
Mamat menarik tangan Vita yang melangkahkan kakinya ingin segera keluar dari coffee shop tersebut.
Melihat tunangannya duduk dengan perempuan lain, membuat darah Vita tiba-tiba terasa mendidih.
Mau sebucin apapun seorang pria, mereka tetap saja mahkluk yang lemah dan mudah tergoda hanya dengan dipamerin pa*a mulus.
"Yang.... mau kemana?" Mamat menyambar tangan Vita dengan cepat.
"Mau balik ke hotel takut ngeganggu kamu yang lagi asyik mojok!" sahut Vita dengan emosi yang ia sengaja tahan karena mereka sedang berada di tempat umum.
"Eh...." Mamat bingung mendengar ucapan Vita yang tak beralasan itu, dia sedang bekerja dengan Ina dan Henry dan menunggu kedatangan klien yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.
"Udah ah, aku mau pulang." Vita mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Mamat.
"Udah ayo ikutan aku kerja aja mumpung udah disini." Mamat kembali menarik tangan Vita mendudukam Vita di depan Ina, sedang Mamat yang awalnya duduk bersebelahan dengan Ina, sekarang dia ada di samping Vita.
"Udah pesen belum?" tanya Mamat sambil mengelus kepala Vita.
Sesaat Vita tersadar bahwa tadi dia meletakkan kopi dan croissant nya begitu saja.
"Mbak," panggil Mamat melambaikan tangan ke pelayan yang melintas tak jauh darinya.
"Ya pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya embak pelayan sopan.
"Saya mau pesen orange juice satu, tuna salad satu, sama beef burger nya satu," sebut Mamat kepada pelayan.
"Baik Pak, tunggu ya." Pelayan tersebut berlalu dari hadapan mereka.
"Itu semua siapa yang mau makan?" protes Vita dengan alis meliuk, bingung, karena Vita sedang tidak lapar saat ini.
"Kamulah Yang, pasti lapar kan habis jalan-jalan," jawab Mamat lalu kembali menekuri laptopnya.
Semua yang dilakukan mereka berdua tak luput dari tatapan penasaran Ina, dia merasa frustasi dengan Mamat, sengaja berdandan yang sedikit terbuka agar Mamat tergoda, tetapi tetap saja Mamat tak tergoda bahkan tak meliriknya, Mamat ibarat batu karang yang ada di lautan sana yang tegar meski diterjang ombak yang dasyat.
"Padahal kan aku tadi udah makan banyak," keluh Vita lirih sambil mengelus perutnya yang terlihat sedikit buncit karena kebanyakan makan sate lilit tadi.
"Nanti aku habisin." Lalu Mamat mengelus rambut Vita dan mengecup pelipis Vita singkat.
Mamat tahu Vita kesal melihat dirinya berduaan dengan Ina, padahal sebenarnya ada Henry yang bersama dengan mereka, kebetulan saja Henry baru menjemput klien yang sempat tersesat tadi.
__ADS_1
Sementara Mamat dan Ina kembali melanjutkan pekerjaan mereka, sesekali mereka terlihat berdiskusi.
Tak berapa lama Henry datang dengan seorang klien yang terlihat masih begitu muda, mungkin usianya belum mencapai angka tiga puluh tahun.
Mamat memperkenalkan Vita kepada sang klien, lalu mereka mengadakan meeting dadakan disana, dengan Vita yang terlihat ikut menyimak pembicaraan mereka.
Untuk menghilangkan kebosanan, Vita mengeluarkan ponsel dari tasnya lalu menscrol media sosialnya dan mendapati postingan Wulan beberapa menit lalu.
Vita lalu mengirim direct message ke Wulan, berharap ada balasan, karena jujur Vita kangen banget sama satu-satunya sahabat yang sedang mendampingi suaminya tugas di Abu Dhabi sana.
Tak berapa lama balasan direct message dari Wulan masuk ke media sosial Vita, jadilah akhirnya mereka berbalas pesan dan berbagi cerita setelah beberapa bulan belakangan mereka tak saling bertukar kabar.
Mamat mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Vita untuk melihat aktifitas sang pacar yang terlihat asyik dengan ponselnya dan sesekali tersenyum itu.
"Sama siapa sih keliatan asyik banget?" tanya Mamat pelan.
"Hah? Sama temen," jawab Vita tanpa mengangkat kepala.
"Cowok apa cewek?" tanya Mamat masih penasaran.
