The Mantans

The Mantans
Bab 75 : Andai saja.


__ADS_3

Vita menelisik bangunan dua lantai di depannya, akhirnya setelah pemikiran yang panjang Vita memutuskan untuk membuka cabang lagi, alih-alih melebarkan tempat usaha pertamanya.


Dan hari ini ia akan bertemu pemilik ruko yang rencananya akan ia sewa itu, di dampingi oleh Sena karena Mamat hari ini sedang sibuk menyambut para pejabat yang akan memakai resort nya untuk rakernas.


"Bagus mbak tempatnya, semoga jadi langkah awal usaha mbak Vita semakin sukses ya," ucap Sena sumringah menatap bangunan di depannya.


"Makasih ya Sen udah kasih info tempat strategis seperti ini, mudah-mudahan bisa kita sewa untuk setahun dulu, kalo dia minta dua tahun atau lebih, aku nyerah danaku nggak cukup."


"Kenapa nggak terima bantuan dari pak Mathew aja sih mbak?" tanya Sena penasaran, hari gini jarang ada cewek kayak Vita, digelontorin kemewahan termasuk modal sama pacarnya tidak mau, pantas saja Mamat klepek-klepek, karena yang modelan kayak Vita gini sekarang langka.


"Aku nggak mau dituduh aji mumpung Sen, nggak aneh-aneh aja sudah dipandang sebelah mata ama keluarganya, apalagi aku minta macem-macem," kata Vita sambil menghembuskan nafas kesal.


"Iya juga sih, tapi kalo udah jadi istri beda dong mbak?" goda Sena.


"Jalannya masih terjal dan berliku Sen, aku berharap sih semua keluarga merestui, nggak enak banget kalo mami dan omanya menentang." Entah kenapa Vita malah curhat ke Sena, padahal Sena belum berkeluarga, yang begini tentu dia hanya bisa jadi pendengar yang baik.


"Tapi kalo pak Mathew gimana mbak?" tanya Sena penasaran.


"Gimana apanya?" tanya Vita menoleh ke Sena.


"Ya itu, perasaannya sama mbak Vita," jawab Sena salah tingkah ditatap sedemikian rupa oleh Vita.


"Masih kudu gue jelasin ya Sen? Lo nggak paham perasaannya dia gitu, posesif nggak ketulungan!" Dengus Vita emosi.


"Hahahaha.... tapi beneran lho mbak, aku sebenarnya takjub sama kelakuan pak Mathew sama embak, bayangin cowok sedingin kulkas itu jadi lembek kaya jelly gara-gara embak," ledek Sena.


"Aku juga bingung lho Sen, perasaan dulu tuh pendiem banget, diajak ngobrol jawabnya kayak takut-takut gitu, sekarang huft," desah Vita frustasi.


"Mbak Vita nggak merasa terkekang?" tanya Sena hati-hati.


"Enggak sih, dia posesifnya masih wajar, asal aku jangan berhubungan sama mantan aja!"


"Maaf mas Sena saya terlambat." Vita dan Sena sama-sama menoleh ke asal suara.


Vita mendelik melihat siapa yang sedang berjalan ke arahnya tersebut.


"Lho Vita!" sapa Raka terlihat shock.


"Ini ruko kamu Ka?" tanya Vita speechless, ternyata dunia sesempit daun kelor itu bener adanya.


"Punya Erina," jawab Raka pendek.


Vita manggut-manggut sambil mengikuti Raka yang memasuki ruangan.

__ADS_1


"Mbak Vita udah kenal mas Raka?" tanya Sena heran.


"Iya kenal," jawab Vita.


"Kenal dimana?" tanya Sena lagi.


"Teman kuliah dulu," jawab Vita.


Sementara Raka yang mendengar jawaban Vita hanya mengulum senyum, coba Sena tahu kalau mereka pernah pacaran pasti lebih shock lagi.


Ruangan itu cukup besar dan luas, lokasinya juga strategis, tapi mengetahui bahwa ruko ini milik Erina, jujur membuat Vita langsung mengurungkan niatnya untuk menyewa.


Dia hanya ingin menjaga perasaan pasangan mereka agar tidak negatif thinking dengan mereka.


"Jadi gimana? Berminat?" tanya Raka setelah mempersilakan keduanya untuk duduk di kursi yang berada di pojok ruangan.


