The Mantans

The Mantans
Bab 45 : Tak segampang itu


__ADS_3

Who are you exactly?


Kalimat itu memenuhi benak Vita, dia bukan orang bodoh, melihat tatapan hormat karyawan disini, Vita bisa menyimpulkan bahwa Mamat bukan karyawan biasa.


"Nggak mau masuk?" tegur Mamat lembut lalu menghampiri Vita yang masih terpaku di tempat.


Dengan lembut Mamat menarik tangan Vita dan mengajaknya menuju ke lift yang berada di ujung ruangan.


Mamat menekan tombol menuju lantai yang menjadi tujuannya, lalu kembali berdiri bersisian dengan Vita di dalam kotak besi yang membawa mereka naik ke atas.


"Kenapa?" tanya Mamat lembut, Vita menggeleng, kepalanya terasa berat, Vita tak sanggup membayangkan sosok Mamat yang sebenarnya.


Denting lift menandakan mereka telah sampai ke lantai tujuan, Mamat menggandeng tangan Vita lembut menuju suatu ruangan yang Vita sinyalir adalah ruang kerja seseorang.


"Jangan tegang, nggak ada sosok mertua kejam kok di dalam." goda Mamat lalu mendorong lembut tubuh Vita ke dalam ketika pintu di depannya terkuak.


Ruangan yang Vita kira itu adalah ruang kerja, nyatanya ruangan tersebut merupakan tempat tinggal yang didisain seperti apartemen pada umumnya.


Dengan langkah gontai Vita memasuki ruangan tersebut, kakinya lemas terasa tak bertulang, bahkan pasokan oksigen tersangkut di paru-paru tak bisa sampai ke otak membuat dirinya blank.


Dengan patuh Vita menurut ketika Mamat mendudukkan dirinya di sebuah sofa three seater, lalu pria itu jongkok di hadapannya.


"Kenapa hm?" tanya Mamat lembut menatap manik mata Vita yang beriris coklat itu.


"Ini apa Mat?" tanya Vita dengan suara tercekat, serasa ada sebongkah batu yang mengganjal disana.


"Ini yang mau aku sampaikan sama kamu." Mamat mengecup punggung tangan Vita lalu duduk bersebelahan dengan Vita.


"Aku bingung, kenapa semua tiba-tiba kayak gini."


"Apanya yang tiba-tiba?" tanya Mamat sabar.


"Ini apa?" Vita mengedarkan pandangannya menelisik seluruh ruangan yang terlihat mewah dan elegan.


Mamat menghela nafas panjang, sengaja memenuhi paru-paru nya dengan pasokan oksigen sebelum memulai ceritanya.

__ADS_1


"Namaku Mathew Alexandrio Praja aku rasa kamu tahu karena waktu itu sempat jadi saksi jual beli rumah kamu kan." Vita terdiam menyimak cerita Mamat


"Aku anak ketiga dari pengusaha Sutama Praja, lima tahun yang lalu aku datang ke kota ini untuk mengasingkan diri atau kamu bisa sebut aku melarikan diri, aku ditinggal pergi tunanganku sehari sebelum hari pernikahan kami, bisa dibilang kisah kita mirip Vit." Mamat menjeda ucapannya, melihat reaksi Vita.


"Lalu kenapa kamu menyamar jadi tukang ojek kalo kamu ternyata seorang pengusaha?" tanya Vita penasaran.


"Awalnya iseng, karena aku justru melihat ketulusan dari orang-orang biasa, mereka sangat tulus," jawab Mamat tersenyum.


"Dan takdir akhirnya mempertemukan kita, melihat kamu yang begitu cantik dalam kesederhanaanmu dan kebaikan hatimu, entah kenapa hatiku yang lama mati rasanya kembali hidup. Aku ingin selalu di dekatmu, melindungi kamu, menyayangi kamu, kamu telah membuatku jatuh cinta.


"Maaf kalo aku tak berkata jujur dari awal, karena aku takut kamu memandangku berbeda."


"Lalu kenapa sekarang kamu berani jujur membuka jati dirimu sesungguhnya?" tanya Vita dengan perasaan bercampur aduk, paham dong kalo Vita tuh punya trauma tersendiri dengan yang namanya perbedaan kasta atau status sosial seseorang.


"Karena aku ingin serius dengan kamu," jawab Mamat mantap.


"Aku janda Mat, kamu paham nggak sih pendapat masyarakat kita tentang janda?!" tanya Vita dengan suara ketus.


"What wrong dengan janda? Aku tak peduli dengan statusmu itu!" sahut Mamat.


