
Pagi masih terlalu pagi dan Vita sudah berada di kamar Mamat duduk menghadap kaca besar dengan seorang make up artis yang sedang merias wajahnya.
Ya hari ini telah tiba, hari yang tidak hanya ditunggu oleh Vita dan Mamat, tapi hampir seluruh keluarga besar mereka, termasuk di dalamnya Vena dan oma, yang akhirnya suka tak suka setuju tak setuju merestui pernikahan anak dan cucu lelaki satu-satunya dalam keluarga mereka.
Polesan kuas menyapu wajah Vita dengan mata yang sengaja terpejam rasanya matanya masih terasa lengket, tak ada yang salah dengan mencuri waktu untuk tidur sebentar sebelum memulai acara panjang hari ini.
Meskipun acara pernikahan Vita dan Mamat hanya digelar sederhana dan tak menggunakan acara yang panjang, hanya akad dan dilanjutkan dengan makan siang, tapi tetap saja Vita dan Mamat ingin membuat kesan manis.
"Udah selesai mbak, ganti baju dulu yuk." Suara MUA yang meriasnya membangunkan Vita dari tidur sesaatnya.
"Ya Tuhan, bisa-bisanya ya adek aku dirias sambil tidur," tegur Gina menggelengkan kepala.
"Ngantuk banget mbak," keluh Vita sambil meringis.
"Melek dulu dek, bentar lagi acara dimulai lho."
Vita mengikuti anjuran kakaknya, dia sekarang benar-benar membuka mata lebar, melihat pantulan wajahnya di kaca yang terlihat.... luar biasa cantiknya, dengan kebaya dan kain jarik yang membungkus tubuh rampingnya.
Laras muncul dari balik pintu. "Ayo dek semua udah siap." Ajak Laras setelah Vita selesai berdandan, ia menggandeng tangan kanan Vita, sedang Gina menggandeng tangan kiri Vita.
"Pelan-pelan aja dek."
"Aku deg-degan mbak."
"Tarik nafas."
Percakapan absurd ketiganya berhenti ketika mereka keluar dari lift yang mengantarkan mereka dari lantai tiga ke lantai satu,
Dengan anggun Vita melangkah menuju ke tempat Mamat berada, Mamat berdiri menatap Vita dengan pandangan terpesona.
Mamat mengulurkan tangan menyambut Vita dan membantu Vita duduk di sampingnya, saling bertatap mesra sejenak lalu kembali menghadap Erwin yang akan menjadi wali nikah Vita saat ini.
Erwin mengulurkan tangan menjabat tangan Mamat, dan dalam sekali tarikan nafas ijab qobul itu terucap.
Tak kuasa Vita membendung airmatanya, saat ini ia kembali menyandang status istri, dan berharap ini adalah pernikahan terakhirnya.
Mamat mengecup kening Vita lembut, setitik airmata menetes dan jatuh ke tangan Vita.
"Terimakasih sayang sudah mau menikah denganku," bisik Mamat lembut.
Setelah urusan penandatanganan akta nikah, pemasangan cincin dan juga sesi foto-foto berakhir, Vita dan Mamat digiring untuk kembali ke kamar Mamat yang berada di lantai tiga untuk berganti kostum, karena acara akan dilanjutkan dengan resepsi.
Kalau tadi yang menghadiri acara sakral mereka adalah keluarga inti, untuk acara selanjutnya yang bisa dibilang resepsi kecil-kecilan tersebut, Mamat dan Vita mengundang kolega mereka, meski hanya kolega terdekat dan juga beberapa keluarga.
Sesampainya di kamar mereka, dengan perasaan yang membuncah, Mamat mendaratkan ciuman yang bertubi-tubi ke seluruh wajah Vita.
__ADS_1
"Nanti make up ku berantakan," gumam Vita sambil mengerucutkan bibir.
MUA yang melihat bagaiamana bucinnya Mamat terhadap Vita hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum samar.
"Maaf Pak, saya mau bantu mbak Vita ganti kostum dan touch up make up nya lagi," ijin seorang MUA membuat Mamat menatapnya horor.
"Idih gitu amat sih Hun liatnya, embaknya takut tuh."
"Maaf ya pak, saya ganggu soalnya bentar lagi kan acara resepsinya dimulai takut nggak keburu," kata MUA nya takut-takut.
"Maafkan suami aku ya mbak Heidi, dia memang orangnya nggak sabaran dan intimidatif," ucap Vita membuat Heidi tersenyum maklum, merasa cewek yang ia rapikan riasannya ini adalah cewek hebat yang sanggup menghadapi Mamat yang terlihat galak meski sedang dalam kondisi diam.
