
Vita melenggang santai memasuki kafenya ketika jam sudah menunjukan pukul dua siang.
Tadi selepas menemui Evan, karena kesal dengan kelakuan cowok itu Vita memilih keliling alun-alun berburu makanan untuk menghilangkan stress.
Seperti biasa Vita kalap melihat makanan yang berjejer itu, hingga semua makanan itu dia beli dan dia nikmati.
Banyak perempuan yang melampiaskan kemarahan dengan makan, perempuan dan makanan enak itu bagai dua sisi mata uang, alias susah dipisahkan.
Mamat melirik kesal Vita yang tampak acuh padanya, tak ada sapaan dari perempuan itu.
"Darimana?" tanyanya dingin.
"Dari cari angin." jawab Vita cuek.
"Bisa nggak kalo pergi tuh kabarin aku dulu." ketus Mamat.
"Kenapa emang? Ada yang penting?" tanya Vita mengernyitkan kening bingung dengan suara Mamat yang terdengar ketus.
"Biar aku tenang."
"Hei aku udah tua, aku bisa jaga di..... " Belum selesai ucapan Vita, tiba-tiba tubuhnya dipepet Mamat di tembok.
"Aku khawatir! Ngerti nggak sih!" potong Mamat dengan tatapan mata penuh amarah.
"Eh?!" sahut Vita kaget.
"Kamu tuh jadi orang jangan polos-polos, kamu pikir apa yang terjadi sama kamu belakangan hari ini kebetulan saja gitu? Kamu nggak sadar kan kalo ada andil dari para mantan kamu itu." Suara Mamat pelan, sorot matanya melembut, tangannya mengusap puncak kepala Vita.
Vita terdiam dan terpaku, rasanya tak mungkin mereka sampai melakukan hal jahat seperti itu.
"Makanya lain kali kalo Evan, Raka atau siapapun itu yang ingin ketemu sama kamu, tolak aja atau kalo kepengen nemuin ajak aku buat ngedampingin kamu, aku nggak ingin terjadi sesuatu sama kamu."
"Tapi.... masak mereka sejahat itu sih Mat?" tanya Vita tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan Mamat.
"Orang kalo hatinya dipenuhi benci dan dengki apapun juga dilakukan mbak."
"Kok kamu bisa tahu semua ini perbuatan mereka?" tanya Vita kepo sekaligus curiga.
"Rahasia! Pokoknya mulai sekarang hati-hati, kalo mau ketemu atau apapun menyangkut mereka kasih tahu aku dulu, ngerti." pinta Mamat udah kayak orang tua saja lagaknya.
__ADS_1
"Dengerin mbak, jangan ngebantah, tuh cowok kalo panik ternyata serem banget." sahut Retno yang tak tahan melihat keduanya terlihat intim dengan badan nyaris menempel kaya ulat.
Vita tersenyum sambil menaik turunkan alis, menggoda Mamat yang terlihat salah tingkah.
"Jangan sok imut!" Mamat menyentil kening Vita gemas, lalu menjauhkan badannya dan menekuri kembali pekerjaannya.
"Mas Mamat jadi anterin pesanan nggak?" tanya Susi dari balik jendela dapur.
"Jadi." sahut Mamat.
"Pesanan kemana?" tanya Vita bingung, karena setahu dia tak ada pesanan apapun hari ini.
"Mulai hari ini ada temenku yang minta dikirim produk pasta panggang dari sini untuk dijual lagi, nggak papa kan?" tanya Mamat menginformasikan bukan meminta ijin.
"Ya boleh aja sih, aku malah seneng, berarti penjualanku kan semakin bertambah."
"Ya udah aku jalan dulu ya." pamit Mamat meraih totebag yang berisi beberapa pasta panggang yang sudah tertata rapi.
"Siapa sih yang pesen Mat?" tanya Vita penasaran.
"Kepo!" judes Mamat lalu berlalu dari hadapan Vita.
Mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka, hingga hari telah berubah gelap dan Mamat belum menunjukkan batang hidungnya.
Susi pun belum kembali sejak sore tadi ketika gadis itu ijin keluar untuk membeli sesuatu, untung kondisi kafe tidak begitu ramai hingga bisa dihandle berdua.
