The Mantans

The Mantans
Terlalu


__ADS_3

Mamat memandang lalu lalang kendaraan yang berada di bawah sana, Jakarta dan kemacetannya sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh siapapun juga.


Sudah sejak tadi Mamat sampai di ibukota ini, tapi Mamat belum berniat untuk mengunjungi kediaman keluarganya malam ini, saat ini dia memilih beristirahat di apartemen pribadinya, alih-alih rumah keluarganya yang telah lama tak ia kunjungi.


Dalam hati bertanya kenapa mereka mendesak dirinya untuk pulang, biasanya kesehatan oma yang jadi alasannya, tapi kali ini perasaan Mamat tak enak, pasti ada sesuatu yang mereka rencanakan, menjodohkan dirinya mungkin.


Bunyi ponsel di atas nakas membangunkan lamunannya, Mamat meraihnya dan seketika bibirnya menyunggingkan senyum tatkala melihat nama Vita disana.


Ah.... gadisnya yang begitu menggemaskan, baru tadi pagi ia berucap tak kan kangen dan tak akan menghubungi dirinya selama ia di Jakarta, tapi belum sehari berlalu Vita sudah lebih dahulu meneleponnya, dasar cewek!


"Hallo," suara Vita menyapanya dengan lembut.


"Hmm," jawab Mamat.


"Lagi dimana?" tanya Vita.


"Kenapa?" Mamat menyodorkan pertanyaan, alih-alih menjawab pertanyaan Vita.


"Kok kenapa?" tanya Vita dengan nada kesel, pasti disana kedua alis Vita meliuk karena kebingungan.


"Iya kenapa? Kangen?" tanya Mamat sengaja menggoda Vita.


"Dih geer amat sih pak!" ketus Vita dengan bibir mengerucut yang pasti terlihat imut.


"Aku males buat ke rumah yang," ucap Mamat, suaranya terdengar lirih.


"Lhah.... emang sekarang kamu dimana?" tanya Vita kaget.


"Di apartemen pribadiku."


"Lho kok nggak langsung pulang?"


"Perasaanku nggak enak."


"Mat.... dengerin aku ya, lebih baik segera ketemuin mereka, semakin cepat semakin baik kan, buat apa menghindar terus, toh kamu juga belum tahu apa yang akan mereka bicarakan, siapa tahu oma sakit karena memang kangen sama kamu," nasehat Vita dengan lembut.


"Kamu tidak tahu aja," sahut Mamat dengan wajah frustasi.


"Tidak tahu apa?" tanya Vita penasaran.


"Sudah deh nggak usah di bahas," jawab Mamat.


"Ya sudah aku tutup telponnya ya, take care disana." pamit Vita.

__ADS_1


"Kamu yang take care disana, ingat jangan ketemuin mantan kamu ya, awas aja!" ancam Mamat dengan suara datarnya.


"Hahahaha.... kamu nggak pantes ah posesif gitu, bikin aku merinding," gelak Vita meledek Mamat.


"Ya udah aku tutup ya, bye."


"Bye."


***


Keesokan harinya,


Mamat memandang bangunan rumah megah di depannya dengan malas, sejak kepergiannya lima tahun yang lalu, bisa dihitung dengan jari berapa kali Mamat pulang.


Enggan, ya dia enggan karena selalu di desak oleh oma dan maminya untuk segera menikah dan memberikan cucu karena dia anak lelaki satu-satunya di keluarga itu.


Dengan langkah sengaja dipelankan, Mamat memasuki rumah megah tersebut dan langsung menuju ke ruang makan.


Ternyata mereka sudah berkumpul, termasuk kedua kakak perempuannya Monika dan Maureen yang tinggal di rumah berbeda sejak mereka menikah.


"Tuan muda." sapa mbok Jum membungkukan badan dengan hormat membuat semua kepala menoleh dan menatap dirinya.


Jelas terlihat mata berbinar oma menyambut kedatangannya.


Mathew memeluk oma dengan erat dan membuat perempuan tua tersebut tersenyum sumringah menyambut kedatangan Mamat.


"Oma sehat?" tanya Mathew sambil menuntun oma kembali ke tempat duduknya.


"Sehat nak."


Setelah oma duduk dengan nyaman, kemudian Mamat menyapa semua orang yang ada di sana dengan pelukan hangat.


"Gue kira lo nggak mau balik kesini lagi," bisik Maureen memeluk adik semata wayangnya dengan sayang.


