The Mantans

The Mantans
Bab 52 : Mantan adik ipar


__ADS_3

Vita menatap layar ponselnya yang sudah kembali menghitam dengan perasaan galau.


Ah.... bagaimana pun dia belum siap bertemu dengan ibunya, entahlah Vita hanya tak tega menorehkan luka di hati perempuan yang telah melahirkannya itu.


Perceraiannya itu benar atau salah alasannya tetaplah seperti kotoran yang dilemparkannya di muka ibunya, dan jelas Vita tak kan tega melihat ibu bersedih.


Mamat memperhatikan Vita yang terlihat termenung setelah menerima pesan di ponselnya.


"Kenapa hmm?" tanya Mamat lembut tak tahan melihat Vita yang terus melamun dan tak menyentuh lagi sarapannya.


"Siapa yang kirim pesan?" tanya Mamat lagi ketika tak ada jawaban yang keluar dari Vita, hanya sorot mata yang terlihat bingung terpancar disana.


"Mas Erwin," jawab Vita lirih.


"Ada apa?" tanya Mamat yang melihat gelagat aneh dari Vita.


"Ibu pengen ketemu, kangen katanya."


"Kamu nggak mau ketemu ibu?" tanya Mamat bingung.


"Bukannya nggak mau ketemu Mat, aku hanya belum siap," desah Vita dengan wajah frustasi.


"Nggak apa-apa sayang, ibu pasti ngerti kok keputusanmu, beliau pasti ngerti keadaanmu, percaya sama aku, nggak mungkin dia marah kalo keputusan yang kamu ambil malah membuat kamu lepas dari beban dan bahagia," kata Mamat lembut.


Vita menatap Mamat mencari dukungan, dan dari dalam manik hitam itu Vita bisa merasakan kelembutan dan kekuatan.


Vita terdiam cukup lama, mau dia mengelak sampai kapanpun, tetap saja dia harus menjelaskan yang terjadi kepada ibunya, satu-satunya orang tua yang ia punya.


"Mau aku anter?" tawar Mamat yang langsung mendapat gelengan kepala dari Vita.


"Aku anter sampai depan rumah." Suara lembut Mamat sekaligus tegas seperti biasa yang tak ingin dibantah.


"Terserah kamu saja deh." Seperti biasa Vita juga tak ingin menolak.


"Oke kasih tahu aku kapan kamu siap."


***


Beberapa hari kemudian, Mamat terlihat standby di depan rumah Vita dengan mobil pengkilap yang sayangnya bikin Vita senewen karena terlalu mencolok.


Vita mendengus melihat Mamat bersandar di badan mobil, dengan busana kasual yang sialnya terlihat seksi di mata Vita.


"Nggak bisa ya pakai mobil yang biasa aja?" tanya Vita sebal.


"Kenapa?" tanya Mamat pura-pura tak paham kalo Vita keberatan diantar olehnya dengan menggunakan mobil yang berharga fantastis ini.

__ADS_1


"Auk ah," sahut Vita langsung masuk ke dalam mobil tanpa basa-basi lagi.


"Beneran nggak mau dianter sampai rumah?" tanya Mamat sambil menjalankan mobilnya.


"Iya sampai depan gang aja," gumam Vita pelan.


Mamat mengelus puncak kepala Vita dengan sayang."Kapanpun kamu siap aku juga siap Yang."


Vita melirik Mamat jengah mendengar Mamat memanggilnya dengan panggilan sayang, sebenarnya senang dipanggil dengan kata itu tapi Vita risih karena dia belum merasa seserius itu dengan Mamat, paling tidak untuk saat ini ketika hatinya belum pulih benar.


Kebisuan menyelimuti keduanya ketika mobil sudah mulai bergerak, Vita jelas saja gugup, sementara Mamat lebih banyak diam, memberikan waktu kepada Vita untuk mempersiapkan diri.


Tak begitu lama mobil berhenti di depan sebuah gang sesuai dengan alamat yang diberikan Vita padanya.


"Sampai sini saja?" tanya Mamat menyakinkan Vita sekali lagi.


"Iya sampai sini aja."


"Sebentar Yang..... " panggil Mamat ketika Vita membuka pintu mobil dan bersiap turun.


"Ada apa Mat?" tanya Vita lalu menutup pintu mobil kembali.


"Sebentar aku ada sesuatu buat ibu." Mamat turun dari mobil dan membuka bagasi lalu mengeluarkan dua buah totebag besar yang lansung ia berikan kepada Vita.


"Ngapain repot-repot sih Mat." protes Vita.


Vita mengangguk pelan dan sebelum berlalu dari sana Mamat mencuri satu ciuman di pelipis kanannya , lalu Mamat melajukan mobilnya meninggalkan Vita.


