The Mantans

The Mantans
Ulet bulu yang meresahkan


__ADS_3

Slep....


Sebuah tangan melingkar memeluk perutnya, reflek Vita mengangkat panci yang ada di depannya untuk menghantam kepala seseorang yang dengan lancang memeluknya di pagi buta begini.


Panci itu melayang di udara tak jadi dipukulkan ketika Vita mencium aroma maskulin yang begitu familiar menyeruak di hidungnya.


Reflek Vita menoleh, dan cup, sebuah ciuman manis mendarat di pipinya.


"Lho kok udah sampai sini aja?" tanya Vita kaget melihat Mamat sedang memeluknya dengan posesif.


"Jam segini udah berkutat di dapur mau ngapain?" Hembusan nafas Mamat menyapu kulit lehernya, membuat bulu-bulu halus di tangannya berdiri meremang.


"Lagi nyoba menu baru," jawab Vita kembali dengan aktivitasnya tanpa peduli Mamat yang menempel padanya kaya ulet .


"Minggir dulu ih," Vita mengedikan bahu coba menepis dagu Mamat yang ditopangkan di pundaknya.


Tanpa menghiraukan kata keberatan dari Vita, Mamat tetap cuek memeluk Vita dari belakang walaupun Vita bergerak kesana kemari dan tak peduli bau bawang menguar dari tubuh gadisnya tersebut yang bahkan belum mandi.


"Kamu pagi-pagi udah nyampai sini emang dari Jakarta jam berapa?" tanya Vita akhirnya pasrah menerima perlakuan Mamat yang belakangan hari kaya ABG yang sedang jatuh cinta itu.


"Semalem langsung meluncur, eh lewat sini liat motor kamu di depan, akhirnya mampir," jawab Mamat sambil terus mendusel ke ceruk leher Vita


"Gimana kondisi oma?" tanya Vita dijawab dengusan sebal Mamat.


"Kenapa hmm?" tanya Vita sambil menolehkan kepala ke kiri, membuat hidungnya menabrak pipi Mamat.


"Jangan menggoda ya, aku lagi horni liat kamu pakai celemek kayak gini, seksi," desah Mamat menggoda.


"Apaan sih?!" ketus Vita menggeliat melepaskan diri dari pelukan Mamat.


Vita mendorong badan Mamat lembut lalu mendudukan cowok itu di salah satu kursi yang ada di situ."Udah deh duduk dulu di situ, aku selesaiin ini dulu ya, ntar kita lanjut ngobrolnya."


Segelas kopi Vita letakan di meja dihadapan Mamat, lalu dirinya kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Dari tempat duduknya Mamat melihat aktivitas Vita dengan tak bosan, sesekali bibirnya mengulas senyum melihat penampilan Vita dengan rambut berantakannya yang dicepol asal itu.


Semakin kagum melihat perempuan itu yang terlihat cantik dalam kesederhanaannya itu.

__ADS_1


Walaupun status janda melekat pada sosok kekasihnya tapi Mamat merasakan kecocokan dan sreg dengan semua yang ada pada Vita, mandiri iya, cantik iya, baik iya, membuat Mamat tak bisa berpaling.


Vita menyelesaikan pekerjaannya sesegera mungkin jengah ditatap sedemikian rupa oleh Mamat.


Vita mengambil duduk di sebelah Mamat, tubuh cowok itu merosot menyesuaikan tinggi Vita lalu dengan santai meletakan kepala di pundak Vita.


"Kenapa hm? Kayak keliatan lagi banyak pikiran gitu?" tanya Vita lembut mengusap tangan Mamat yang berada di pangkuannya, mempermainkan jemari lentiknya.


"Nikah yuk Yang," ajak Mamat membuat Vita menoleh kaget.


"Ngajakin nikah kayak ngajakin mau makan seblak aja sih Mat," sungut Vita mendengar perkataan Mamat barusan, alih-alih tersanjung, Vita menganggap ajakan nikah Mamat tadi hanya gurauan sesaat karena diucapkan di dapur tanpa ada kesan romantis sama sekali.


