tak ada hubungan lain." Vivian masih mencoba mencari jalan agar oma dan mami tetap percaya padanya.


"Waktu itu aku lari karena penagih hutang papa mau menjual aku, padahal aku sudah bayar mereke sepuluh milyar, tapi katanya kurang," cerocos Vivian.


Mamat mendengus mendengar pembelaan Vivian yang terdengar menjijikan di telinganya, lalu dengan malas melangkah menuju laci yang berada di pojokan ruangan itu.


"Seperti itu yang lo sebut teman dekat?!" tanya Mamat dengan suara dingin, dia melempar puluhan foto tak senonoh Vivian dengan Restu.


Mami, oma, Vivian bahkan Vita pun tampak terkejut melihat foto yang berserakan di meja tersebut.


Dengan tangan gemetar Vivian mengambil salah satu foto yang tergeletak itu, matanya membola melihat adegan in*im ketika dirinya dan Restu berenang saat itu.


Damn! Maki Vivian dalam hati, bagaimana Mamat memperoleh foto ini.


"Jadi jelas ya mi kenapa aku nggak bisa balik sama Vivian karena aku jijik dengan perempuan seperti dia!" ucap Mamat.


"Tapi tetap saja, perempuan itu juga seorang janda, mami tak akan memberi restu!" balas mami Vena menatap Vita dengan tatapan menghina.


Vita menarik nafas dalam, seorang janda, bagaimanapun dia menjaga dirinya sebaik mungkin, akan tetap terlihat hina di mata orang lain, dan Vita tak ingin membela diri.


"Mat.... aku rasa lebih baik kamu selesaikan masalah kamu dengan keluargamu, aku tak kan memaksa, kan aku udah bilang statusku tak sederajat dengan keluarga kalian, aku keluar dulu aja ya." Vita berdiri dan berniat berlalu dari ruangan tersebut, tapi tangannya ditahan oleh Mamat.


"Duduk! Siapa yang mengijinkan kamu keluar." Suara itu terdengar lembut tapi terdengar tak bisa dibantah.


Vita kembali duduk, lalu perkataan Mamat membuat semua yang berada disana terpaku.


"Tanpa persetujuan mami, oma, bahkan papi, aku akan tetap menikahi Vita, aku laki-laki tak perlu wali kan!"

__ADS_1


__ADS_2