Belum usai kekhawatiran Vita, dari luar kafe tampak Susi berlari terburu-buru.
"Mbak.... Mbak Vita!" panggil Susi sambil ngos-ngosan.
"Kenapa Sus? Kok kayak orang ngeliat setan gitu sih?" tanya Vita bingung melihat Susi yang terlihat panik.
"Itu mbak.... itu." jawab Susi linglung.
"Tarik nafas Sus, kamu kebiasaan deh, suka bikin orang panik!" omel Vita sambil menyerahkan segelas air putih.
Susi menerima gelas tersebut lalu meneguknya hingga tandas.
"Mas Mamat.... kecelakaan mbak." Akhirnya keluar juga apa yang mau disampaikan Susi kepada Vita.
__ADS_1
"What!" pekik Vita dengan mata melotot.
"Jangan becanda ah Sus!" sambung Vita dengan dada turun naik, khawatir tentu saja.
"Beneran mbak, aku lihat motor mas Mamat rusak terus mas Mamatnya diangkut ambulan." lanjut Susi membuat Vita dan Retno yang ikut bergabung dengan mereka langsung terpekik bingung.
"Mbak Vita berangkat aja mbak, ini biar aku yang urus sama Susi." ucap Retno ketika melihat Vita panik.
"Tutup aja kafenya Ret, Susi temenin aku nyusul Mamat ke rumah sakit." perintah Vita langsung menyambar kunci motor dan tas slempangnya, lalu bergegas menuju motornya dengan Susi yang membuntuti di belakangnya.
"Kamu tahu rumah sakitnya kan Sus?" tanya Vita bersiap menarik gas.
"Em... aku nggak nanya mbak." jawab Susi membuat Vita menghela nafas lelah karena punya karyawan lemot.
"Ya udah deh kita ke TKP aja, siapa tahu ada yang tahu Mamat dibawa kemana."
"Maaf ya mbak." Lirih Susi berkata sambil merutuki dirinya yang suka tidak cepat tanggap dalam menghadapi sesuatu.
"Nggak papa Sus." sahut Vita langsung menancap gas menuju lokasi yang disebut oleh Susi.
Sampai TKP kondisi sudah terlihat sepi, hanya tersisa beberapa orang yang masih setia berbincang membicarakan kejadian yang baru saja terjadi.
Vita mendekat dan dengan sopan bertanya kepada salah satu bapak disana. "Maaf pak, untuk korban kecelakaan tadi dibawa ke rumah sakit mana ya?"
Bapak tersebut menatap Vita sejenak lalu berkata, " Kalo nggak salah ke rumah sakit bakti husada mbak."
Setelah mengucapkan terimakasih, Vita dan Susi melajukan motornya menuju rumah sakit Bakti Husada.
Dengan perasaan khawatir terjadi sesuatu dengan Mamat, tanpa Vita sadari ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
Susi menegang, memegang pakaian di pinggang Vita, tak lupa memejamkan matanya karena ngeri melihat Vita mengendarai motornya.
Gadis manis itu bernafas lega ketika Vita memarkir motornya di tempat parkir rumah sakit tersebut, tanpa peduli dengan Susi yang gemeteran, Vita langsung melesat menuju ke bagian informasi.
"Sore mbak, saya mau tanya korban kecelakaan atas nama Mamat ada di ruang apa ya?" tanya Vita kepada embak berhijab biru muda di depannya.
"Sebentar saya check dulu ya mbak." jawab si embak dengan nada sopan, lalu tangannya bergerak lincah di atas keyboard komputer.
"Em... maaf mbak, belum ada data yang masuk atas nama Mamat, tapi kalo korban kecelakaan yang barusan masuk, baru masuk ruang op......" Belum selesai si embak menginformasikan pasien yang dimaksud, Vita langsung bergegas mencari ruang operasi yang dimaksud.
__ADS_1
Sesampainya di depan ruang operasi yang dimaksud, tubuh Vita langsung melorot lemas, membayangkan kondisi Mamat yang terluka parah, dan tanpa Vita sadari airmata menetes deras di pipinya.