The Mantans

The Mantans
Bab 32 : Please jangan rebut suamiku


__ADS_3

Satu minggu yang tenang, tak ada pesan dan telepon baik dari Evan maupun Bima, sesuatu yang layak Vita syukuri, hatinya jadi tenang untuk bekerja.


Apalagi Mamat beberapa hari yang lalu minta ijin untuk mengurus pekerjaannya yang lain.


Vita terkadang bingung kenapa Mamat tergesa-gesa seperti itu setiap ada telepon dari pakdhe nya yang mengabarkan ada masalah dengan kebun yang digarapnya, seakan Mamat insiyur pertanian saja yang bisa mengatasi masalah pertanaman.


Kalo sedang tak ada Mamat, pasti pekerjaan Vita akan berlipat karena dia harus meng-handle pekerjaan yang ditinggalkan Mamat.


Suara lonceng dipintu terdengar begitu pelanggan memasuki kafenya.


"Selamat siang." sapa Vita ramah.


"Hai Vit...," sapa Erina ketika sudah berada dihadapan Vita.


"Eh hai Rin, mau take away atau mau dine in?" tanya Vita berusaha ramah.


'Semoga saja tak ada drama' batin Vita lelah, belum-belum sudah negatif thinking.


"Dine in Vit sekalian pengen ngobrol sama kamu, boleh?" tanya Erina sopan.

__ADS_1


"Boleh, boleh, mau pesen apa?" angguk Vita mengiyakan.


"Lasagna sama teh panas saja."


"Sebentar ya, silakan duduk dulu Rin."


Erina melangkah menuju kursi yang terletak di sudut ruangan!, sekilas tanpa diketahui Vita, Erina menelisik keseluruhan ruangan yang menurut dia hanya B aja.


Didasari atau tidak, sejak Raka kembali kepadanya, Erina merasa ada yang berubah dari sikap Raka yang sebelumnya ia kenal.


Raka yang awalnya sahabat Erina lalu berubah jadi pacar, lalu berubah jadi mantan dan berubah lagi jadi pacar setelah mereka CLBK, justru terlihat berubah.


Hal-hal seperti itu menyadarkan Erina bahwa ada secuil ruang di hati Raka yang telah terisi oleh nama lain selain dirinya.


Dan sekarang ketika seseorang yang masih dan tetap bertahan dihati Raka suaminya meskipun mereka sudah terpisah sekian lama, kembali hadir dan sayangnya justru semakin cantik dan seksi dalam kesederhanaannya, membuat Erina justru dilanda ketakutan.


Sekian lama menepis pikiran buruk bahwa suaminya akan berpaling kepada mantan terindahnya bahkan ketika si mantan tak ada di sekitarnya, apalagi sekarang ketika si mantan telah berpindah domisili di tempat ini.


"Maaf Rin, nunggu lama." suara Vita membuyarkan segala lamunannya.

__ADS_1


"It's oke Vit." sahut Erina sambil menerima sepiring lasagna yang menggugah seleranya.


Vita mengambil duduk dihadapan Erina, menghalangi pemandangan perempuan itu dari lalu lalang kendaraan yang melintas di depan kafe ini.


"Kamu mau ngomong apa sama aku Rin? Maaf aku nggak bisa lama-lama karena sebentar lagi mesti ngirim pesanan ke beberapa tempat." ucap Vita ketika dilihatnya tak ada pergerakan apapun dari Erina.


"Kamu masih cinta Raka nggak?" tanya Erina mencoba tenang.


"Hah?! Maksud kamu apa ya?" tanya Vita langsung linglung.


"Raka masih cinta sama kamu." suara Erina terdengar tegar tapi sedikit bergetar, mungkin menahan gejolak rasa yang meremas hatinya sedemikian rupa.


"Maaf Rin, aku nggak ngerti maksud kamu, kami bahkan bukan sepasang kekasih yang sebegitunya waktu itu, kamu salah paham." ketus Vita tak suka, seolah-olah hubungan masa lalunya dengan Raka dijadikan kambing hitam untuk sepasang suami-istri tersebut.


"Aku nyesel kenapa aku memaksa dia kembali padaku, kalo kenyataannya kamu sudah memenuhi seluruh hatinya." kata Erina dengan bibir bergetar menahan tangis.


"Aku pikir hubungan aku dengan Raka sudah selesai berpuluh tahun yang lalu Rin, dan aku nggak tahu apa yang kamu omongin, please jangan mengada-ada." Pinta Vita memelas mulai lelah dengan keberadaan mantannya yang meresahkan harinya.


"Please Vit, tolong jangan ganggu suamiku."

__ADS_1


__ADS_2