
Acara pernikahan Vita dan Mamat telah selesai digelar, meski sederhana tapi pernikahan mereka tetap berkesan untuk keduanya.
Ketika semua rangkaian acara berakhir sore harinya dan seluruh keluarga dipersilakan untuk menempati kamar masing-masing yang telah disediakan untuk mereka.
Mamat memerintah kepada manager di resort ini, sejak kemarin sampai dua hari kedepan, Mamat memutuskan Panorama resort tidak terbuka untuk umum, hanya diperuntukkan untuk keluarga dan kolega yang berasal dari luar kota.
Vita telah selesai mandi dan berganti dengan baju yang lebih santai, dan tak lama kemudian Mamat pun keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggang dan mengekpos dada bidang Mamat yang belum pernah sekalipun Vita melihatnya.
Vita mengalihkan pandangannya, wajahnya merona melihat penampakan suaminya itu yang ada di depannya.
'Kenapa mesti bertela*jang dada segala sih' ' gerutu Vita kesal.
Mamat mengulum senyum melihat sang istri yang duduk di pinggir ranjang sambil tertunduk malu.
Dengan sengaja Mamat meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh Vita, mengukung Vita dengan tatapan..... haus.
"Kenapa hm?" tanya Mamat menge*up bibir ranum tersebut.
"Pakai baju dulu ih, nggak dingin emang?" balas Vita jengah saat ini dia lebih memilih membuang muka karenna malu melihat penampakan Mamat yang menggoda dan......seksi.
Tak ingin menggoda Vita lebih lagi, Mamat berlalu dari hadapan istrinya dan mendaratkan kecupan di kening sang istri dengan gemas, Mamat menuju walk in closet dan menarik sebuah kaos putih serta celana santai sepanjang lutut.
Saat ini Mamat hanya ingin tidur sambil memeluk Vita dengan erat, kondisi badan mereka yang capek sehabis mengikuti acara pernikahan mereka dari pagi hingga sore hari membuat Mamat tak tega untuk menuntut haknya sekarang.
Mamat naik ke atas tempat tidur dan merebahkan diri di atasnya, menatap Vita geli karena Vita terlihat salah tingkah.
"Sini," panggil Mamat kepada Vita yang masih terbengong dipinggir ranjang, duduk membelakangi dirinya.
Vita menoleh melihat Mamat menepuk-nepuk ranjang kosong disisinya agar Vita mendekat, dengan malu Vita beringsut naik ke atas pembaringan dan masuk ke dalam pelukan Mamat yang terlihat sangat nyaman itu.
__ADS_1
"Istirahat, capek kan dari pagi sampai sore acara terus," bisik Mamat membuat tubuh Vita meremang, barang di dalam sana berdetak semakin kencang.
Vita langsung memejamkan mata dan membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang suami, mendengar suara detaj jantungnya yang upnormal itu membuat pipinya memerah, ia menghidu aroma maskulin yang membuatnya terlena dan langsung terlelap dalam pelukan suami.
"Dasar *****!" Bisik Mamat pelan lalu ia mengecup puncak kepala Vita berulang-ulang dan ikut terlelap dalam tidur.
Entah sudah berapa lama mereka tidur berpelukan, mungkin efek kecapaian atau efek nyaman yang ada di dalam dada sana karena mereka telah resmi menyandang status suami istri.
Vita menggeliatkan badan yang berada dalam dekapan Mamat, senyumnya merekah melihat suaminya tertidur dengan memeluk dirinya dengan posesif.
Gerakan kecil dari Vita itu mengusik Mamat yang sedang tertidur pulas itu."Kok udah bangun? Mau ngapain?" tanya Mamat lembut.
"Haus," jawab Vita pelan lalu melepaskan diri dari pelukan suami dan beranjak bangun untuk mengambil gelas yang berisi air putih di nakas samping tempat tidurnya.
Mamat menelesupkan wajahnya di belakang tubuh Vita, mencium punggung Vita dengan lembut, lalu tangan itu ikut menelusup melingkari tubuh Vita.