"Aku tak peduli dengan pendapat atau tanggapan mereka, yang aku mau cuma kamu, titik!" ucap Mamat dengan keras kepala.


"Aku nggak tahu Mat, tolong beri aku waktu buat mikirin ini." Vita menggeleng-gelengkan kepala, pusing dengan informasi yang ia dapat.


Oke kalo Mamat beneran cinta sama dia, belum tentu keluarganya menyetujui dan menerimanya seperti Mamat menerima dirinya terlalu banyak halangan nantinya dan Vita tak mau itu, melelahkan pasti.


Omong kosong kalo ada yang bilang semua manusia derajatnya sama, nyatanya perbedaan status itu masih banyak mempengaruhi pandangan orang kok.


"Aku sayang sama kamu Vit." Mamat mengusap rambut Vita pelan.


"Aku nggak tahu Mat, aku belum bisa memberi keputusan, maaf aku lebih baik pulang." Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Vita, ia belum bisa berfikir dengan benar, saat ini dia butuh sendiri.


Mamat menggenggam tangannya lembut. "Lihat aku."


Tanpa diperintah dua kali langsung Vita langsung menatap Mamat dengan intens.

__ADS_1


"Buang jauh-jauh pikiran negatifmu itu sayang." Mamat menyentil kening Vita sambil tersenyum.


"Kamu tahu kan Mat ketakutanku selama ini? Bahkan walaupun aku sudah berdamai dengan masalaluku, aku masih ingat bagaimana mereka dulu meninggalkan aku hanya karena aku anak pegawai rendahan, dan mengetahui tentang kamu membuat aku kembali trauma, kasta kita jelas berbeda." Vita menarik nafas dalam.


"Sebelum kita melangkah lebih lanjut, lebih baik kita berhenti disini. Aku pulang," pamit Vita langsung bangkit berdiri.


Mamat terpaku, dia tersentak ketika mendengar pintu ruangan tertutup pelan, bergegas dia berlari mengejar Vita.


"Aku antar." Mamat meraih pergelangan tangan Vita, menggenggamnya menuju mobil, supir sudah siap sedia di belakang kemudi.


"Aku bisa pulang sendiri Mamat, plis biarin aku sendiri," pinta Vita dengan suara lemah.


"Nggak, aku akan mengantarmu." Mamat bersikeras, membukakan pintu penumpang dan mendorong lembut tubuh Vita untuk duduk, dia sendiri memutari mobil lalu masuk duduk di samping Vita.


Mobil berjalan pelan meninggalkan resort, sejak memasuki mobil Vita sudah membuang muka menatap keluar jendela.


Mamat menahan diri, karena selain mereka ada supir bersama mereka, tak mungkin kan Mamat berbicara hal yang sifatnya pribadi, apalagi Vita masih terlihat shock dengan fakta yang ada.


Tak sampai tiga puluh menit, mobil putih keluaran eropa dengan harga selangit itu berhenti di depan rumah Vita, tanpa mengucapkan sepatah kata Vita langsung keluar dan masuk ke dalam rumahnya.


Agaknya hal yang sepele menurut Mamat ini ternyata dianggap besar oleh Vita, Mamat mendesah frustasi.


Dijaman sekarang ketika banyak perempuan matre bertebaran hampir disemua segi, ada disini satu perempuan tak tertarik sama pria dari keluarga kaya, aneh!


Mamat masih setia di depan rumah Vita, padahal pintu rumah itu langsung tertutup rapat ketika si empunya memasukinya.


Padahal niat awal Mamat untuk jujur itu karena dia ingin menjalin hubungan serius dengan Vita, Mamat beneran telah jatuh hati sama Vita.


Sempat menghilang beberapa waktu saat itu, ingin menjauh, tapi pesona Vita ternyata berhasil memerangkapnya, tahu ini bakalan terjadi, lebih baik Mamat menyembunyikan identitas aslinya saja.


"Jalan pak!" titah Mamat kepada supirnya setelah beberapa saat berdiam disana dan Vita tak tampak ingin keluar menemuinya lagi.


Tanpa menunggu perintah dua kali pak supir melajukan mobil pergi dari sana.


Sementara dari balik jendela, Vita mengintip kepergian Mamat dengan perasaan terluka.

__ADS_1


"Kenapa sih mesti bohong segala, padahal aku udah terlanjur suka sama kamu, kalo nanti keluarga kamu tidak bisa menerimaku bagaimana? Aku capek harus pergi menjauh lagi," ucap Vita sambil melorotkan tubuhnya terduduk di lantai.


__ADS_2