"Diajakin nikah beneran juga!" omel Mamat lirih.


"Ya habisnya kamu lucu, ngelamar cewek tuh harusnya tuh sambil dinner bawa bunga, bawa cincin berlian yang gede gitu, kamu ngelamar aku di dapur dengan aroma bawang di mana-mana pula," celetuk Vita gemas.


Mamat merotasi matanya malas." Lihat aja aku bawain cincin sama bunga beneran baru tahu rasa kamu!"


"Emang udah yakin sama aku, nggak malu nikah sama aku yang janda?" tanya Vita dengan suara lembut.


Untuk meredakan detak jantung yang menggila karena ucapan Mamat yang sayangnya terlihat serius itu, Vita akhirnya kembali memasak sesuatu, pura-pura sibuk mempersiapkan sarapan buat mereka.


"Mau sarapan apa?" tanya Vita mengaduk kulkas mencari bahan untuk memasak sarapan mereka.


Vita menyibukan diri dari godaan ulet bulu berjenis kelamin laki-laki tersebut yang meresahkan yang sedang duduk sambil menatap intens kepadanya.


Dirasa tak ada jawab dari Mamat, akhirnya Vita memutuskan membuat omelet sayur dan segelas susu rendah lemak untuk sarapan mereka.


Setelah selesai menata masakannya ke piring saji, Vita mengajak Mamat untuk menikmati makanan tersebut di kafe.


Dengan cuek Mamat kembali duduk di samping Vita, tanpa mempedulikan tatapan protes dari perempuan cantik yang mulai makan sarapannya.


"Cckk.... bisa nggak sih jangan nempel terus kayak gini Mat?" protes Vita tak tahan juga pada akhirnya atas kelakuan absurd Mamat.


Bukannya menjauh justru tangan Mamat memeluk pinggang Vita dengan posesif.


Vita curiga pasti ada sesuatu yang terjadi di Jakarta hingga Mamat berubah kayak ulet nempel terus ke tubuh Vita.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Vita lembut sambil menyodorkan sendok kemulut Mamat.


"Cuman lagi kesel aja!"


"Kesel kenapa? Something happened di Jakarta?" tanya Vita lagi.


"Ya begitulah," sahut Mamat enggan.


"Mau cerita?" tawar Vita.


"Not now," jawab Mamat cepat.


Dan Vita tak lagi bertanya, karena pada dasarnya Vita bukan cewek kepo yang ingin tahu apapun.


Sinta membuka pintu kafe lalu terbengong melihat sepasang manusia yang sedang berbucin ria di pojokan sana.


Karena tak enak hati Sinta memutuskan keluar kafe, dan karena terburu-buru Sinta tak melihat Susi yang sedang mendorong pintu untuk masuk ke kafe, alhasil keduanya bertabrakan dan jatuh berdentum, menabrak meja, brak.


Mamat dan Vita langsung berdiri, kaget melihat kedua karyawannya jatuh saling tumpang tindih.


"Kalian ngapain?" seru Vita langsung menghampiri mereka.


"Udah tahu jatuh pakai nanya," celetuk Susi tanpa sadar.


"Iya jatuh kenapa?" ulang Vita lagi sambil membantu mereka berdiri.


Susi dan Sinta saling pandang, mau bicara jujur tak berani, mereka bukan Retno yang suka bicara nyablak.


"Saya lihat bapak sama ibu lagi serius kayaknya, makanya saya mau keluar eh Susi mau masuk, jadi tubrukan." Akhirnya Sinta menjawab setelah terintimidasi dengan tatapan Mamat yang menatapnya, mencari kata yang tepat, tidak enak hati kalo mengatakan malu lihat Mamat yang nempel ke Vita kayak begitu.


"Oh... kamu malu lihat ulet bulu yang meresahkan nempel ke aku tadi ya?" tanya Vita nyengir.


"Hah!"


"Ulet bulu? Ulet bulu apaan?"


Sinta, Susi dan Mamat saling pandang tanpa tahu apa yang dibicarakan Vita barusan.

__ADS_1


__ADS_2