Tubuh Vita kaku karena mendapat serangan dadakan itu, semua bulu kuduknya meremang, bahkan bukan hanya tangan saja tetapi bibir Mamat ikutan bergerilya kemana-mana.
Dengan mata terpejam Vita menikmati setiap sentuhan yang diberikan Mamat untuknya, walau jujur Vita merasa rendah diri karena Mamat memiliki dirinya ketika dirinya tidak utuh lagi.
Entah siapa yang memulainya, mereka kini telah berbaring di atas tempat tidur dengan Mamat yang mengukung Vita dibawahnya, deru nafas mereka semakin memburu dan keringat yang mulai bercucuran, bahkan ruangan dingin ber AC tersebut tetap membuat keduanya kepanasan.
Hingga Mamat mulai melu*uti pakaian Vita satu per satu menyisakan dal*man berwarna putih yang membungkus dua aset berharga milik Vita.
Dengan cekatan Vita menutup keduanya dengan tangan, malu melihat tatapan Mamat yang terlihat begitu memujanya.
Dengan gerakan lembut, Mamat menyingkirkan tangan Vita yang menutupi pemandangan indah di matanya.
"You are so beautifull baby," desah Mamat membuat Vita kembali rileks.
__ADS_1
Lalu Mamat melanjutkan aktivitas dengan bibir yang terus melu*at bibir atas dan bawah milik Vita, sambil tangannya tak berhenti menjelajah kemana-mana, membuat Vita mengerang frustasi.
Tanpa Vita sadari dirinya kini sudah dalam kondisi polos tanpa sehelai benangpun melekat pada tubuhnya dan melihat Mamat membuka kaosnya dengan gerakan seksi.
Hingga Mamat kembali mengukung tubuh Vita dan bibirnya menghisap sesuatu yang menggantung di bawah sana.
Vita kembali menggelinjang dan mende*ah tiada henti, rasanya sesuatu yang luar biasa akan meledak di bawah sana.
Vita hanya sanggup mend*sah dan mend*sah ketika mendapat serangan dari suaminya yang terlihat kelaparan itu.
Semua sentuhan Mamat yang hati-hati tetapi ekspresif itu membuat Vita seolah baru mengalami hal ini pertama kali.
Dan ketika kedua kakinya direntangkan dan sesuatu yang padat itu berusaha menerobos ke dalam intinya, Vita mencengkeram lengan suaminya dengan kencang dan tak berapa lama sesuatu yang keras itu akhirnya masuk sepenuhnya ke dalam dirinya.
"Kamu seksi banget kalo kayak gini Yang," Mamat menyangga tubuhnya dan mengungkung Vita lalu mencium kembali bibir Vita yang terlihat membengkak karena ulahnya itu.
Vita menatap Mamat dengan mesra, menyunggingkan senyum manisnya, dan kembali mengerang ketika tubuh di atasnya mulai bergerak mengisinya.
Sungguh ini sesuatu yang sangat luar biasa yang boleh mereka nikmati di malam pertama mereka, sesuatu yang melenakan dan akan menjadi candu bagi keduanya karena status mereka yang sudah halal.
Walaupun bagi keduanya ini bukanlah pengalaman yang pertama, tapi tetap saja euforia nya mengalahkan pengalaman pertama mereka.
Dan ketika erangan keduanya terdengar keluar dari bibir keduanya, percayalah bahwa mereka telah mencapai puncaknya dan mengakhiri kegiatan panas keduanya.
Mamat bergulir turun dari atas tubuh Vita yang masih terlihat ngos-ngosan dengan mata terpejam, menikmati sisa pertempuran mereka yang wow barusan.
"Makasih sayang," bisik Mamat mesra, mengecup kening, mata, hidung, hingga berakhir di bibir tipis Vita.
Lalu Mamat kembali memeluk tubuh Vita dan menarik kembali selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang terlihat polos dan melanjutkan mimpi mereka yang sempat terputus karena kegiatan mereka tadi.
__ADS_1