
"Kalo kamu mau bersandar, bersandarlah dibahuku."
Keduanya tampak canggung setelah pernyataan Mamat tadi, yang bisa dianalogikan sebagai pernyataan cinta Mamat terhadap Vita.
Dalam hati Mamat merutuki mulutnya yang asal bicara tanpa memikirkan akibatnya untuk mereka berdua.
Tentu Vita tak akan langsung membalas perasaan Mamat, mengingat perempuan itu masih terluka dengan perceraian yang bahkan belum genap satu tahun berlalu.
Duh.... kalo bisa memutar ulang waktu, Mamat lebih memilih membela Vita dengan cara lain bukan malah mengaku-aku sebagai pacar Vita.
Lihat Vita yang biasanya banyak bicara dan bercanda, sekarang melakukan aktivitasnya dengan mulut terkunci dan sering menghindari bertatap mata dengan Mamat.
Padahal mereka harus bergegas untuk membagikan ke orang-orang di jalan pesanan yang tadi dibatalkan orang tersebut.
"Mbak....," panggil Mamat pelan.
"Hmm...," jawab Vita berusaha acuh tak acuh, padahal hatinya sedang berdisko mendengar suara lembut Mamat.
"Kita jadi kan mbak, bagiin makanan ini?"
"Eh jadi, jadi Mat." jawab Vita dengan suara tergagap, nervous banget, padahal biasanya dia juga cuek sama Mamat.
"Ayok mbak, keburu sore, itu makanannya udah aku masukin keranjang, apa mbak Vita nggak usah ikut aja, biar aku yang bagiin?" tanya Mamat melihat Vita masih juga lamban belum bergerak dari balik etalase.
"Nggak papa emang kalo aku nggak ikut Mat?" Vita menyakinkan Mamat, hatinya perlu dikondisikan dahulu dan ikut dengan Mamat membuat dirinya pasti lebih salah tingkah lagi.
"Nggak papa mbak, mbak Vita langsung pulang aja dan kunci katanya, besok harus kerja lagi kan, mending sekarang tenaganya dihemat biar besok bisa fresh, ini biar saya yang handle."
Vita termangu, sepanjang mengenal Mamat, baru kali ini Vita mendengar Mamat berbicara panjang dengan intonasi lembut, membuat Vita salah tingkah dan kembali berdebar.
"Oh oke kalo gitu, btw thanks alot ya Mat." ucap Vita tulus.
Mamat keluar dari sana, dan melajukan motornya ke suatu tempat untuk membagikan lasagna yang batal diambil pelanggan.
Mereka sengaja membagikan ke orang yang mau karena memang makanan itu tidak cukup disimpan di kulkas, disamping memang kafe Omah pasta menyajikan makanan fresh untuk pelanggannya, dan yang penting makanan itu bukan makanan sisa dan masih layak dimakan.
Tak membuang waktu Vita menyambar kunci lalu bergegas keluar dari kafenya, tak lupa mengunci pintunya dan melajukan motornya menuju ke rumah.
Dia ingin sembunyi di dalam rumah untuk menenangkan debaran jantungnya yang sedang menggila dan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Mamat keesokan harinya.
***
__ADS_1
Beberapa hari telah berlalu, tak ada yang menyinggung kejadian waktu itu, perlahan Mamat dan Vita pun mulai bersikap seperti biasanya, tak ada rasa canggung dan sebagainya.
Dan tentang insiden pembatalan pesanan sepihak oleh pelanggan, untuk selanjutnya atas usulan Mamat semua pemesanan baru akan diproses apabila pelanggan sudah melunasi pembayaran terlebih dahulu, walau awalnya pelanggan banyak yang komplain tapi setelah diberi penjelasan akhirnya mereka memakluminya.
"Mbak Vita, spaghetti bolognese untuk meja satu sudah siap!" teriak Retno dari balik jendela kecil yang dipakai untuk menyerahkan masakan yang sudah matang dari dapur ke depan.
Vita bergeser mengambil makanan di meja tersebut dan menyerahkan ke meja satu yang sedang diisi bocah-bocah SMP yang menggemaskan.
Celotehan mereka membuat Vita tersenyum geli, dasar ABG labil.
