
Evan kembali datang ke kafe Omah Pasta, walau sebenarnya enggan tapi sebagai pemilik kafe tersebut mau tidak mau Vita menerima kedatangan Evan dengan tangan terbuka.
Selain karena Evan benar-benar ingin dine in di tempat itu, sikap dan tutur kata Evan juga sopan sehingga Vita tak mungkin mengusir mantan pacar monyetnya itu.
Setelah tak ada satupun pelanggan yang mengantri, akhirnya Vita duduk menemani Evan makan, dalam hati berharap agar pelanggan yang lain cepat datang dan membuat dirinya sibuk tanpa perlu membuat alasan lain untuk menghindari Evan.
Sementara dari dalam dapur, Mamat bisa menatap kedua orang tersebut dengan jelas, Vita yang lebih banyak menunduk dan memainkan ponselnya, dan Evan yang menikmati spagetti dengan sesekali mencuri pandang ke arah Vita yang sering menunduk.
"Jadi gimana perkembangan usaha kamu ini Vit?" tanya Evan memecah keheningan yang terjadi.
"So far sih so good Van." Vita mengangkat wajahnya, kemudian kembali menekuri ponsel yang berada pada genggamannya.
"Syukur deh, so glad to hear that." sahut Evan.
"Betewe Van, kamu cerita mengenai aku ke istri kamu ya? Karena jujur sih aku nggak kenal sama Rara tapi kok Rara bisa kenal aku?" Perasaan penasaran yang berkecamuk di dalam dada akhirnya Vita ungkapkan ke Evan juga pada akhirnya.
__ADS_1
"Sorry Vit, aku dulu pernah cerita.... um... mengenai kamu." jawab Evan terlihat kikuk.
Jangan bilang apa yang dipikirkan Vita yang disampaikan Evan kepada Rara, Vita yang mengejar Evan sebegitunya, Vita yang harus menangis histeris ketika Evan memutuskan dirinya.
"Cerita tentang....?" tanya Vita setelah terdiam cukup lama dengan pikirannya.
"Um..... " Evan salah tingkah, bingung mau mengungkapkan apa.
"Jangan bilang kalo kamu cerita ke Rara tentang bagaimana aku dulu ngejar-ngejar kamu dan histeris ketika kamu putusin!" ketus Vita kesal.
"Denger ya Van, jujur aku nggak nyaman dengan semua ini, kamu nggak mikirin perasaan Rara gimana kalo tahu kamu sering kemari, dan aku rasa cerita tentang kita sudah berakhir dulu, kamu nggak ngerasa kalo aku masih punya rasa sama kamu kan, aku yang sekarang bukan aku yang dulu kan, jadi aku harap kamu lebih bijak dalam bertindak." pinta Vita lembut, Vita tahu Evan bukan Bima yang suka semaunya sendiri.
"Sebenarnya aku sudah pisah ranjang sama Rara." ucap Evan membuat Vita melotot.
"What!?"
__ADS_1
"Maaf Vit kalo kamu nggak nyaman sama kehadiranku, tapi jujur ketika melihat kamu sekarang entah kenapa perasaanku tumbuh dengan sendirinya, rasanya aku pengen mengulang cerita kita dulu, dan aku rasa dulu aku tak pernah meminta maaf secara layak sama kamu, maaf atas semua kelakuanku sama kamu dulu." ucap Evan menatap Vita dengan mata sayu.
Beneran deh ini bikin Vita gila, apa yang dia dengar barusan bikin otaknya seketika blank, Evan dan Rara pisah ranjang, terus nanti dirinya yang disebut pelakor sama Rara, aduh bener-bener ribet.
"Kamu sadar nggak sih Van sama yang kamu omongin barusan, cerita kita udah usai dulu dan aku nggak ingin mengulang lagi tentang cerita apapun dengan kamu."
"Plis Vit, kasih aku kesempatan sekali lagi, aku tahu aku salah telah mutusin kamu dulu, dan aku ingin memperbaiki semuanya, aku rasa aku butuh perempuan seperti kamu yang bisa menghormati pasanganmu apapun keadaannya." Evan menyentuh tangan Vita yang berada di atas meja, meremas pelan tangan itu dengan sepenuh hati.
Vita terpekur mendengar perkataan Evan, hatinya mencelos, ingin marah, ingin memaki laki-laki di depannya, tapi tak ada yang keluar dari bibirnya, semua terjadi dengan tiba-tiba.
"Plis Vit, aku tahu kamu sudah berpisah dengan Arya kan? Aku tahu cerita kamu Vit." Evan semakin berani melihat Vita yang tampak termenung dan bimbang.
"Maaf Van, tapi aku nggak bisa menerima perasaan kamu." Vita nampak menarik tangannya dari genggaman Evan.
"Kenapa Vit?" tanya Evan dengan raut muka sedih.
__ADS_1
"Karena aku yang sekarang bukan aku yang dulu." sahut Vita ketus.