Lalu setelah semuanya duduk di kursi masing-masing dan makanan disajikan oleh ART mereka yang sesekali diselingi obrolan ringan diantara mereka.


Sampai suara hentakan heels yang berpadu dengan lantai membuat semua orang yang berada disana mengalihkan perhatian mereka ke asal suara.


Mathew shock melihat siapa yang datang ke rumah mereka, mantan tunangan yang kabur ternyata kembali pulang.


"Hallo semua, selamat malam," sapa Vivian dengan nada ramah.


Oma dan mami Vena berdiri menyambut mantan tunangan anaknya, mereka saling berpelukan melepas rindu, sementara papi, Monika dan Mauren saling pandang, terlihat bingung.

__ADS_1


'Cuih... bagaimana bisa perempuan itu kembali kesini sih, dan kenapa oma dan mami bisa langsung luluh seperti itu, atau jangan-jangan ini siasat mereka yang ingin mempertemukan dirinya dan Vivian mantan tunangannya itu'


Mood Mamat langsung ambyar mengetahui Vivian ada di hadapannya, demi apapun Mamat tak ingin berhubungan lagi dengan dia.


Dengan rahang mengetat menahan emosi, Mamat meletakkan sendok dengan kasar, lalu berdiri dan bersiap meninggalkan tempat itu.


"Maaf apa Vivi mengganggu?" tanya Vivian lembut melihat Mamat berdiri hendak pergi dari sana.


"Tentu saja tidak Vi, ayo duduk sini," jawab Mami Vena sambil menuntun Vivian untuk duduk di samping Mamat.


"Mathew, duduk nak!" perintah papinya pelan mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang.


"Males pi, kalian saja yang melanjutkan makan malam, aku nggak jadi laper!" sahut Mamat langsung pergi dari tempat itu.


"Mathew, sayang... " panggil oma yang tak dihiraukan oleh Mathew.


Dengan terseok-seok dibantu Vena menantunya, oma mengejar Mamat sampai ambang pintu keluar.


"Mathew... " panggil oma sekali lagi, membuat Mamat berhenti dan menatap kedua perempuan paling berjasa dalam hidupnya tersebut dengan tatapan nyalang.


"Kenapa sih oma harus ngundang dia? Sudah luluh sama dia? Lupa sama penghinaan yang dia berikan sama keluarga kita? Heran aku semudah itu!" teriak Mamat.


"Kamu dengar alasan dia dulu ninggalin kamu kenapa, jangan langsung benci tanpa alasan seperti itu," tegur Mami Vena sambil mengelus lengan Mamat lembut.


"Apapun alasannya, aku nggak mau dengar Mi, dan kalo Mami sama oma mau nyuruh aku balikan sama dia, maaf aku nggak bisa." Mamat lalu keluar dari sana, dan sumpah demi apapun dia tak ingin menginjakkan kaki di rumah Sutama Praja lagi.


Mauren mendekati Mami dan omanya, lalu mengeluh dengan suara dingin.


"Mathew udah mau pulang ke Jakarta dan mau berdamai dengan masa lalunya, malah mami sama oma mau menghancurkan hatinya lagi, aneh."


Sementara di ruang makan papi tak henti menghela nafas panjang, suka bingung dengan tindakan ibu dan istrinya yang gegabah seperti ini.


Dia tahu betapa terlukanya Mathew saat itu harus menerima kenyataan pahit, pernikahannya harus gagal karena Vivian kabur meninggalkannya.


Entah apa alasan Vivian saat itu, padahal mereka bertunangan selama tiga tahun dan mereka bukanlah pasangan yang dijodohkan oleh orang tua, jadi agak aneh kalo tiba-tiba Vivian pergi seperti itu.


"Om, aku minta maaf ya, jadi merusak momen kebersamaan keluarga om." kata Vivian tak enak hati.


Oma dan mami kembali ke meja makan, dengan senyum manis memberi kekuatan kepada Vivian.


"Sabar ya, Mathew hanya sedang kecewa, dia masih begitu mencintaimu, sampai sekarang bahkan dia belum menemukan penggantimu," ucap mami Vena sambil menepuk pundak Vivian lembut.


Papi Sutama hanya menggusah nafas kasar, di keluarga ini keputusan oma dan mami Vena adalah mutlak adanya, tanpa memikirkan perasaan Mamat sebagai keluarga mereka.

__ADS_1


Terlalu....


__ADS_2