"Um.... aku sih sebenernya berminat Ka, disamping lokasi, harga yang ditawarkan sih relatif lebih rendah dari yang lain, tapi... " Vita menggantung ucapannya, tak mungkin ia berkata jujur di depan Sena.


"Kalo mbak Vita udah kenal mas Raka, aku tinggal aja ya, biar enak ngobrolnya," Sena bangkit berdiri memberikan waktu keduanya untuk berbicara, Vita ingin mencegah tapi terlambat Sena sudah pergi meninggalkan mereka.


"Aku sih sebenarnya berminat Ka, cuman.... um..... aku nggak enak sama Erina dan juga....Mathew," ucap Vita memilah kata yang tepat.


"Posesif habis ya pacar kamu itu," ledek Raka terkekeh pelan.


"Hahahaha," gelak Raka karena ucapannya dikembalikan oleh Vita.


"Tahu tuh, cewek kayak aku aja di posesif-in, padahal kalo mau bisa nyari yang lebih lho."


"Mungkin karena kamu cantik, baik dan pengertian kali makanya cemburuannya akut."


"Halah ngomong apa sih kamu Ka!" sahut Vita sambil mendengus.


"Dibilangin nggak percaya!"


"Nggaklah, orang aku merasa biasa aja kok."


"Ya udah kalo nggak percaya!"


"Kita keluar aja yuk Ka, takut jadi fitnah berduaan di tempat kayak gini," ajak Vita langsung bangkit berdiri.


Mereka berjalan berdampingan menuju coffee shop yang tak jauh dari sana.


Mereka duduk berhadapan sambil menikmati kopi yang mereka pesan tadi.

__ADS_1


"Jadi gimana Vit, masih berminat atau nggak buat nyewa ruko itu?" tanya Raka membuka percakapan mereka.


"Maaf Ka, kayaknya aku nggak jadi ambil ruko kamu tadi."


"Itu rukonya Erina Vit, bukan ruko gue."


"Punya Erina kan punya kamu juga, gimana sih!"


"Nggaklah, punya Erina ya punya Erina, kan itu warisan Vit, aku nggak mau dituduh numpang dan menikmati harta keluarganya dia," tolak Raka tegas.


"Eh?" Vita mendongak menatap heran dengan perkataan Raka yang baru saja ia dengar tadi.


"Andai waktu bisa diulang ya Vit," gumam Raka pelan, membuat dada Vita berdetak lebih kencang.


"Maksudnya?" tanya Vita bingung.


"Andai waktu itu, aku nggak gegabah balikan lagi sama Erina setelah dia berselingkuh, mungkin duniaku tak sehambar sekarang," curhat Raka mengeluarkan unek-unek yang selama ini menggerogoti dirinya.


"Anggap aja takdir Ka, kita juga nggak tahu jalan hidup kita seperti apa ke depannya," nasihat bijak Vita yang ditanggapi dengan senyuman tipis oleh Raka.


"Kamu bahagia sama cowok itu Vit?"


"Mathew maksud kamu?"


"Iya Mathew."


"Iya aku bahagia, setidaknya ada orang yang mencintai aku apa adanya."


"Nyindir?" tanya Raka sambil terkekeh.


"Eh.... eng.... nggak lho, aku cuman mendiskripsikan pendapat aku aja kok, mana ada orang yang mau sama janda kayak aku," terang Vita mengusap tengkuknya pelan.


"Aku juga mau," gumam Raka lirih berharap Vita tak mendengar.


"Apa Ka?" tanya Vita shock mendengar ucapan Raka yang diluar ekspektasinya, Raka si mantan terindah, yang membuatnya tak bisa move on selama dua tahun lebih, yang mencampakkannya untuk kembali dengan mantan pacarnya yang anak orang kaya itu, baru saja mengucapkan kata-kata yang membuat Vita terpaku.


"Udah lewat nggak usah dibahas," jawab Raka memalingkan wajahnya yang sudah memerah karena ternyata Vita mendengar ucapannya barusan.


Vita terbahak." Inget bini, inget anak di rumah, jangan aneh-aneh, kan seperti yang kamu bilang waktu itu, kalo kita memulai segala sesuatu, kita juga harus siap menerima segala resikonya."


"Inget banget sih sama yang itu!" Dengus Raka pelan.


"Iya dong, kan karena kalimat mutiara dari kamu itu yang membuat aku menjadi kuat seperti sekarang," sahut Vita.

__ADS_1


"Iya sayang aku terlambat ketemu kamu ya, andai saja.... "


__ADS_2