"Mana Ren, kok mas gantengnya nggak ada?" tanya salah seorang dari ketiga gadis remaja itu.
"Biasanya ada kok."
"Tanya embak aja yuk."
"Enggak ah malu lagi."
Lalu ketiganya terdiam dan saling lirik memberi kode ketika melihat Mamat masuk ke dalam kafe.
"Bener kan ganteng?" bisik cewek yang dipanggil Ren oleh temennya tadi.
"Cowok lebih tua itu lebih keren lagi."
Vita mengulum senyum mendengar perdebatan ketiganya yang walaupun diucapkan dengan lirih masih bisa didengar oleh Vita.
Mamat menautkan alisnya melihat Vita tersenyum sembari menundukan wajahnya.
"Kenapa mbak?" tanya Mamat penasaran, sambil memeriksa bajunya, takut ada yang salah semisal resleting celana melorot atau sebangsanya.
"Nggak papa Mat." sahut Vita mencoba meredam ketawanya.
Melihat Vita sedang tertawa seperti itu membuat Mamat terpaku, tiba-tiba dadanya berdebar semakin kencang.
"Cantik." pujinya tanpa sadar.
"Eh!" Vita kaget mendengar pujian tersebut.
Berdua saling tatap dengan ekspresi yang susah dijelaskan, hingga celetukan dari salah satu bocah SMP itu menyadarkan keduanya.
"Yah udah ada yang punya ternyata." suara kecewa jelas terdengar dari si Ren itu.
__ADS_1
"Udah Ren ikhlasin, lo nggak cocok sama masnya itu, jangan jadi pecokor!" ucap salah satu cewek yang paling manis.
"Apa tuh pecokor?" tanya kedua temannya.
"Perebut cowok orang!" jawabnya asal.
"Huh.... singkatannya ngawur alias nggak jelas." sorak yang lain membuat Vita ikutan terbahak.
Setelah ketiga bocil itu keluar dari kafe tersebut, Mamat memutuskan mendekati Vita yang kembali mengerjakan pembukuan kafenya.
"Sering-sering ketawa kayak tadi ya." bisik Mamat lembut.
"Maksudnya?" tanya Vita pura-pura tak mengerti yang dimaksud Mamat, dan tetap menundukan kepala pura-pura mengerjakan pekerjaannya, padahal sebenarnya sedang mengusir grogi.
"Kamu cantik mbak kalo sedang tertawa seperti tadi."
Vita mengerjabkan matanya pelan, pikirannya buntu, otaknya langsung nge-blank menanggapi pernyataan Mamat yang belakangan hari sering cowok itu lontarkan kepadanya.
Alih-alih menjawab gombalan Mamat, Vita justru melontarkan candaan. "Jadi fans kamu tuh ABG labil kayak tadi ya Mat, baru tahu aku."
"Aku juga bingung mbak, apa yang menarik dari aku ya, jauh dari kata ganteng dan juga apa adanya kok ada yang suka."
"Mas Mamat tuh nggak sadar ya kalo pesonanya tuh daebak, temen aku aja kesengsem kok!" celetuk Retno dari dalam dapur.
"Siapa yang kesengsem Ret?" balas Vita ikutan teriak.
"Nih yang lagi ngadon tepung." jawab Retno cuek sehingga Susi menjitak kepala Retno dengan gemas.
"Oh jadi Susi naksir mas Mamat? Kenapa nggak jujur aja Sus, ntar mas Mamatnya diambil orang lho, pesaing kamu banyak." Goda Vita semangat.
"Tapi maaf ya Sus, mas Mamatnya naksir sama yang punya Omah Pasta." kata Mamat cuek, membuat ketiganya langsung terdiam.
"Cie cie mas Mamat ehem ehem ama mbak Vita." sorak Retno terdengar heboh.
"Apaan sih lo Ret!" omel Vita salah tingkah, nih si Mamat kok sekarang beda banget, padahal dulu ketika pertama kali kenal, cowok itu pendiam banget, Vita sampai kehilangan kata.
"Sabar ya Sus, yang muda ngalah ama yang tua." sambar Retno semakin semangat godain ketiganya.
Alih-alih terpesona Vita justru memelototkan mata kepada Mamat kesal dengan candaan Mamat barusan.
__ADS_1