Mamat menundukkan kepala menyembunyikan tawa kesenengannya , mendengar Vita menyebut dirinya suami, entah kenapa di dalam dada sana terasa berdesir.
"Wah mbak Vita, look nya kelihatan berbeda banget sama yang tadi," sorak Heidi girang melihat Vita terlihat berbeda dengan gaun pengantin berwarna putih itu.
"Emang udah dari sononya cantik, mau diapain aja tetap cantik mbak," sambung asisten Heidi dengan tatapan kagum juga.
Mamat mendongakan wajah yang sempat tertunduk memainkan ponselnya tadi, melihat Vita memutar tubuhnya dan menghadap kepadanya, seketika aliran darahnya mampet karena terpukau dengan kecantikan istrinya itu.
Vita terlihat lebih segala-galanya dari perempuan diluar sana bahkan bila dibandingkan dengan Vivian yang cantik itu, jelas Vitalah pemenangnya.
Setelah semuanya selesai, Mamat menggandeng tangan Vita mesra, berjalan dengan pelan keluar dari kamar menuju venue tempat resepsi mereka diselenggarakan.
"Mau ngapain?" sahut Vita bingung.
"Ngurung kamu!"
"Eh?!"
"Habis cantik gini, rasanya nggak rela orang lain melihat kamu secantik ini."
"Padahal ya cowok diluar sana pasti bangga mamerin kecantikan istrinya ke orang lain, kamu mah nggak, aneh!"
"Ngapain bini cantik gue pamer-pamerin, yang ada diembat orang, istri cantik tuh dikeke*in di rumah buat dinikmati sendiri."
Vita hanya merotasi kedua matanya dengan malas, punya suami aneh seperti Mamat, dan perbincangan keduanya yang tak berfaedah itu terus berlanjut sampai langkah keduanya memasuki venue resepsi mereka.
Ruangan yang tak terlalu besar itu disulap dengan begitu cantik, bertaburan bunga mawar putih hampir disetiap sudutnya.
Ada sesuatu yang membuncah dalam diri Vita, bahagia dan terharu karena mendapat sesuatu yang luar biasa seperti ini, rasanya itu seperti.... permata yang di buang di comberan lalu diketemukan oleh pangeran tampan, dipasang di cincinnya lalu dipakainya sepanjang masa.
Vita mengeratkan pelukannya di lengan Mamat." Kenapa?" tanya Mamat lembut.
"Makasih Hun, aku kepengen nangis," jawab Vita sambil menghalau butiran air mata yang akan keluar dari sudut matanya.
__ADS_1
Mamat menepuk-nepuk tangan Vita yang ada di lengannya pelan, lalu mencium pelipis istrinya itu lembut.
Mamat dan Vita langsung menuju pelaminan, menerima ucapan selamat dari para koleganya, lalu tak berapa lama mereka turun berbaur dengan tamu undangan yang lain.
Vita menerima ucapan selamat dari beberapa sepupunya yang sengaja ia undang untuk hadir pada acara pernikahannya.
"Gue ikut bahagia shay," pekik Rara anak budenya memeluk tubuh Vita erat.
"Makasih mbak, aku juga bahagia."
Lalu Vita beralih memeluk sepupunya yang lain dan juga pakde budenya, saat Vita lagi asyik bercengkrama, Mamat melipir naik ke atas panggung bergabung dengan pemusik yang sejak tadi mengalunkan lagu-lagu syahdu untuk tamu undangan.
"Tes tes." Suara Mamat membuat semua yang berada di ruangan tersebut serentak menolehkan kepala menatap ke atas panggung.
"Lagu ini saya persembahkan untuk istriku yang paling cantik, dan paling menarik disana." Suara bariton Mamat terdengar seksi di balik mic.
Lalu musikpun mengalun dan sebuah lagu berjudul Menikah dari Java Jive mengalun merdu dari bibir Mamat.
Apakah kau tak pernah tahu
Betapa indahnya dirimu
Biarkan rambut yang tergerai
Jatuh dalam pelukanku
Kucium hatimu damai
Tatap matamu harapan
Saat kita erat berpelukan
Untuk indahnya berkata
Oh... menikahlah denganku
Oh...bahagialah selamanya
Oh...abadilah cintaku
Oh... biarlah dunia berlalu
Oh...bahagialah kasihku
Oh... bahagialah selamanya
__ADS_1