Vita masih terbengong dengan perlakuan manis Mamat, ternyata seromantis itu Mamat terhadap dirinya, tak terasa mukanya memerah seperti tomat.


"Mbak Vita!" Panggil seseorang ketika Vita akan membalikkan badan.


Vita mematung, betapa dia begitu bodohnya melupakan kenyataan kalo rumah orang tua mantan suaminya berada dikampung sebelah.


'OMG.... bodoh, bodoh, bodoh!' Maki Vita dalam hati.


Vita tahu betapa baiknya keluarga mantan suaminya itu terhadapnya, selama ini dia bertahan dalam pernikahan toxic dengan Arya salah satu alasannya karena keluarga Arya yang selalu mendukungnya.


Vita membalikan badan dan mencoba tersenyum ramah, dalam hati berkata bahwa mereka tak ada sangkut pautnya dengan kelakuan Arya.


"Hai Ra, Rim, apa kabar?" sapa Vita tak ingin bersikap childish dengan memusuhi kedua adik Arya.


"Seneng deh bisa ketemu mbak Vita disini, mbak Vita apa kabar?" tanya Fara adik bungsu Arya sudah bergelayut manja pada pundaknya, terpaksa Vita meletakkan bawaannya dan merangkul Fara dengan perasaan yang entahlah.


"Baik Ra, kalian gimana kabarnya?" balas Vita ramah.

__ADS_1


"Kami juga baik mbak, um mbak Vita mau ke rumah bude?" tanya Fara.


"Iya Ra, mampir kalo ada waktu," ajak Vita sekedar untuk berbasa-basi.


"Um iya nanti mau kesana sekalian mau nganterin undangan."


"Undangan apa?" tanya Vita penasaran.


"Aku Sabtu depan nikah mbak, sekalian mumpung ketemu mbak Vita disini aku sekalian undang mbak Vita, dateng ya mbak."


"Ra..... " tegur Rimbi pelan.


"Mbak Rimbi apaan sih, aku mau undang mbak Vita buat hadir ke acaraku, masalah?" ketus Fara menatap nyalang ke kakaknya.


Fara, adik bungsu Arya ini memang dekat dengan Vita, karena dulu semasa ABG sering dimanjakan oleh Arya dan Vita, apa yang diminta oleh Fara sebisa mungkin dikabulkan oleh Vita.


Rimbipun sebenarnya juga dekat dengan Vita, tapi karena dia lebih dewasa dia lebih bisa berfikir bijak dibandingkan Fara bahwa Vita mungkin tak akan nyaman berada di ruangan yang sama dengan Arya dan istri barunya.


"Mbak Vita bisa datang kan?" rengek Fara membuat Vita bingung mau menjawab yang bagaimana.


"Um!" Vita berfikir keras mencari jawaban yang pas untuk Fara agar tak menyakiti perasaannya.


"Kamu nggak kasihan ama mbak Vita Ra, kan kamu tahu mas Arya sama istrinya ada disana," tegur Rimbi akhirnya to the poin, sekedar untuk menahan agar adiknya tak merengek


Gila apa meminta Vita datang dan bertemu dengan kakaknya yang keterlaluan itu, jelas Rimbi juga tak kan tega.


"Eng.... maaf Ra, bukannya mbak nolak, tapi mbak nggak enak hati," Vita berusaha memberi pengertian kepada Fara.


"Kalo boleh jujur sih aku lebih memilih mbak Vita yang dateng ke nikahan aku daripada perempuan sialan itu!" ketus Fara.


"Astaga dek, nggak boleh ngomong gitu ah," tegur Vita lembut membuat Fara cemberut dan Rimbi menggusah nafasnya pelan, frustasi dengan adiknya yang keras kepala itu.


"Gini deh aku tanya pasanganku dulu ya, kalo dia mau hadir aku akan hadir walau sebentar buat kasih selamat ke kamu," ucap Vita akhirnya karena tidak mau mengecewakan Fara di hari istimewanya.


"Asyik..... makasih mbak Vitaku." sorak Fara kegirangan sambil memeluk Vita erat.


"Ya udah mbak ke rumah ibu dulu ya." pamit Vita.


"Mau dibantuin nggak mbak?" tawar Rimbi.


"Ah nggak usah, makasih ya dek, sampai ketemu lagi." pamit Vita berlalu meninggalkan keduanya.


Vita melangkah, dan seketika bahunya merosot lelah, kalo pertemuan sebelumnya saja sudah membawa dampak yang begitu besar untuk dirinya, jujur Vita belum siap.


Bukan karena masih cinta, tapi seperti luka yang belum kering dan selalu dikorek hingga menimbulkan infeksi yang semakin parah.

__ADS_1


Rasanya Vita ingin menghunuskan pedang dan menusuk pria itu.


__ADS_2