
Vita menunggu Mamat mengeluarkan mobil dari halaman rumah ibunya, mobil mewah dengan ukuran besar itu keluar dengan pelan karena kondisi gang rumah ibunya yang sempit.
"Mau kemana Vit?" sapa bulek Ning ketika berjalan melewati Vita, ditangan perempuan ceking itu ada plastik berisi gula pasir dan minyak goreng.
"Mau keluar dulu bulek." Senyum Vita mengembang berusaha ramah biar tidak dicap sombong karena punya calon suami tajir.
Bukannya segera masuk ke dalam rumahnya, justru bulek Ning berhenti di samping Vita dan berniat mewawancarai Vita untuk bahan gosip dengan tetangga-tetangganya nanti sore.
"Hebat lho kamu Vit, cerai belum setahun udah dapet calon suami kayak mas Metiu," goda bulek Ning sambil tersenyum manis.
"Namanya juga jodoh bulek, nggak ada yang tahu."
"Bagi-bagi resepnya dong Vit, siapa tahu Nayu bisa ketularan kamu dapet suami orang kaya." Bulek Ning mencolek bahu Vita sambil menaik turunkan alisnya.
"Resep apa bulek?" tanya Vita menautkan alisnya.
"Eleh pakai nanya segala, atau kasih tahu orang pinternya aja deh, bulek janji nggak bakalin bocorin ke siapa-siapa."
Otak Vita loading mendengar cerocosan tetangga itu, dan ketika paham maksud dari kalimat per kalimat yang diucapkan bulek Ning, serta merta Vita mendengus kesal.
"Resepnya cuman satu bulek, perbanyak ibadah dan kurangi julidnya sama tetangga, saya permisi." pamit Vita tak lupa membanting pintu mobil Mamat dengan kencang, sekedar melampiaskan emosinya.
Ya kali Vita dateng ke orang pinter a.k.a dukun untuk menggaet Mamat, bener-bener bikin emosi Vita meluap saja nih mendengar ucapan tetangganya yang sering kepo tersebut.
"Kenapa hmm?" tanya Mamat ketika melihat Vita memasuki mobil dengan membanting pintu.
"Sebel! Masak aku dikira melet kamu!"
"Perasaan kamu mingkem terus kalo sama aku, nggak pernah kayak gini." Mamat menjulurkan lidahnya, mempraktekkan melet yang lain.
"Idih orang lagi serius juga," kesal Vita sambil mencubit lengan Mamat gemas.
"Aduh yang, sakit, aku lagi nyetir di dalam gang gini malah dianiaya." Mamat kembali fokus ke depan, sambil tangan kanannya mengusap lengan kiri yang perih akibat cubitan Vita barusan.
"Lagian orang lagi serius malah diajakin becanda," gerutu Vita sambil membuang pandangannya keluar kaca.
__ADS_1
Hatinya benar-benar terluka mendapat perlakuan seperti ini dari tetangganya, padahal selama ini Vita tak pernah sekalipun mengusik kehidupan mereka.
"Ngapain kamu mikirin omongan tetangga kamu itu, mau gosipin kamu pakai pelet kek, pakai dukun kek, cuekin aja, kamu nggak pakai pelet aja aku secinta ini sama kamu, gimana kalo kamu beneran pakai pelet." Mamat mengusap rambut Vita dengan lembut.
"Ish.... " Desis Vita pelan.
Mobil terus melaju lalu berhenti di sebuah mall, tempat dimana toko perhiasan langganan Mamat berada.
Dengan malas Vita keluar dari mobil, menyambut tangan Mamat yang terulur padanya.
Punya tunangan tajir melintir seperti Mamat ini membuat Vita terkadang harus memahami bahwa cara laki-laki itu mencintainya ya dengan memberinya materi yang berlimpah.
Meskipun Vita sendiri adalah sosok yang begitu sederhana dan bersahaja, yang tak akan menghamburkan uang untuk hal yang tak penting seperti membeli cincin yang berbeda untuk lamaran, pertunangan dan pernikahan.
"Hei bro," sapa Erick pemilik toko perhiasan itu menjabat tangan Mamat lalu Vita.