Vita mendongak dan menatap Mamat dengan kening berlipat, sejenak menghela nafas panjang, tak mengerti akan sikap Mamat, padahal ini mereka ada di hadapan klien tapi masih sempat-sempatnya cemburu.
Ina yang mendengar percakapan keduanya mendengus kesal, karena ternyata si bos yang sudah ia incar sejak pertama kali ia bekerja itu ternyata bucin akut, sedang klien Mamat hanya tersenyum kecil dan Henry menarik nafas jengah melihat ke-posesif-an Mamat.
Sepanjang hari menemani Mamat, akhirnya Vita bisa bernafas lega karena mereka dapat beristirahat kembali di kamar mereka.
Vita sengaja diam tak menanggapi ocehan Mamat sejak tadi yang sengaja menceritakan kegiatannya sepanjang hari ini.
"Kamu kenapa sih, dari tadi diem aja?" Akhirnya Mamat tak tahan juga melihat Vita mengunci bibirnya rapat.
Vita melirik Mamat dengan sinis, lalu kembali menekuri ponsel di tangannya.
Karena tak ada jawaban apapun yang keluar dari bibir Vita, akhirnya Mamat merebut ponsel Vita dan melemparkannya sembarangan ke atas sofa.
"Kamu kenapa sih?!" Bentak Vita emosi berusaha meraih ponselnya lagi, tetapi di tahan oleh Mamat.
"Kamu yang kenapa?" tanya Mamat ikutan meninggikan suara.
"Kamu egois!" Desis Vita tajam.
__ADS_1
"Aku? Aku egois kamu bilang," sahut Mamat tak terima.
"Bagian mana yang kamu bilang egois itu?" Lanjut Mamat tak terima.
"Kamu nggak ngerasa kalo selama ini kamu egois? Kamu ngatur-ngatur aku, kamu mau menang sendiri!" teriak Vita kesal.
Mamat terdiam menatap Vita dengan nyalang, hari ini dia sedang dipusingkan dengan banyaknya pekerjaan dan sekarang melihat Vita emosi seperti ini, membuat hatinya semakin kacau.
Dengan satu gerakan dia mengungkung Vita yang sedang duduk di sofa, dan menatap Vita dengan datar, Vita yang dilihat dengan tatapan seperti itu jadi menciut nyalinya.
"Jadi kamu keberatan aku atur?" tanya Mamat dengan suara rendah.
"Iya, kalo kamu sendiri nggak bisa ngatur diri kamu sendiri!" jawab Vita ketus.
"Maksud kamu apa?!"
"Masih kurang jelas? Ijinnya nyelesain kerjaan, nggak tahu mojok berduaan dengan perempuan itu, berdempetan pula!" Dengus Vita lalu mendorong pelan tubuh Mamat yang sedang mengungkungnya itu.
Mendengar ucapan Vita barusan, Mamat yang awalnya ikutan tersulut emosi itu tiba-tiba hatinya adem ketika mendengar tuduhan Vita barusan, ternyata Vitanya sedang cemburu.
Mamat menarik pinggang Vita yang berjalan menjauh, hingga Vita terduduk di pangkuan Mamat.
"Cemburu hmm?" tanya Mamat lembut sambil menyerukan hidungnya ke ceruk leher Vita.
"Siapa yang cemburu sih?! Aku cuman nggak suka sama sifat kamu, segala macem diatur tapi giliran dirinya sendiri mojok sama cewek lain," sahut Vita ketus sambil berusaha melepaskan diri dari belitan tangan Mamat yang memeluknya dengan posesif.
"Aku nggak ngerasa seperti yang kamu tuduhkan, aku tadi lagi konsen dengan laporan karyawanku yang dikirim lewat email, kebetulan ada masalah disana, aku beneran nggak ngeh Yang."
Vita mencibir mendengar penjelasan Mamat barusan, laki-laki mana ada yang mau mengaku meski sudah terciduk juga.
"Beneran, lagian tadi kan sebenarnya kami bertiga dengan om Henry, tapi karena om Henry lagi jemput klien jadilah kami terlihat hanya berdua." Mamat mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Alesan!" ketus Vita datar.
"Kalo gitu mulai besok dan seterusnya, kamu harus ikut kemana aku pergi."
"Mana bisa begitu, lagian kita juga belum nikah ya kali aku ikut kemana kamu pergi, bisa digebok sama mas Erwin!"
"Ya udah besok sampai Solo kita langsung nikah aja, siri dulu juga nggak napa."
__ADS_1