The Mantans

The Mantans
Bab 29 : Hidup sudah rumit, jangan dibuat semakin rumit


__ADS_3

Vita sampai ke Omah Pasta sedikit terlambat, Retno, Susi dan Mamat sudah berkutat dengan pekerjaan masing-masing.


"Hai semua." sapa Vita melongokan kepala ke dapur, senyum ramah menghias bibir perempuan cantik itu.


"Mbak Vitaaaaa!" teriak Retno heboh.


"Dih lebay!" sahu Vita kesal mendengar lengkingan suara Retno yang cempreng.


Lalu mengalirlah perbincangan heboh antara keempat eh ralat tiga orang yang heboh berbincang karena Mamat lebih asyik mengerjakan pembukuan untuk penjualan kemarin.


"Mbak Vita mau sarapan nggak?" tawar Susi sambil menghaluskan kentang kukus di sebuah wadah, rencananya hari ini mereka akan mengeluarkan menu baru dari bahan baku kentang.


"Kamu bikin sarapan apa Sus?" tanya Vita sambil tangannya tetap asyik menuang macaroni schotel kedalam aluminium foil yang kemudian akan dia panggang.


"Bikin roti bakar mbak, kalo mbak Vita mau aku panasin sebentar." jawab Susi.


"Ya udah taruk di meja depan Sus, habis masukin ke oven ini aku mau ngobrol sama Mamat di depan." ucap Vita sambil memasukan satu persatu loyang ke dalam oven untuk memanggang schotel macaroni.

__ADS_1


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Vita melangkah menuju meja yang ada di sudut kafe dengan jalan raya di depan sebagai latarnya.


"Sini Mat." Vita memutar badannya dan melambaikan tangan memanggil Mamat yang lagi serius dengan pekerjaannya.


Dengan santai Mamat berjalan ke arah Vita, dan mengambil duduk di depan Vita terhalang meja.


"Gimana pendepatan kemarin Mat?" tanya Vita sembari menikmati roti bakar untuk sarapan.


"Seperti biasa mbak, kemarin hampir semua menu sold out."


"Mbak Vita nggak ingin buka cabang ya?" tanya Mamat hati-hati.


"Pengen sih Mat, tapi nunggu ini settle dulu deh baru mikir buka cabang." jawab Vita.


"Kalo menurut kacamata saya sih disini sudah settle mbak, sayang aja kalo kita hanya bisa nyediain segini-gini padahal peminatnya semakin membludak, kita sering kewalahan." Mamat mencoba menyampaikan pandangannya, mengingat sebenarnya dia juga seorang pengusaha yang sedang menyamar, menyembunyikan jati dirinya.


"Tapi aku belum berani ngeluarin modal lebih gede Mat, aku kepengennya tuh step by step, pelan-pelan aja, nggak mau ngoyo." Vita berucap sambil menggelengkan kepala tak setuju dengan usulan Mamat tersebut.

__ADS_1


"Em..... gimana kalo kita kerjasama mbak? Kebetulan aku punya saudara yang rukonya nganggur nggak jauh dari sini, nanti coba aku tanyain boleh nggak kita bayar sewanya nyicil, nanti biar gajiku aja yang dipakai buat bayar sewanya, mbak Vita yang siapin menunya." Usul Mamat membuat Vita melotot kaget sekaligus tak setuju.


"Nggak ah Mat, nanti kamu makan apa kalo gaji kamu buat bayar sewanya?" tolak Vita cepat.


"Kan saya dapet makan mbak, lagian kalo kirim-kirim pesanan mbak Vita selalu kasih uang bensin yang seringnya kebanyakan juga, bisa pakai itu buat memenuhi kebutuhan saya." Mamat dengan suara tegas berusaha menyakinkan Vita.


Padahal ya sebenarnya Mamat pasti mampu menyewakan atau bahkan membelikan Vita sebuah ruko agar perempuan yang sudah menarik hatinya itu tidak kesusahan, tapi Mamat tidak mau membongkar penyamaran saat ini juga.


Jujur Mamat mulai tertarik dengan sosok Vita yang cantik tapi juga berkepribadian baik, tapi bayang-bayang kegagalan masa lalunya masih sulit Mamat tepis dari pikirannya.


"Tapi tetap aja Mat aku nggak mau mengambil hakmu padahal sebenarnya aku masih mampu menyediakan dana untuk membuka cabang baru." Tolak Vita halus setelah terdiam cukup lama.


"Nggak sayang mbak? Mumpung ada kesempatan lho." Bujuk Mamat berusaha mempengaruhi Vita.


"Udahlah Mat pelan-pelan saja, hidup sudah sulit jangan dibuat semakin rumit, kalo kita belum mampu jangan dipaksa." Tegas Vita akhirnya.


Mamat melongo, kiasan ini lebih tepat buat dirinya alih-alih buat Omah pasta.

__ADS_1


__ADS_2