"Udah jadi kan Rik?" tanya Mamat, menarik kursi depan etalase agar Vita bisa duduk nyaman.
"Udah, udah, tenang aja, buat lo pasti gue usahain." Erick mengambil kotak beludru di dalam etalase dan menyerahkannya kepada Mamat.
Ketika Mamat sedang meneliti grafir cincin nikahnya, dengan cuek Erick kembali melontarkan candaan kepada Vita.
"Kalo gue jadi elo Vit, gue bakal porotin laki kayak dia. Dia tuh kalo bucin nyawa aja dikasih kalo lo minta."
"Mati dong," sahut Vita cuek
"Dia mah nggak ngefek lo bujukin kayak gituan, uang bulanan yang gue kasih aja masih anteng tuh di rekeningnya dia." sahut Mamat enteng.
"Beneran lo Vit?! Ajaib sih kalo ada cewek kayak lo gini, nemu dimana sih bro?" puji Erick membuat mata Mamat melotot.
"Maksud lo apaan?" tanya Mamat sewot.
"Aelah slow bro, ngegas mulu bawaannya," ledek Erick sambil terkekeh.
"Yuk Yang cabut, emosi nih gue lama-lama disini." Mamat menggenggam tangan Vita lalu berlalu dari depan Erick tanpa berpamitan terlebih dulu dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
Melihat kelakuan Mamat, Erick bukannya tersinggung tapi malah meledakkan tawanya dengan keras.
"Semoga bahagia selalu bro sama yang ini, gue liat dia cewek baik kok," bisik Erick melihat punggung tegap itu yang melangkah semakin menjauh.
Dari toko perhiasan, Mamat kembali melajukan mobilnya menuju butiknya Harum, karena kebetulan lokasinya tak jauh dari mall tadi, dalam hitungan menit mereka sudah sampai ke butik tujuan.
Masih dengan bergandengan tangan, Vita dan Mamat memasuki butik tersebut, Harum yang melihat keduanya langsung tersenyum sumringah, kebahagiaan menular ke hati perempuan lima puluh tahun itu melihat aura bahagia dari calon pengantin.
"Yang fitting mau siapa dulu nih?" tanya Harum.
"Barengan aja deh tante, biar nggak ngebuang waktu," usul Vita yang langsung disetujui oleh Mamat dan Harum.
"Oke Vita sama saya ya, kamu bisa sendiri kan Mat?" tanya Harum.
"Oke tan." Mamat menerima sarung jas-nya dari karyawan tante Harum, dan berlalu ke fitting room.
Sementara Vita masuk ke dalam ruangan ganti disebelahnya bersama dengan tante Harum.
Tanpa kesulitan Mamat mencoba dua jas yang sedianya diperuntukkan untuk akad berwarna putih dan warna hitam untuk resepsi, jas tersebut melekat sempurna pada tubuh Mamat yang tegap sempurna.
Sambil menunggu Vita yang belum juga keluar dari ruangan ganti tersebut, Mamat menggulir ponselnya sekedar untuk berbalas pesan dengan Henry.
Tak lama Vita keluar dengan menggunakan kebaya putih panjang sampai mata kaki yang membuat perempuan itu berkali-kali lipat lebih cantik dan mempesona.
Mamat terpaku menatap Vita, bahkan matanya sulit untuk berkedip saking terpesona pada penampilan perempuan cantik itu.
"Gimana Vit? Ada yang kurang enak?" tanya tante Harum sambil meneliti setiap detail kebaya yang sedang digunakan oleh Vita.
"Udah pas sih tan," jawab Vita sambil tersenyum sumringah menatap pantulan dirinya di cermin.
"Coba kamu putar puter dulu, sambil tante ambil gaun kamu yang buat resepsi." Harum berlalu dari hadapan calon pengantin di depannya ini, sambil memberi waktu keduanya untuk meresapi penampilan mereka.
Mamat berjalan mendekat, memeluk Vita dari belakang sambil menatap pantulan dirinya dan Vita di depan cermin di hadapannya.
"Makasih ya sayang, telah menghapus semua traumaku dan menyembuhkan semua lukaku. I love you," bisik Mamat mesra sambil mengecup pipi Vita.
__ADS_1